BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 51


__ADS_3

Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Mawar langsung mandi. Selesai mandi dia lalu merias diri sealakadarnya, karena memang dia tidak pernah memakai makeup di wajahnya. Namun meski demikian, dia tetap terlihat cantik. Setelah itu, dia langsung menelpon kedua orang tuanya di kampung, untuk menyampaikan kabar gembira, kalau dia akan melanjutkan sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Dia pun menceritakan semua, yang membuat dia bisa mempunyai kesempatan itu.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit Mawar menelpon orang tuanya, tiba-tiba dia teringat Rangga yang dari tadi pagi belum makan dan masih didalam kamar. Mawar pun langsung mengakhiri percakapannya dengan kedua orang tuanya melalui telepon. Dia pun langsung bergegas ke kamar Rangga.


"Tok...tok, mas, mas Rangga?"


"Iya sayang, masuk aja," sahut Rangga dari dalam.


Mawar pun langsung masuk ke kamar Rangga. Dia melihat Rangga sedang latihan berjalan sendiri, dia berusaha untuk tidak memakai tongkat lagi. Meski itu tidak mudah dan membuatnya sering terjatuh, namun dia tidak menyerah. Dia berusaha terus berlatih tanpa perduli sesusah apapun itu.


"Sayang, latihannya udah dulu ya. Kita makan dulu yuk, sayang belum makan lho dari pagi. Ini udah hampir jam sepuluh,"


"Iya, aku kan nungguin kamu. Aku gak mau makan, kalau gak bareng kamu sayang," sahut Rangga.


"Gak bisa gitu dong mas, kalau aku beres-beres rumah dulu baru makan. Jadi aku sarapannya agak siang. Besok-besok mas Rangga makannya duluan aja,"


"Terserah, mau pagi, siang, malam. Aku pengen makan bareng sayang terus,"

__ADS_1


"Huh, kamu tu memang keras kepala mas, gak bisa di bilangin," gerutu Mawar.


"Jangan ngambek sayang. Ya udah, kita makan yuk,"


Rangga menghentikan latihannya dan langsung mengajak Mawar menuju ke ruang makan. Lalu mereka pun makan berdua.


"Sayang, ini yang masak kamu apa bi Odah?"


"Bi Odah lah mas, aku cuma bantu potong-potong sayur aja,"


"Lain kali aku pengen dong makan masakan kamu sayang, sayangku bisa masak gak?"


"Tenang aja, kalau sayang yang masak pasti enak kok," goda Rangga yang membuat Mawar tersenyum malu.


Selesai makan, Rangga menuju ruang tengah. Sementara Mawar membereskan bekas makan mereka dan langsung mencuci piring di dapur. Setelah itu dia ikut Rangga bersantai di ruang tengah. Mawar sengaja duduk berjauhan dengan Rangga, karena kalau berdekatan, sudahlah pasti Rangga tidak akan berhenti menciumnya.


Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Mawar pun langsung bergegas menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Sesampainya di ruang tamu, Mawar langsung membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang datang. Seorang wanita cantik, putih yang tingginya sama dengannya.

__ADS_1


Mawar langsung mengenali gadis itu, karena gadis itu yang ada di foto yang dia lihat waktu itu. Sudahlah pasti dia itu Rena, mantan pacar Rangga. Namun Mawar pura-pura tidak mengetahuinya.


"Maaf, mbak siapa ya dan mau cari siapa?" tanya Mawar.


"Aku Rena, mantan pacar Rangga. Kamu sendiri siapa?" tanya Rena balik, yang juga penasaran dengan Mawar.


"Aku Art disini,"


"O...cuma Art,"


"Mari, silahkan masuk. Duduk mbak, aku panggil Rangga dulu,"


Rena pun masuk dan langsung duduk di ruang tamu. Sementara Mawar menemui Rangga dengan wajah yang cemberut. Ada rasa kesal dan juga heran, kenapa Rena bisa datang lagi menemui Rangga, padahal dia dulu sudah meninggalkan Rangga begitu saja.


"Mas, ada yang nyariin tu diruang tamu,"


"Siapa?"

__ADS_1


"Gak tau, lihat aja sendiri," ucap Mawar yang langsung pergi ke dapur.


Sampai di dapur, Mawar yang merasa cemburu langsung menemui bi Odah. Dia langsung menyiapkan minuman untuk Rena, tapi dia meminta bi Odah yang memberikannya pada Rena. Bi Odah pun menurutinya, sementara bi Odah belum tau, kalau yang datang bertamu itu Rena, mantan pacar Rangga.


__ADS_2