
Malamnya, seperti biasa Mawar menemani Fery belajar di ruang tengah. Kesabaran dan kesungguhan Mawar menemani dan mengajari Fery belajar, membuat Fery semakin rajin belajar yang membuat nilai pelajarannya semakin meningkat. Ditengah-tengah keseriusan mereka, mereka berdua selalu menyelinginya dengan obrolan dan candaan-candaan yang konyol, yang membuat mereka tidak merasa bosan belajar. Mawar yang selalu ceria, tau bagaimana caranya agar bisa membuat Fery pun ceria.
Sementara pak Wiryo, Bu Wiryo dan rangga sedang bersantai di ruang tamu, mereka bertiga sangat senang melihat keakraban Fery dan Mawar, yang sudah seperti saudara. Melihat itu semua, Bu Wiryo tiba-tiba saja muncul ide di pikirannya untuk menguliahkan Mawar.
"Pa, melihat Mawar yang pintar dan dia juga tamatan SMA, mama kok jadi pengen sekolahin dia ya, karena mama juga sudah anggap dia seperti anak mama sendiri. Menurut kalian gimana ya?" tanya Bu Wiryo pada suami dan anaknya Rangga.
"Kalau papa setuju-setuju saja, apalagi Mawar sudah banyak membantu keluarga kita, jadi papa rasa tidak ada salahnya kalau kita membalas kebaikannya dengan menyekolahkannya, ya mungkin itu bukan balasan yang seimbang, tapi siapa tau dia memang pengen sekolah lagi,"
Rangga masih terdiam, tapi sebenarnya dia sangat senang mendengar ucapan mamanya, dia sangat bersyukur kalau kedua orang tuanya perduli dan mau menyekolahkan Mawar.
"Menurutmu bagaimana Rangga, kamu juga pasti setuju kan dengan ide mama?"
"Pasti ma, Rangga sangat setuju dengan ide mama. Mawar itu gadis yang baik, pintar, rajin dan selalu perduli dengan kesusahan orang lain. Rangga rasa, dia pantas mendapatkan itu semua,"
"Baiklah, kalau semua sudah setuju, nanti saya akan bicara langsung padanya. Kamu sendiri bagaimana Rangga?"
"Bagaimana apanya ma?"
"Alah...kamu gak usah pura-pura gak ngerti, mama sama papa tau kalau kamu menyukai Mawar kan?"
"Iya Rangga, kami bisa melihatnya. Kami juga pernah muda, ya gak ma? tapi pesan papa, kalau memang kamu benar-benar mencintai Mawar, kamu harus sungguh-sungguh, jangan sekali-kali mempermainkan perasaannya. Kamu juga harus tambah semangat untuk sembuh, agar kamu bisa menjaga dan melindungi orang-orang yang kamu sayang. Mengerti kan maksud papa?"
"Iya pa, Rangga mengerti. Jadi mama dan papa beneran setuju kalau aku menjalin hubungan dengan Mawar?"
"Papa sama Mama nurut saja Rangga, kami tidak bisa ikut campur kalau masalah hati, dengan siapapun itu, asalkan kamu bahagia mama sama papa setuju-setuju saja. Kamu tidak perlu khawatir masalah itu, kami tidak pernah pilih-pilih menantu," ucap pak Wiryo.
__ADS_1
Rangga pun semakin merasa lega, dia benar-benar merasa bahagia saat ini. Tidak ada lagi masalah yang mengganggu pikirannya, dia benar-benar tidak sabar ingin menyampaikan semua ini pada Mawar. Agar Mawar tidak lagi merasa ragu dan bimbang dengan hubungan mereka,"
Sepertinya Fery dan Mawar sudah selesai belajar, Bu Wiryo langsung menyuruh Rangga mengatakan pada Mawar, agar Mawar menemuinya di ruang tamu. Rangga pun bergegas menghampiri Mawar.
"Kalian sudah kan belajarnya?"
"Sudah mas," jawab Mawar.
"Sayang, kamu disuruh mama ke ruang tamu, katanya dia mau ngobrol sama calon menantunya," goda Rangga.
"E...e...e, apa ini sayang-sayang. Aku masih disini lho, emang gak kelihatan," gerutu Fery.
"Apa sih sayang? kayak ada yang ngomong, tapi kok orangnya gak ada ya?"
"E...e..., mau kemana kalian? Iya deh maaf," ucap Rangga.
Mereka pun kembali duduk, Mawar yang sudah tidak tahan melihat tingkah mereka pun langsung tertawa. Sementara Rangga memasang wajah kesal pada adiknya, Fery.
