
Sementara itu di ruang tengah, Fery dan Rangga masih ngobrol berdua sambil nonton acara televisi.
"Ada apa sih kak, mama sama papa kok tumben ngajak ngobrol kak Mawar. Apa ada yang penting ya, yang mereka bahas?"
"Iya, mama sama papa mau kuliahin Mawar,"
"O ya? berarti kita bisa sekalian bareng dong kuliah nya. Besok aku terakhir ujian kelulusan. Wah, pas banget nih. Sebenarnya Fery juga punya pikiran mau ajak kak Mawar kuliah, soalnya kak Mawar itu pintar banget lho kak orangnya. Aku aja salut banget sama dia, tapi Fery gak berani ngomong sama mama dan papa. Kak Rangga ya yang minta sama papa dan mama untuk sekolahin kak Mawar lagi?"
"Enggak, ini ide mama,"
"Iya lah, mana mungkin kak Rangga punya pikiran seperti itu, adanya pikiran mau nikahin kak Mawar, iya kan?"
"Belum juga lah, karena kakak pasti tidak akan bisa membahagiakannya dengan keadaan kakak yang seperti ini. Kakak pengen sembuh dulu, barulah akan menikahinya,"
"Iya,itu pun kalau kak Mawar mau," ejek Fery yang membuat Rangga kesal dan langsung menjewer kuping Fery.
"Aw...aw! sorry deh kak sorry..."
Sementara pak Wiryo dan Bu Wiryo sudah selesai ngobrol dengan Mawar, mereka pun pergi ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Mawar masih duduk di ruang tamu, dia membaringkan tubuhnya di sofa, sambil bibirnya tersenyum bahagia. Dia masih belum percaya kalau dia akan kuliah, sesuatu yang sangat dia impikan dari dulu. Membayangkan saja dia sudah sangat senang, apalagi nanti kalau sudah beneran kuliah.
Sementara itu, Rangga yang menunggu Mawar tidak juga kembali ke ruang tengah pun menjadi penasaran, dia pun menyusul Mawar ke ruang tamu. Dilihatnya Mawar sedang tiduran di sofa sambil senyum-senyum.
"O...ini anak, ditungguin dari tadi malah nyantai disini ya," gerutu Rangga sayang pada Mawar.
Rangga lalu menghampiri Mawar, Mawar yang sedang asyik melamun tidak menyadari kehadiran Rangga yang sudah berada disampingnya. Akhirnya lamunannya buyar seketika karena ciuman mesra yang diberikan Rangga di pipinya. Yang membuat Mawar terkejut dan langsung duduk.
"Ih...mas Rangga bikin kaget Mawar saja,"
"Sayang sih, ditungguin dari tadi malah asyik melamun disini. Emang sayang lagi mikirin apa sih, sampai senyum-senyum gitu?"
"Aku mau kuliah mas, aku seneng banget. Mas Rangga pasti udah tau kan?"
"Iya, aku udah tau. Itu semua ide mama. Bukan cuma aku saja, mereka semua juga sangat menyayangimu. Satu lagi sayang, mereka juga sudah menyetujui hubungan kita, jadi kamu gak usah ragu dan bimbang lagi dengan hubungan kita ya,"
__ADS_1
Mawar hanya tersenyum dan mengangguk, tetap saja dia harus bisa menjaga sikapnya dengan keluarga Rangga yang sudah terlalu baik dan sudah banyak membantunya. Mereka pun akhirnya ngobrol dan bercanda seru di ruang tamu, sambil sesekali Rangga mencuri-curi mencium pipi Mawar yang duduk di sampingnya.
"Ih...mas Rangga jangan cium-cium Mawar terus ah, gak enak lho nanti dilihat Fery. Kasian juga dia nonton tv sendirian tuh. Kita ke ruang tengah yuk mas,"
"Gak mau, aku mau disini sama kamu. Aku masih pengen cium-cium kamu sayang,"
Mawar tidak memperdulikan ucapan Rangga, dia beranjak dari tempat duduknya dan akan berjalan menuju ke ruang tengah, Namun tiba-tiba Rangga menarik tangannya, yang membuat Mawar duduk kembali tepat di pangkuan Rangga. Rangga pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung memeluk tubuh Mawar agar Mawar tidak meninggalkannya.
