
Sesampainya di kantor, Rangga justru semakin gelisah, pikirannya benar-benar kacau. Di kepalanya, masih terus mengingat foto-foto Mawar dan Marsel, ditambah penjelasan dari Fery dan tadi pagi, Mawar bilang dia akan pergi meninggalkannya. Dia bingung, kalau dia benar-benar membenci Mawar, harusnya dia senang Mawar pergi meninggalkannya, tapi sekarang dia justru merasa gelisah dan tidak tenang.
Sekilas ada keraguan di hati Rangga, mungkinkah dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar dengan melakukan ini semua pada Mawar.
Rangga duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya, dia membayangkan, seandainya Mawar benar tidak melakukan apa-apa dengan Marsel, dia tidak bisa membayangkan, betapa menderitanya Mawar saat ini.
"Tidak! semua foto itu, sudah jelas semua itu benar kenyataannya. Rangga, berhentilah berpikir bodoh, tidak mungkin Mawar tidak melakukan itu, semua sudah jelas. Apa lagi yang kau harapkan dari Mawar Rangga, apalagi..." Rangga berbicara dengan dirinya sendiri. Tidak terasa dia pun menangis, dia tidak pernah menyangka ini semua akan terulang lagi dalam hidupnya, rasa sakit yang begitu hebat dia rasakan lagi, bahkan ini lebih sakit dari sebelumnya.
Sementara itu di kampus, Fery menemui Marsel, dia ingin menanyakan lagi soal kejadian yang menimpa Mawar beberapa hari yang lalu. Karena hanya Mawar dan Marsel yang mengetahui kejadian sebenarnya.
Setelah mencari-cari Marsel, akhirnya Fery melihat Marsel sedang duduk menyendiri di bawah sebuah pohon. Sepertinya Marsel sedang sedih, pasti itu karena dia belum melihat Mawar dari tadi pagi.
"Hai kak Marsel," sapa Fery yang membuat Marsel kaget.
"Hai, kamu Fer. Ada apa? Mawar kemana? kok aku belum lihat dia,"
"Kak Mawar gak berangkat," jawab Fery yang kemudian duduk di dekat Marsel.
"Ada apa, tumben kamu menemui ku?"
"Aku ingin kak Marsel cerita kejadian yang menimpa kak Mawar beberapa hari lalu, sampai kak Marsel bisa tau dan menyelamatkan kak Mawar,"
"Jadi gini..." Marsel pun mulai cerita dari awal bagaimana itu semua bisa terjadi.
Fery pun mendengarkan cerita Marsel dengan serius. Dari cerita itu, memang sepertinya ini sudah direncanakan, tapi siapa orang yang tega melakukan ini semua, pikir Fery. Dia pun menceritakan kepada Marsel tentang foto-foto itu, Marsel pun sangat terkejut mendengarnya, dia sangat khawatir dengan keadaan Mawar, yang pasti sangat menderita, ditambah Rangga yang sekarang membencinya. Marsel tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Mawar saat ini.
__ADS_1
"Kasihan Mawar, aku memang mencintai Mawar Fer, tapi aku bukan tipe orang yang suka merebut kekasih orang, apalagi memaksakan kehendak. Kalau Mawar bahagia dengan Rangga, aku pun ikut bahagia dan tidak akan mengganggu mereka. Tapi kalau Mawar menderita dengan Rangga, aku tidak akan terima itu, aku pun juga ikut merasakan penderitaannya,"
"Iya kak, aku mengerti maksud kakak. Sekarang kita sama-sama berusaha mencari tau, siapa yang sudah melakukan semua ini. Kak Marsel mau bantu aku kan?"
"Pasti itu Fer, aku pasti bantu kamu, karena ini juga menyangkut kehormatan ku, aku pun tidak terima difitnah melakukan hal semacam itu, apalagi dengan orang yang ku sayang,"
Mereka pun akhirnya sepakat untuk mencari tau siapa dalang dibalik semua ini.
Pulang dari kampus, Fery buru-buru ganti pakaian. Setelah selesai ganti pakaian, dia langsung pergi ke kamar Mawar. Tapi dia lihat Mawar tidak ada di kamarnya, dia pun langsung menuju ke dapur. Fery berpikir, pastilah Mawar ada di dapur membantu bi Odah. Namun di dapur hanya ada bi Odah, Fery pun langsung bertanya pada bi Odah dimana Mawar.
"Bi, kak Mawar kemana ya, di kamarnya kok gak ada. Apa dia pergi belanja ya bi?"
