BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 86


__ADS_3

Dengan menahan rasa sakit disekitar wajahnya, Rangga melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang ada di mulutnya. Setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi dan langsung berbaring di atas ranjang. Dia masih belum percaya, Fery akan melakukan ini padanya. Dia benar-benar heran, bagaimana Fery bisa sampai seperti ini hanya demi membela Mawar.


Rangga juga menjadi gelisah mendengar penjelasan Fery, saat ini pikiran Rangga benar-benar kacau, dia tidak tau harus bagaimana, disisi lain dia sudah melihat sendiri bukti perbuatan Mawar dengan Marsel, tapi tiba-tiba Fery datang dengan semua ceritanya, yang terdengar seperti semua serba kebetulan.


Sepertinya Rangga masih tetap dengan pendiriannya, dia tetap tidak percaya kalau Mawar hanya difitnah, meski Fery sudah menjelaskan panjang lebar padanya.


Malam itu pun, mereka bertiga tidak ada yang keluar kamar, tidak ada makan malam, tidak ada ngobrol bareng apalagi bercanda bersama.


Bi Odah mengajak Mawar makan, namun Mawar menolaknya. Bi Odah coba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, sampai Mawar tidak mau makan, tapi Mawar hanya diam. Dia sengaja tidak memberi tau bi Odah kalau Rangga saat ini tengah membencinya. Dia tidak mau bi Odah ikut kepikiran.


Bi Odah pun keluar kamar, dia tidak mau memaksa Mawar untuk cerita kalau memang Mawar tidak ingin cerita, karena mungkin itu masalah pribadi yang memang tidak bisa untuk diceritakan. Bi Odah pun pergi ke ruang tengah, seperti biasa dia menonton acara televisi untuk melihat sinetron kesayangannya.


Sementara Fery yang juga masih didalam kamar tiba-tiba merasa lapar. Tadinya dia akan tahan rasa laparnya dan tidak akan keluar kamar sampai besok, tapi dia teringat Mawar yang juga pasti tidak mau makan.


Fery pun langsung bergegas keluar kamar, dia ingin langsung menemui Mawar. Di ruang tengah dia melihat bi Odah sedang asyik menonton acara televisi. Fery pun langsung menanyakan pada bi Odah tentang keadaan Mawar saat ini.


"Mawar gak mau makan den Fery, gak tau kenapa tu anak,"


"Ya udah, Fery akan coba bujuk kak Mawar, supaya dia mau makan,"


"Iya den,,"


Fery langsung pergi ke meja makan, dia mengambil makanan yang kemudian dia bawa ke kamar Mawar. Dia akan mengajak Mawar makan, bagaimanapun caranya.


Mawar sedang berbaring di ranjang saat Fery masuk ke kamarnya. Tanpa basa-basi lagi Fery langsung mengajak Mawar makan. Dia tidak mau kalau sampai Mawar sakit.


"Kak Mawar, bangun dong kak. kita makan dulu yuk,"

__ADS_1


"Fery, kamu ngapain bawa nasi ke kamar kakak?"


"Biar kak Mawar makan, soalnya kalau aku ajak ke meja makan, kak Mawar pasti gak mau,"


"Kamu tau aja Fer, kalau kakak males makan. Ya udah, kita makan yuk. Kok cuma bawa satu piring, punyamu mana?"


"Kita barengan aja ya kak, gak pa-pa kan? kak Mawar diam aja, biar Fery suapin.


Mawar pun hanya bisa tersenyum dan menuruti Fery, meski dia tidak selera makan, tapi dia tetap memaksakan untuk makan, supaya dia bisa menyenangkan Fery.


Paginya, setelah semua selesai, Mawar masuk ke kamarnya. Namun bukannya mandi, dia justru berbaring lagi di ranjang. Dia sudah berniat kalau hari ini dia tidak akan berangkat ke kampus. Pikirannya masih sangat kacau, dia benar-benar tidak ada semangat lagi untuk kuliah. Dia masih terus memikirkan ucapan Rangga yang seolah-olah Rangga benar-benar sudah tidak mau lagi menerimanya.


Pak Wiryo dan Bu Wiryo sudah berangkat lebih dulu, Fery menghampiri Mawar di kamarnya, dia ingin mengajak Mawar sarapan dan berang ke kampus.


