
Rangga berbaring di atas ranjang, pikirannya tertuju pada Mawar yang membuatnya gelisah. Dia tidak bisa membohongi perasaannya, kalau dia sangat merindukan Mawar. Tiba-tiba dia teringat pada Marsel, dia pun langsung berniat menemui Marsel malam ini juga, untuk menanyakan langsung pada Marsel tentang hubungannya dengan Mawar. Rangga mengambil jaketnya dan bergegas pergi ke kafe tempat Marsel bekerja, tanpa mempedulikan papa, mamanya dan juga Fery yang masih berada di ruang tamu.
"Rangga, mau kemana kamu?" tanya pak Wiryo.
Rangga tidak menjawab, dia terus saja berjalan keluar rumah.
"Sudahlah pa, biarin aja. Mungkin dia suntuk di rumah karena banyak pikiran,"
"Iya pa, biarin aja. Nanti juga pulang sendiri. Ya udah, Fery mau ke kamar dulu pa, ma. Fery mau coba telpon kak Mawar lagi, siapa tau sekarang udah bisa dihubungi,"
"Iya, nanti kalau bisa ditelpon panggil mama ya Fer. Mama juga mau bicara sama Mawar. Mama pengen tau kabar dia di sana,"
"Iya ma," jawab Fery yang langsung bergegas pergi ke kamarnya.
Sementara itu, Rangga pun tiba di kafe tempat Marsel dan teman-teman bandnya bekerja. Rangga duduk disalah satu kursi pengunjung. Terlihat Marsel yang sedang tampil bersama teman- temannya. Rangga pun sangat menikmati lagu yang dibawakan Marsel yang memang banyak disukai para remaja, yang membuat kafe ini tidak pernah sepi pengunjung.
Marsel yang melihat kedatangan Rangga, sudah bisa menebak kalau Rangga ingin bertemu dengannya. Selesai membawakan satu buah lagu, Marsel dan teman-temannya break dulu. Marsel pun langsung menemui Rangga.
"Akhirnya kamu datang juga, aku kira kamu sudah tidak perduli lagi dengan Mawar,"
"Sudahlah, aku kesini bukan ngajak ribut. Aku mau kamu jawab dengan jujur, sejauh mana hubungan kamu dengan Mawar?"
"Rangga...Rangga... ternyata kamu belum bisa memahami Mawar, kamu belum mengenal Mawar. Kamu benar-benar belum pantas menjadi kekasihnya. Aku saja yang baru mengenal Mawar, aku sudah paham tentang dia, tentang pribadinya. Harusnya kamu malu dengan dirimu sendiri, apa ini yang kamu bilang cinta Rangga. Kamu malah menjauh bahkan meninggalkannya saat dia sangat membutuhkanmu. Kamu benar-benar gila Rangga. Kamu tau, betapa ketakutannya dia, saat dia berjuang mempertahankan kesuciannya. Tidak bisakah kamu bayangkan saat pakaiannya mulai dibuka paksa oleh mereka, tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa meski batinnya meronta, menjerit ketakutan, tidak bisakah kau bayangkan itu Rangga!" bentak Marsel pada Rangga. Yang membuat Rangga tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
"Aku benar-benar laki-laki tidak berguna, aku benar-benar laki-laki bodoh. Aku lebih percaya foto-foto itu dibanding orang yang aku cintai. Aku benar-benar bodoh Marsel, aku tidak pantas untuk Mawar,"
"Sudahlah Rangga, aku memang mencintai Mawar. Tapi maaf saja, aku bukan tipe orang yang suka merebut kekasih orang. Foto-foto itu sengaja diambil sebagai senjata memisahkan kalian. Aku tidak melakukan apa-apa dengan Mawar, aku benar-benar hanya menyelamatkannya dan saat aku memeluknya, kau bisa bayangkan sendiri keadaannya saat itu, aku butuh waktu yang lumayan lama untuk membuatnya tenang dan menghilangkan ketakutannya. Aku memeluknya tidak ada maksud lain selain hanya ingin menenangkannya,"
"Kalau begitu maafkan aku Marsel, aku salah menilai mu. Aku kira kamu akan merebut Mawar dariku. Tapi ternyata kamu laki-laki sejati. Aku benar-benar malu padamu,"
"Sudahlah, sekarang kamu sudah tau kebenarannya. Jadi tunggu apalagi, pulanglah dan minta maaf kepada Mawar,"
"Percuma Sel, kebodohan ku sudah membuat Mawar pergi. Aku sudah sangat menyakiti hatinya, dia sudah kembali ke kampungnya dan mungkin dia tidak mau lagi melihatku,"
"Kasihan Mawar, padahal dia sangat mencintaimu Rangga. Aku tau itu,"
"Aku benar-benar menyesal Sel, aku laki-laki bodoh yang tidak berguna,"
"Thanks, kamu juga ya,"
Marsel dan teman-temannya pun membawakan lagu berikutnya. Sementara Rangga beranjak dari tempat duduknya meninggalkan kafe itu dan pulang ke rumah.
