
Setelah tiga hari Rangga dirumah sakit bersama mama dan papanya, akhirnya kedua orang tua Rangga harus mulai bekerja lagi, karena waktu cutinya sudah selesai dan seperti yang sudah direncanakan kalau selama pak Wiryo dan Bu Wiryo masih berada di kantor, sementara Mawar lah yang harus menemani Rangga di rumah sakit, dari pagi sampai sore, sementara sore sampai pagi waktunya pak Wiryo dan Bu Wiryo yang menemani Rangga.
Pagi itu, pertama kalinya Mawar datang ke rumah sakit dengan diantar oleh kang Usep. Sementara pak Wiryo dan Bu Wiryo sudah pulang lebih dulu sebelum Mawar sampai, karena mereka sudah harus bersiap-siap pergi ke kantor.
Kang Usep sendiri tidak bisa lama-lama berada di rumah sakit, dia hanya menemui Rangga sebentar setelah itu dia langsung pulang, karena sebagai satpam di rumah Rangga, dia harus tetap standby di rumah.
Setelah kang Usep pulang, tinggallah Rangga dan Mawar saja di ruangan itu. Mawar duduk di kursi dekat Rangga. Mereka saling terdiam, sebenarnya banyak sekali yang ingin mereka ucapkan, namun sepertinya mulut mereka terkunci sehingga mereka tidak mampu berkata-kata.
Mawar yang grogi dan serba salah, berniat pindah duduk yang agak jauh dari Rangga, namun dengan cepat Rangga mencegahnya.
"Mau kemana kamu?"
"Gak kemana-mana mas, cuma mau pindah duduk,"
"Duduk lagi disini, kalau kamu mau pindah duduk, sekalian pindah duduknya dirumah sana," gerutu Rangga yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Jauh banget mas, gimana caranya aku jagain mas Rangga kalau aku dirumah,"
"Nah itu kamu tau, kalau yang namanya jagain itu harus dekat, gak boleh jauh-jauh. Makanya kamu duduk disini aja, jangan jauh-jauh,"
Mawar pun kembali duduk didekat Rangga. Yang membuat Rangga tersenyum senang. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sesungguhnya mereka sama-sama saling merindukan satu sama lain, namun mereka terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Kamu kelihatan kurus, kamu mikirin aku terus ya?" goda Rangga pada Mawar.
"Siapa yang mikirin mas Rangga, PD banget kamu mas,"
Rangga mengubah posisi duduknya mendekati Mawar. Dia menyentuh kedua bahu Mawar.
Mawar hanya terdiam, jelas saja dia tidak bisa mengatakan itu semua, karena sesungguhnya dia sangat merindukan Rangga, sangat-sangat merindukan Rangga.
Rangga yang juga merindukan Mawar pun tidak bisa lagi menahan rasa rindunya yang selama ini menyiksanya. Tanpa berkata-kata lagi, Rangga langsung memeluk Mawar dengan erat. Yang membuat Mawar meneteskan air mata haru di pipinya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu Mawar, kamu juga merindukanku kan?"
"Sangat mas, aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah meneleponku?"
"Sengaja, karena aku pengen tau, seberapa rindunya kamu sama aku. Tapi kayaknya kamu beneran rindu ya, buktinya sekarang kamu terlihat lebih kurus,"
"Apa iya mas, tapi aku masih cantik kan?"
"Masih...di mataku kamu selalu terlihat cantik, apalagi kalau lagi ngambek. Kamu terlihat tambah cantik,"
"Gak percaya," jawab Mawar.
"Aku tidak pandai merayu ya?"
" Sama sekali tidak,"
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan merayu mu. Aku akan memelukmu saja seperti ini. Supaya kamu percaya sama aku.
Rangga memeluk Mawar dengan erat, seakan dia tidak ingin berpisah lagi dengan Mawar. Dia benar-benar sangat merindukan Mawar. Begitu pun Mawar, dia pun memeluk Rangga dengan erat, karena hanya ini yang bisa mengobati rasa rindu yang membelenggunya beberapa hari ini.