"Maaf Fer, hari ini kamu berangkat sendiri ya, kakak gak kuliah hari ini. Gak perlu kakak jelaskan kenapa, kamu tau sendiri kan keadaan kakak saat ini,"


Fery langsung keluar dari kamar Mawar, dia pun langsung menuju ke meja makan. Dia mengambilkan makanan dan minuman untuk Mawar sebelum dia sendiri sarapan.


Setelah mengantarkan makanan ke kamar Mawar, dia pun langsung berangkat ke kampus. Dia tidak jadi sarapan karena dia malas sarapan tanpa ditemani oleh Mawar.


Setelah semua berangkat, barulah Rangga keluar dari kamarnya yang juga akan berangkat ke kantor. Rangga pun tidak sarapan, dia juga akan langsung berangkat ke kantor. Namun baru saja dia akan berangkat, Mawar menemuinya, Mawar coba memohon sekali lagi agar Rangga mau percaya padanya.


"Mas Rangga, tunggu,"


"Mau apa lagi kamu?"


"Mawar mohon sekali lagi, percaya sama Mawar mas. Semua yang ada di foto itu tidak sama dengan kenyataannya, itu hanya dibuat-buat seolah seperti Mawar melakukannya, aku mohon percayalah mas,"

__ADS_1


"Kamu dengar ya, sampai kapanpun saya tidak akan pernah percaya sama kamu. Hebat kamu ya, sudah jelas-jelas bersalah masih saja banyak alasan untuk ngeles. Itu benar-benar membuatku semakin benci denganmu,"


"Jadi mas Rangga benar-benar gak bisa percaya lagi sama Mawar, mas Rangga benar-benar sangat membenci Mawar, iya mas, jawab?"


"Iya, kenapa?"


"Baik, Mawar disini karena mas Rangga, Mawar bertahan disini juga karena mas Rangga. Tapi kini kamu sudah tidak membutuhkan aku laga, jadi Mawar rasa Mawar tidak perlu lagi berada disini. Mawar akan pergi dari sini, semoga itu bisa membuatmu bahagia,"


"Oh, bagus kalau kamu mau pergi. Memang itu yang aku inginkan," jawab Rangga yang langsung pergi meninggalkan Mawar.


Mawar pun hanya bisa menangis, dia tidak menyangka kalau Rangga akan berubah seperti ini. Mawar mengusap air matanya, dia sudah terlalu banyak membuang air matanya untuk Rangga, laki-laki yang sudah tidak lagi mencintainya. Mawar mengusap air matanya sampai tidak tersisa lagi di pipinya. Sudah cukup baginya memohon dan mengemis kepada Rangga. Niatnya sudah bulat, kalau dia akan kembali ke kampungnya hari ini juga.


Dia pun langsung mengemasi barang-barangnya, setelah mandi dan siap berangkat, dia menemui bi Odah.


"Lho Mawar, kamu belum berangkat kuliah? apa gak sudah telat jam segini kamu baru mau berangkat," tanya bi Odah yang melihat Mawar sudah rapi.


"Mawar bukan mau kuliah bi, Mawar mau pulang ke kampung. Mawar mau berhenti kuliah, berhenti kerja. Mawar gak mau lagi tinggal disini. Mawar pengen pulang bi,"


"Iya, tapi kenapa? apa kamu juga sudah pamit sama bapak dan ibu. Kalau mereka tanya, bibi harus jawab apa?"


" Mawar sengaja bi gak pamit sama mereka, karna kalau Mawar pamit, mereka sudah pasti akan melarang Mawar bagaimanapun caranya. Bibi juga pasti tau itu kan?"


Bi Odah terdiam, sebenarnya dia masih bingung dengan keputusan Mawar yang mendadak ini, tapi dia tau Mawar, dia tidak mungkin melakukan hal semacam ini kalau masalahnya tidak serius.


Bi Odah, hanya bisa mengiyakan saja keputusan Mawar tanpa bertanya-tanya lagi. Dia cuma tinggal memberitahu Pak Wiryo dan Bu Wiryo kalau Mawar pulang ke kampung kalau mereka pulang dari kantor nanti. Masalah mereka mau marah-marah itu urusan nanti, ini juga keputusan Mawar sendiri tanpa campur tangannya.


Sebenarnya Mawar sadar, kalau yang dia lakukan ini salah dan pasti akan membuat Pak Wiryo, Bu Wiryo dan Fery kecewa, tapi dengan sikap Rangga yang sekarang, dia tidak mungkin tetap tinggal dirumah ini. Akhirnya Mawar pun benar-benar berangkat, dia meminta kang Usep mengantarnya mencari angkutan umum.

__ADS_1


__ADS_2