
Paginya seperti biasa, Pak Wiryo dan Bu Wiryo sudah lebih dulu berada di meja makan. Mereka pun langsung menikmati sarapan pagi mereka, tidak lama kemudian Fery pun ikut duduk di meja makan. Fery tidak langsung makan, sudah lah pasti dia menunggu kakaknya, Mawar.
"Pa, kenapa kak Rangga gak ikut kerja aja di kantor. Sayang kan kalau S2 nya di anggurin,"
"Papa sudah tawarin dia, tapi katanya nanti dulu. Katanya sih belum siap, papa juga tidak mau memaksanya, karena pekerjaan kalau dikerjakan dengan terpaksa, biasanya hasilnya kurang bagus. Biarkan dia menikmati kesembuhannya dulu, kasihan kakakmu baru saja terlepas dari beban hidup yang selama ini menyiksanya. Biarkan dia menata hatinya dulu, jangan dulu memaksakan dia untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan. Papa yakin, dia anak yang bertanggung jawab, hanya saja sekarang ini dia masih perlu waktu untuk melangkah," jelas pak Wiryo.
"Iya, papa benar,"
"Ya udah pa, ayo kita berangkat. Papa sama Mama duluan ya Fer. O iya, kamu gak pakai mobil aja Fer?"
"Gak ah ma, enak pakai motor,"
"Ya udah, kami berangkat dulu ya," ucap pak Wiryo.
"Iya pa,hati-hati."
Wajar kalau Mawar selalu tertinggal di meja makan, karena sebelum berangkat dia bantu-bantu bi Odah dulu di dapur, selesai menyiapkan sarapan barulah dia pergi mandi dan bersiap-siap.
"Mawar belum siap Fer?" tanya Rangga yang juga baru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Belum kak, mungkin sebentar lagi,"
"Ya udah deh, coba kakak susulin ya,"
"E...e...e... gak perlu kak, bentar lagi juga kak Mawar kesini. Kalau kak Rangga susulin bukannya cepat, yang ada tambah lama. Dasar tukang modus," gerutu Fery.
"Dasar kamu Fer, Kak Rangga suruh kamu awasin cowok-cowok di kampus yang dekatin Mawar, bukannya malah ngawasin kakak. Gimana sih kamu ini,"
"Kak Rangga juga perlu diawasin, karena kak Rangga kayaknya lebih berbahaya daripada cowok-cowok di kampus itu," ejek Fery yang membuat Rangga merasa kesal.
Sementara Fery hanya tersenyum melihat Rangga yang cemberut. Fery tau kalau kakaknya pasti pengen ketemu Mawar, Rangga pasti sudah rindu, karena semalaman dia dicuekin Mawar, yang justru ngobrol dengan Fery dan mama, papanya sampai larut.
"Ngomong apa kamu, anak kemaren sore juga. Tau apa kamu soal nikah?"
"Nikah ya untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, contohnya ya seperti kakak ini, kalau dah gak tahan nikah aja, bener kan?"
"Itu memang benar, tapi hati kita juga harus siap Lillahita'alla . Kalau cuma sekedar karena hawa nafsu, itu gak baik Fer,"
Fery terdiam mendengar penjelasan kakaknya, tidak lama kemudian Mawar menghampiri mereka, dengan sedikit tergesa-gesa.
__ADS_1
"Fery...kok belum makan sih. Gak usah tungguin kak Mawar, soalnya kak Mawar lama,"
"Tau tuh sayang, manja banget dia,"
"Makannya gak seru, kalau gak bareng kakak," jawab Fery.
"Ya udah, yuk kita makan,"
"Sayang, aku kok dicuekin sih,"
"Emang mas Rangga mau apa?"
"Mau dijewer paling kak kupingnya," timbal Fery sambil tertawa.
"Dasar kamu Fer, senang ya kalau kakak menderita,"
"Udah sayang, gak usah ngambek dan gak usah lebay. Kita buru-buru nih, takut terlambat,"
Selesai sarapan, Fery keluar duluan, dia menyiapkan motornya dulu, dan ini kesempatan untuk Rangga melepas sejenak rasa rindunya. Dia memeluk Mawar dan mencium bibir mungil Mawar dengan mesra.
__ADS_1