BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 50


__ADS_3

Pagi yang cerah, Orang-orang yang ada di rumah mewah itu pun kembali disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing. Mawar dan bi Odah sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk orang-orang yang ada di rumah itu. Pak Wiryo dan Bu Wiryo juga sudah bersiap-siap ke kantor. Fery yang baru selesai mandi pun langsung memakai seragam sekolahnya, yang juga sudah siap sarapan dengan mama dan papanya.


Sementara di kamarnya, Rangga baru saja selesai mandi. Dia yang sudah mulai bisa berjalan, berusaha untuk tidak bergantung lagi dengan orang lain, karena dia merasa sudah terlalu lama merepotkan Orang-orang di sekitarnya. Dimulai dari menyiapkan pakaian sendiri dan pergi ke kamar mandi sendiri, tanpa bantuan Mawar lagi.


Rangga menuju ke lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian yang akan dia kenakan, dia pun mulai mencari-cari pakaian yang ingin dia pakai. Tidak sengaja dia menemukan foto di lemari itu, foto dirinya dan mantan kekasihnya Rena, yang ditemukan Mawar beberapa waktu yang lalu.


Rangga mengambil foto itu, lalu dia duduk di tepi ranjang. Dia pandangi foto itu, seketika dia teringat masa lalunya yang penuh dengan luka dan kekecewaan, dia pun kembali merasakan lagi sakit yang sangat melukai hatinya.


"Kamu pergi dengan meninggalkan luka yang masih tetap membekas sampai sekarang, aku sangat membencimu Rena, sangat-sangat membencimu. Kau tau, kebodohan terbesarku adalah pernah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangku padamu, orang yang tidak punya perasaan dan egois sepertimu. Asal kamu tau, aku sekarang bahagia, karena Tuhan telah memberikan seorang bidadari cantik dan baik untuk ku, yang bisa menerima semua kekuranganku. Dia adalah Mawar, gadis yang mampu mengisi kekosongan didalam hatiku dan kini tak ada tempat sedikitpun untuk orang lain di hatiku, sekalipun itu kamu," ucap Rangga lirih, kemudian dia sobek-sobek foto itu hingga menjadi bagian-bagian terkecil.


Rangga membuang sobekan foto itu, seperti dia yang juga membuang semua kenangannya bersama Rena.

__ADS_1


Sementara di ruang makan, Fery, Pak Wiryo dan Bu Wiryo sedang menyantap sarapan mereka. Mereka tidak menunggu Rangga, karena mereka tau, Rangga pasti memilih sarapan bersama Mawar.


"Pa, kak Mawar kuliahnya bareng sama Fery aja ya nanti. Biar Fery bisa berangkat bareng dan belajarnya juga bareng pastinya, hehe... biar otak Fery juga terbantu,"


"Terserah kamu, tapi tanya dulu kak Mawar nya mau gak bareng kamu terus," jawab pak Wiryo.


"Iya, nanti aku bicarakan sama kak Mawar,"


"Kak Mawar, Fery berangkat dulu ya,"


"Iya Fer, hati-hati ya,"

__ADS_1


"Oke kak," jawab Fery yang langsung bergegas pergi ke sekolah.


Bi Odah dan Mawar sedang beres-beres di dapur, yang tentu saja sambil mengobrol. Mawar menceritakan soal Bu Wiryo yang berniat menyekolahkannya. Bi Odah pun yang mendengarnya sangat senang, betapa tidak, bi Odah sangat memahami bagaimana keadaan ekonomi keluarga Mawar, sehingga suatu keberuntungan kalau Mawar bisa kuliah.


"Bibi sangat senang sekali Mawar, kamu sudah beri tahu ini sama ibu dan bapak mu di kampung kan?"


"Belum bi, Mawar belum sempat kasih tau mereka. Nanti kalau sudah beresan Mawar telepon mereka,"


"Mereka pasti sangat senang mendengar kabar ini Mawar. O, iya, kamu gak lihat keadaan den Rangga, siapa tau dia masih memerlukan bantuan mu,"


"Gak pa-pa bi, kalau dia butuh pasti dia panggil aku. Aku bantu disini aja, karena disini masih banyak yang harus dikerjakan,"

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka, yang baru saja mereka mulai karena hari memang masih pagi.


__ADS_2