
Belum ada lima menit, Rangga berada di kamar mandi. Dia sudah memanggil Mawar. Mawar pun buru-buru menuju ke kamar mandi.
"Ada apa den? den Rangga udah selesai mandinya?" tanya Mawar, dari balik pintu.
"Udah,"
Mawar pun langsung membuka pintu kamar mandi, dan membawa Rangga keluar dari kamar mandi.
"Cepat banget sih den mandinya, belum juga lima menit,"
"Inilah bedanya aku sama kamu. Mau cepat, mau lama, mau mandi, mau enggak, tetap aja aku ganteng. Beda sama kamu, kamu mandi sepuluh jam pun, tetap aja gitu-gitulah,"
__ADS_1
Mawar tidak lagi ambil pusing ucapan Rangga, karena sepertinya dia sudah terbiasa dengan ucapan Rangga yang tidak pernah menyenangkan itu.
"Den Rangga, sarapan di meja makan yuk. Kan sepi gak ada orang, dan lagi pula itu lebih seru lho, den Rangga bisa pilih sendiri makanan yang disukai den Rangga,"
Mawar memang berniat membantu Rangga untuk bangkit dari keterpurukan dan dari keputusasaan, meski itu sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun dia akan terus berusaha semampunya, untuk bisa mengembalikan Rangga yang dulu, yang sangat dirindukan keluarganya.
Rangga hanya terdiam, dia tidak menjawab ajakan Mawar. Dan Mawar pun tidak bisa memaksanya.
"Ya udah kalau gak mau, tunggu dulu ya den, aku ambil sarapannya dulu. Tapi jangan salahin kalau aku ambilin sayur sop lagi," ucap Mawar sambil melangkah keluar. Namun tiba-tiba Rangga memanggilnya.
Tanpa pikir panjang, Mawar pun langsung membawa Rangga menuju ke meja makan. Dan memang benar yang dikatakan Mawar, Di meja makan tersedia beberapa menu masakan, dan Rangga bisa memilih langsung mana yang dia sukai. Dan dia juga bisa mengambil semaunya, menu yang dia sukai. Dan Mawar pun ikut menemaninya sarapan.
__ADS_1
Selesai sarapan, Rangga meminta Mawar membawanya kembali ke kamar. Sebenarnya, Mawar ingin Rangga tetap berada di luar. Tapi dia tidak berani mengatakannya, karena dia takut Rangga akan memarahinya, karena terlalu mengaturnya.
Mawar pun membawa Rangga kembali ke kamarnya. Namun ketika melewati kamar Fery, Rangga meminta Mawar berhenti. Dan memintanya membawa masuk ke kamar adiknya, Fery. Mawar pun menuruti permintaan Rangga.
Ketika memasuki kamar Fery, mata Rangga tidak berhenti menatap seluruh sudut ruangan itu. Dan tidak ada yang berubah sedikit pun. Foto mereka berdua, yang sedang memakai baju balap. Dengan motor mereka yang terlihat sangat mewah dan berkelas. Disampingnya lagi, ada foto masa kecil mereka yang tidak memakai baju dan hanya memakai celana pendek itu. Foto yang sederhana namun penuh arti dan kenangan.
Dan Mawar pun tidak menyia-nyiakan kesempatan mengejek Rangga, ketika melihat foto Rangga dan adiknya Fery.
"Ini yang tinggi ini beneran den Rangga?" tanya Mawar sambil tertawa lepas.
Rangga yang paham, kalau dia akan jadi bahan ejekan Mawar pun hanya bisa terdiam. Mau tidak mau, dia harus mendengar ucapan Mawar yang pasti akan membuatnya kesal. Dan benar saja, Mawar langsung mengejek Rangga habis-habisan.
__ADS_1
"Kamu kok dekil banget sih den waktu masih kecil. Mana kurus, rambutnya merah, itu apaan lagi yang dipegang den Rangga," ucap Mawar sambil pura-pura tidak tau yang dipegang Rangga. Mawar pun melihat foto itu dari dekat, dan dia pun langsung tertawa terbahak-bahak.
"Den Rangga bawa boneka Barbie? buat apa den? den Rangga suka main sama anak perempuan ya? berarti den Rangga dulu gemulai dong, hahaha..." tawa kemenangan terlihat jelas di wajah Mawar. Yang membuat Rangga hanya terdiam menahan malu bercampur kesal.