
Malamnya, Rangga, Fery dan Mawar sedang bersantai diruang tengah. Mereka bertiga ngobrol sambil menonton acara televisi. Bi Odah juga ikut serta, tapi tidak beberapa lama kemudian dia masuk kamar untuk istirahat. Sementara Pak Wiryo dan Bu Wiryo pun sudah istirahat di kamar mereka.
"Sayang, besok kan kamu libur. Kita jalan-jalan yuk, sudah lama aku pengen ngajak kamu jalan, tapi kamu nya selalu sibuk terus. Mau ya sayang, terserah kamu mau kemana,"
"Boleh, tapi itu terserah mas Rangga. Kalau terserah aku, mana aku tau. Aku kan gak pernah keluar rumah mas,"
"Iya ya, selama ini waktumu sudah habis buat ngurusin aku, makasih ya sayang. Maaf ya sayang, kamu pasti sangat sedih ya gak tau sama sekali dunia luar dan itu semua gara-gara aku. Mulai sekarang, kamu pengen kemana aja pasti aku anterin, aku serius sayang,"
"Iya sayang, gak usah kemana-mana disini aja asal sama kamu, aku udah seneng kok sayang," jawab Mawar.
"Udahlah... mending kalian ke pelaminan aja sana, daripada bingung mau kemana,"
"Ssst, ada yang iri sayang," bisik Rangga, yang tetap saja bisa didengar oleh Fery.
"Iya sayang, mungkin dia pengen ikut kita jalan-jalan paling," jawab Mawar.
__ADS_1
"Gak usah diajak lah, tar dia ganggu,"
"Ajak dong sayang, kasihan adik satu-satunya, tar dia ngambek loh kalau gak diajak,"
"Iya deh, mau gimana lagi. Terpaksa kita ajak dia,"
"Kalau gak ikhlas ya gak usah ngajak," timbal Fery cetus, yang ternyata memang ingin ikut.
Rangga dan Mawar pun tersenyum, mereka sudah paham kalau Fery pasti ingin ikut, karena selama kakaknya lumpuh, dia pun jarang pergi kemana- mana. Selama ini dia pun hanya berdiam diri di rumah, karena dia tidak tega kalau harus jalan-jalan ke sana kemari sementara kakaknya menderita sendirian didalam kamar. Sekarang pun Rangga tidak akan tega meninggalkan Fery sendiri dirumah. Masih ada banyak waktu untuk berdua dengan Mawar, jadi dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan adanya Fery didekatnya. Begitu juga dengan Mawar, yang juga sangat menyayangi Fery. Dia pun tidak pernah terganggu dengan sikap manja Fery, meski ketika dia bersama Rangga sekalipun.
"Makasih kakak ku sayang...kakak emang kakak terbaik deh" jawab Fery.
"E...e...e, apa-apaan ini, pake' sayang-sayangan. Sayang, aku gak disayang nih?"
"Iya-iya aku masuk, tapi beneran kan besok aku diajak?" ucap Fery yang sudah paham kalau kakaknya pengen berdua sama Mawar.
__ADS_1
"Iya," jawab Rangga.
Mawar pun hanya diam, dia juga mengerti kalau Rangga pasti sangat merindukannya, karena dia sendiri pun juga merindukan Rangga. Rangga pun langsung bermanja-manja dengan Mawar. Dia pun langsung tidur di pangkuan Mawar.
"Sayang?"
"Apa mas?"
"Kamu sudah pengen nikah belum?"
"Belum dong mas, aku pengen nikah kalau aku sudah lulus kuliah. Kenapa memangnya?"
"Entahlah sayang, aku pengen selalu bermesraan dengan mu, aku pun semakin takut kehilanganmu. Aku ingin sekali secepatnya menikahi mu sayang,"
Sejenak mereka berdua terdiam. Mawar pun sepertinya benar-benar belum siap kalau harus menikah secepat ini. Masih banyak yang belum dia capai, membahagiakan kedua orang tuanya, mengejar cita-citanya. Dua tujuan yang sangat dia impi-impikan selama ini.
__ADS_1