"Kamu sekarang gitu ya sama kakak, dulu aja kemana-mana ikut kakak, setiap hari nyariin kakak, tapi sekarang semenjak ada Mawar, kamu lupain kakak ya, manja-manja terus sama Kak Mawar. Awas saja kalau kamu macam-macam sama pacarku ini," gerutu Rangga.
"Wuish...ada yang cemburu. hu...takut...udah...kak Rangga tenang saja, kita aman kok. Ya udah, aku mau taruh buku ku ke kamar dulu ya. Kak Mawar jangan deket-deket dia duduknya, bahaya, nanti kena virus cinta yang meresahkan," ejek Fery yang langsung pergi ke kamar.
Rangga dan Mawar pun hanya tersenyum mendengar ucapan Fery. Rangga pun kembali membahas soal yang tadi. Kalau Mawar disuruh menemui mamanya. Mawar pun jadi penasaran, tapi Rangga tidak mengatakan langsung pada Mawar, dia sengaja agar Mawar bisa mendengar langsung dari mamanya. Kalau ini murni keinginan mereka, bukan atas permintaannya. Karena Rangga ingin Mawar tau, kalau bukan hanya dia yang menyayanginya, tapi keluarganya pun semua menyayanginya.
"Ada apa sih mas, Mawar kok jadi degdegkan dan grogi ya?"
__ADS_1
"Udah sayang... gak pa-pa kok, sayang mau tau gak, gimana biar gak grogi?"
"Apa?" tanya Mawar.
"Cium dulu," jawab Rangga sambil mendekatkan pipinya ke wajah Mawar.
"Ish... gak perlu, dah hilang juga grogi ku," jawab Mawar sambil mendorong wajah Rangga dengan jemarinya dan langsung bergegas ke ruang tamu.
Sementara di ruang tamu, Bu Wiryo sudah mulai celingukan, menunggu Mawar yang belum datang-datang.
"Dasar Rangga ya, suruh panggil Mawar aja lama banget. Pasti dia godain Mawar dulu nih,"
"Sabar dong ma, kayak gak tau anak muda saja. Apa mama juga mau nih, papa godain?"
"Apa sih pa, malu ah," gerutu Bu Wiryo yang membuat pak Wiryo tersenyum.
Tidak lama kemudian Mawar datang dengan wajah malu-malu. Bu Wiryo pun langsung menyuruh Mawar duduk di dekatnya dan langsung menyampaikan niatnya untuk menyekolahkan Mawar ke jenjang yang lebih tinggi, jelas saja itu membuat Mawar sangat terkejut dan girang. Selama ini dia memang sangat mendambakan bisa melanjutkan lagi sekolahnya, namun dengan keadaan ekonomi keluarga yang sedang terpuruk, sudahlah pasti itu hanya sebatas mimpi, yang tidak mungkin jadi kenyataan.
"Jadi Mawar mau kan melanjutkan sekolah lagi, sayang lho, nak Mawar kan pintar, masih muda. Nak Mawar mau ya kuliah?"
"Tapi apa gak ngrepotin Bu Wiryo, saya tidak mau membebani Bu Wiryo, terus bagaimana juga dengan pekerjaan saya?"
"Saya gak merasa terbebani Mawar, justru kami senang kalau kami bisa membantumu mewujudkan cita-citamu. Kami malah berterimakasih sama kamu, karena kamu telah banyak membantu keluarga kami. Jadi ibu dan bapak tidak mau tau, pokoknya kamu harus kuliah, kejar mimpi kamu. Masalah pekerjaan, tidak usah kamu pikirkan, kamu bisa bantu-bantu bi Odah saja karena Rangga sekarang tidak harus dilayani seperti dulu lagi, Alhamdulillaah dia sekarang sudah mulai bisa berjalan meski masih menggunakan tongkat. Kamu tidak usah khawatir, kami akan tetap membayar mu sama seperti gaji mu selama ini, karena kamu bukan hanya bekerja, tapi kamu juga mengajari Fery bagaimana menjadi siswa yang bisa dibanggakan, semua itu sangat-sangat berarti bagi kami lebih dari pekerjaanmu sebagai Art di sini,"
Mawar tidak bisa berkata-kata lagi, dia benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang sebaik mereka, yang menyayanginya dan menghargainya walaupun dia hanya seorang Art. Melihat Mawar yang matanya mulai berkaca-kaca, Bu Wiryo langsung memeluk Mawar, agar Mawar bisa meluapkan semua perasaannya padanya. Pak Wiryo pun terharu melihat keduanya, dia pun tersenyum bahagia.
__ADS_1