
Rangga pun menangis di pelukan Mawar. Sebuah pelukan hangat yang selama ini dia butuhkan dalam keterpurukannya, yang seharusnya dia dapatkan dari kekasihnya Rena yang justru malah pergi meninggalkannya. Kini, dia justru meluapkan semua yang dia rasakan kepada seorang gadis yang hanya seorang Art.
"Aku sudah lelah seperti ini Mawar, aku sudah tidak sanggup lagi, aku benci dengan diriku sendiri yang tidak ada artinya sama sekali,"
"Tenanglah den, jangan pernah bicara seperti itu lagi ya. Siapa bilang den Rangga sudah tidak ada artinya lagi, den Rangga sangat berarti bagi kedua orang tua den Rangga, bagi Fery. Bagi mereka den Rangga adalah harta yang tak ternilai harganya,"
"Mawar,"
"Iya den, ada apa?"
"Jangan panggil aku den, panggil saja aku mas,"
"Iya mas, ada apa?"
"Jangan lepaskan pelukanmu ya,"
"Iya mas," jawab Mawar yang masih tetap memeluk Rangga.
__ADS_1
Entah apa yang ada dipikiran mereka berdua. Mereka saling membenci, saling mengejek bahkan terkadang saling menghina. Namun ketika salah satu dari mereka sedang bersedih dan terpuruk, mereka berusaha saling menghibur dan saling menguatkan. Memang aneh, tapi itulah kenyataannya. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat mungkin inilah istilah yang tepat untuk Rangga dan Mawar.
Setelah kurang lebih lima belas menit Mawar memeluk Rangga, Mawar tiba-tiba melepaskan pelukannya sambil tertawa. Rangga tau kalau Mawar sedang menertawakannya, karena melihatnya memegangi perutnya yang keroncongan.
"Kenapa? mas Rangga lapar ya? ya udah, tunggu ya mas, aku ambilin makan dulu,"
"Tunggu Mawar," ucap Rangga sambil memegang tangan Mawar.
"Iya, ada mas?"
"Iya mas, mas Rangga sangat berarti bagiku," jawab Mawar tegas.
"Kenapa? apa alasannya?"
"Ya karena mas Rangga dah bayarin utang aku,"
"Hanya itu alasannya?"
__ADS_1
"Ya iya dong mas, memang apa lagi? dah ah, aku mau ambil makan dulu," jawab Mawar yang langsung pergi meninggalkan Rangga.
Rangga hanya tersenyum melihat kepergian Mawar, dia tau kalau Mawar juga menyukainya. Tapi dia sengaja membiarkan semua seperti ini dulu, agar mereka berdua bisa saling mengenal dan saling memahami satu sama lain, sampai mereka benar-benar yakin dengan perasaan mereka. Karena Rangga tidak mau masa lalunya yang suram terulang lagi. Dulu dia sangat mencintai Rena, tapi dia belum memahami bagaimana Rena, sampai akhirnya dia tidak menyangka kalau Rena akan meninggalkannya demi pria lain yang lebih sempurna darinya.
Tidak lama kemudian, Mawar kembali membawa makanan yang diambilnya. Mawar memberikan makanan itu pada Rangga dan akan bergegas pergi lagi. Namun buru-buru Rangga mencegahnya.
"Eh...kamu mau kemana?"
"Ya mau keluar dong mas, kan aku sudah ambilin makanan, emang mas Rangga mau apa lagi?"
"Aku mau disuapi, kan tanganku sakit abis jatuh,"
Mawar pun kembali lagi dan mendekati Rangga, Rangga pun sudah tersenyum bahagia, karena dia pikir Mawar beneran akan menyuapinya. Namun setelah didekat Rangga, Mawar berbisik pada Rangga:
"Bodo amat," ucap Mawar, yang membuat wajah Rangga seketika berubah cemberut.
Sementara Mawar langsung pergi meninggalkannya. Dia tidak perduli dengan Rangga, dia sengaja memberikan hukuman pada Rangga atas tindakannya tadi yang sangat ceroboh. Agar Rangga sadar kalau yang dia lakukan tadi justru akan membuatnya semakin menderita fisik, yang akan semakin menyusahkan dirinya sendiri. Mawar pun menuju meja makan, dia memilih menemani Fery yang juga akan makan sepulang dari sekolah.
__ADS_1