Bi Odah pun mulai bingung menjawab pertanyaan Fery, dia takut mengatakan kalau Mawar sudah pulang kampung tadi pagi. Bi Odah takut Fery marah, karena Fery pasti sangat syok dan sangat kehilangan Mawar.
"Itu den, kak Mawar nya itu, kak Mawar..."
"Itu den, kak Mawar nya pulang kampung. Katanya dia gak mau kuliah dan gak mau kerja lagi disini. Maaf den, sepertinya kak Mawar sedang ada masalah,"
Mendengar penjelasan bi Odah, Fery langsung berlari ke kamarnya, dia buru-buru mengambil handphonenya dan langsung menghubungi Mawar. Namun nomor handphone Mawar tidak aktif. Sepertinya dia sengaja mematikannya.
Fery pun langsung terduduk lemas ditepi ranjang. Tidak terasa Fery pun menangis, meski dia seorang cowok.
"Kak Mawar, kak Mawar jahat. Kak Mawar tega tinggalin Fery sendiri. Kenapa kak Mawar melakukan ini semua pada Fery, kak Mawar bohong, kak Mawar bilang kalau kak Mawar menyayangi Fery, tapi apa kenyataannya, kak Mawar tidak menyayangi Fery, kak Mawar tidak perduli dengan Fery. Kenapa kak? kenapa kakak tega ninggalin Fery, kenapa kak," ucap Fery yang terlihat sangat sedih.
Fery sangat kehilangan Mawar, karena selama ini dia sangat menyayangi Mawar. Fery pun langsung menyalakan Rangga atas kepergian Mawar. Dia pun langsung menghubungi Rangga. Di telepon, Fery memberi tahu pada rangga kalau Mawar sudah pulang ke kampung tadi pagi. Rangga pun sangat terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka kalau Mawar akan melakukan ini.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kebodohan kak Rangga yang tidak mau percaya dengan kak Mawar. Wajar dia pulang, untuk apa dia disini, kalau orang yang dia cintai sepenuh hati tidak lagi mencintainya,"
Rangga tidak menjawab ucapan Fery, dia justru menutup telponnya, yang membuat Fery semakin kesal.
Tubuh Rangga tiba-tiba terasa lemas, dia membenci Mawar, tapi mendengar Mawar pergi, dia sangat kehilangan Mawar. Rangga tidak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau dia masih sangat mencintai Mawar, meski mulutnya mencaci dan menghina bahkan merendahkan Mawar. Rangga benar-benar merasa tersiksa dengan perasaannya, dia tidak tau harus bagaimana menyikapi keadaan ini. Ada penyesalan dihatinya yang muncul setelah mendengar kalau benar-benar telah pergi meninggalkannya.
"Mawar, kamu benar-benar pergi. Bagaimana kalau ternyata aku yang salah," ucap Rangga lirih sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kepala Rangga terasa pusing, pikirannya pun sangat kacau.
Sementara itu, Rena dan teman-temannya sindy dan Mira. Mereka sedang merayakan kemenangan Rena, mereka bertiga sedang menikmati makan siang di sebuah restoran mewah. Rena mentraktir kedua temannya itu sepuas mereka. Rena pun sudah menceritakan semua rencana yang dia buat dengan hasil yang sangat memuaskan. Akhirnya dia berhasil membuat Rangga membenci Mawar dan menyingkirkan Mawar dari kehidupan Rangga.
"Hebat kamu Ren, kita gak nyangka kalau kamu bisa punya ide sebagus itu," ucap sindy.
"Iya, benar kata sindy. Pokoknya kamu the best lah. Tapi kamu kok gak ngajak-ngajak kita sih, ya gak sin?"
"Iya, kamu kok gak ngajak kita Ren, kamu gak percaya lagi ya sama kita?"
"Udah, kalian gak usah kebanyakan protes. Bukan gak percaya, tapi ini memang bukan keahlian kalian. Masa iya, aku suruh kalian culik Mawar, terus kalian berantem sama Marsel, emang kalian mau muka kalian ditonjok Marsel sampai bengeb. Kalian mau, iya?"
"Ih...ya enggak dong Ren," jawab sindy.
"Iya, mana mau kita ditonjok. Kalau dicium Marsel iya, kita mau. sampai bengeb pun gak pa-pa, ya gak Sin?" gurau Mira.
"Iya, bener banget tuh," jawab sindy.
"Dasar kalian tu ya, otak porno semua," gerutu Rena.
__ADS_1
Mereka pun tertawa, sambil menikmati hidangan yang super enak dan mahal itu.