"Mas Rangga apaan sih, gak enak nanti dilihat Fery mas. Lepasin mas, malu tau mas," ucap Mawar sambil berusaha melepaskan pelukan Rangga.
"Iya aku lepasin, tapi cium dulu," ucap Rangga sambil mendekatkan pipinya.
Mawar pun mencium pipi Rangga, karena dia pengen cepat-cepat melepaskan pelukan Rangga. Tapi bukannya melepaskan pelukannya dan beranjak ke ruang tengah, Rangga malah meraih kedua pipi Mawar dan langsung mencium bibir Mawar. Keduanya pun tidak bisa menahan lagi hasrat birahi mereka. Mawar pun membalas ciuman Rangga dengan mesra membuat Rangga semakin merasa bergairah yang membuat tangannya mulai meraba ke tubuh Mawar hingga ke bagian depan.
Saat Mawar mulai merasakan sentuhan lembut di bagian dadanya yang hampir membuatnya mendesah, dia langsung menghentikan ciumannya dan langsung memindahkan tangan Rangga ke pinggangnya.
"Udah, tangannya jangan nakal, disini aja, jangan sampai kemana-mana,"
"Maaf, tanganku nakal ya? Dia gak nakal, cuma penasaran aja,"
"Iya maaf, gak lagi-lagi kok," jawab Rangga sambil memeluk Mawar yang masih berada di pangkuannya.
"Gak bosan peluk Mawar terus kayak gini?"
"Bosan enggak, tapi lama-lama sayang berat juga ya," goda Rangga, yang membuat Mawar ngambek dan langsung melepaskan pelukannya lalu kembali duduk di sofa.
Melihat Mawar yang sedang ngambek, membuat Rangga semakin gemas dengan tingkah Mawar dan wajahnya yang juga semakin terlihat cantik dan juga bikin gemes.
"Sayang...jangan ngambek dong... bercanda aja sayang..."
"Bo'ong, bilang aja Mawar gendut makanya Mawar berat,"
"Enggak sayang...kamu gak gendut kok, gak berat juga, aku tadi cuma bercanda sayang. Ya udah, sini duduk dipangkuan aku lagi ya," bujuk Rangga pada Mawar.
__ADS_1
"Gak mau,"
"Ya udah kalau gak mau, sini peluk dulu ya biar gak ngambek lagi.
Rangga pun memeluk Mawar, sambil membelai-belai rambutnya. Sambil sesekali mencium kening Mawar. Rangga hanya bisa tersenyum melihat tingkah Mawar yang begitu manja padanya, karena jelas-jelas tubuh Mawar tidak gendut sama sekali, dia justru memiliki tubuh yang langsing dan seksi yang membuat pria akan terpesona melihatnya, apalagi ditambah wajahnya yang cantik alami, benar-benar sempurna.
Mawar begitu nyaman berada di pelukan Rangga, seperti tidak ingin melepaskan lagi pelukan Rangga dari tubuhnya. Pelukan Rangga benar-benar membuatnya tenang, yang membuat rasa kesalnya hilang seketika dan dia juga sampai lupa dengan Fery yang duduk sendiri di ruang tengah, bahkan dia tidak lagi mengajak Rangga pindah ke ruang tengah lagi.
"Mas?"
"Apa sayang?"
"Kamu beneran cinta kan sama aku?"
"Iya sayang...aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu, kenapa?
"Gak pa-pa, mas Rangga jangan pernah tinggalin Mawar ya,"
"Gak akan sayang...aku gak akan pernah tinggalin kamu. Aku janji,"
"Makasih ya mas,"
"Iya sayang,"
Tidak terasa sudah dua puluh menit mereka berpelukan. Rangga pun melepaskan pelukannya. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Fery pun sudah tidak ada lagi di ruang tengah, sepertinya dia pun sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah malam sayang, tidurlah. Apa mau aku temani?"
"Mulai deh, kamu mas,"
"Gak sayang, bercanda aja kok. Insyaallah aku bisa tahan kalau masalah itu. Tidurlah, aku mau nonton televisi dulu diruang tengah,"
"Iya mas, kamu juga jangan malam-malam ya tidurnya,"
__ADS_1
"Iya sayang,"
Mawar pun beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas pergi ke kamarnya. Sementara Rangga pergi ke ruang tengah, dia berbaring di sofa sambil menonton acara televisi.