Disepanjang perjalanan, Rangga tidak berhenti memikirkan Mawar. Dia benar-benar sangat menyesal dengan sikapnya selama ini yang bodoh dan juga egois.
Sesampainya di rumah, Rangga langsung masuk ke kamarnya. Semua orang pun sudah tidur di kamar masing-masing. Rangga buru-buru mengambil handphonenya, lalu mencoba menghubungi Mawar, namun Mawar tidak bisa dihubungi. Beberapa kali Rangga mencoba, namun hasilnya sama saja.
Rangga menaruh handphonenya, dia mengingat lagi semua yang diucapkan Marsel. Dia benar-benar merasa malu dengan Marsel. Marsel bisa sangat memahami penderitaan Mawar, sedangkan dia justru membuat Mawar semakin tersiksa dan menderita.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku. Aku sudah menyakitimu, menghinamu bahkan merendahkan mu. Kamu pasti sangat menderita sayang, dengan sikapku yang semena-mena ini. Sayang, aku menyesal, maafkan aku sayang," ucap Rangga lirih, yang menyesali perbuatannya.
Keesokan paginya, Fery sudah siap berangkat kuliah. Dia beranjak dari kursi makannya dan siap berangkat. Tiba-tiba Rangga datang dan langsung meminta maaf padanya.
"Maafkan kakak Fer, kak Rangga sadar, kak Rangga salah. Harusnya kakak mendengarkan penjelasan mu, kak Rangga benar-benar menyesal Fer, kak Rangga minta maaf,"
"Kak Rangga tidak perlu minta maaf sama Fery, harusnya kak Rangga minta maaf sama kak Mawar, karena disini dia yang sangat menderita, bukan Fery. Kak Mawar yang tertindas, bukan Fery. Jadi percuma kak Rangga minta maaf sama Fery. Buang-buang waktu saja," ucap Fery yang langsung meninggalkan Rangga.
Rangga pun hanya bisa membiarkan Fery pergi dan tidak sedikitpun menegur sikap Fery. Rangga bisa memahami bagaimana perasaan Fery saat ini. Pastilah dia sangat membencinya dan juga sangat kehilangan Mawar.
Sebelum berangkat ke kantor, Rangga menemui bi Odah. Dia menanyakan kabar Mawar kepada bi Odah. Namun hasilnya nihil, Mawar juga tidak pernah menghubungi bi Odah. Rangga semakin gelisah, dia takut terjadi apa-apa dengan Mawar.
Sementara itu di kampus, Fery kembali menemui Marsel. Fery mengajak Marsel membahas lagi soal Mawar. Fery masih tetap berusaha mencari tau siapa otak dibalik semua ini. Dia semalaman memikirkan bagaimana caranya mencari tau siapa yang merencanakan ini semua.
"Kak Marsel masih ingat gak, waktu itu posisi kak Marsel dimana kok bisa tau, kalau kak Mawar dibawa oleh tiga berandalan itu?" tanya Fery.
Marsel pun mengingat kembali posisinya waktu itu dan dia ingat kalau waktu itu dia sedang duduk menyendiri di bawah pohon didepan kampus ketika tiba-tiba seorang cewek memberitahunya kalau Mawar dibawa tiga pemuda ke gudang. Marsel pun mengatakan itu semua pada Fery.
"Berarti yang harus kita lakukan sekarang, cari cewek yang memberitahu kak Marsel kalau kak Mawar dibawa tiga pemuda itu. Bisa jadi dia kunci dari semua kejadian ini. Coba kak Marsel pikirkan, kenapa dia langsung menuju kepada kak Marsel, yang posisinya sangat jauh dari gudang, padahal yang berada tidak jauh dari gudang kan banyak mahasiswa yang duduk-duduk dan bahkan ada yang ngobrol beramai-ramai. Kenapa dia gak minta tolong pada mereka, kenapa harus kak Marsel. Fery yakin cewek itu pasti suruhan orang yang merencanakan ini semua. Bener kan kak Marsel?"
"Iya, yang kamu katakan itu masuk akal Fer. Tapi kita harus hati-hati, jangan sampai rencana kita menyelidiki masalah ini diketahui musuh,"
"Iya, kak Marsel benar. Kita memang harus lebih berhati-hati,"
__ADS_1
Mereka pun menyudahi obrolan mereka. Untuk sementara, Fery hanya bisa menunggu Marsel menemukan cewek yang waktu itu memberitahunya tentang Mawar.