
Marsel langsung membuka jaketnya, kemudian dia menutupi tubuh Mawar dengan jaketnya itu. Dia pun membantu Mawar memakai jaketnya. Ketika Mawar berusaha memakai jaket, terlihat jelas oleh Marsel bentuk tubuh Mawar bagian depan yang menonjol itu, seketika membuatnya sejenak tidak berkedip. Namun dia buru-buru melihat ke arah lain, agar dia jangan sampai khilaf.
Setelah memakai jaket, tubuh Mawar pun sudah tertutup semua. Marsel juga membantu Mawar merapikan rambutnya yang acak-acakan. Setelah itu dia mengajak Mawar keluar dari gudang itu. Namun Mawar tidak langsung keluar, dia memeluk tubuh Marsel sekali lagi.
"Kak Marsel, terimakasih ya. Aku tidak bisa bayangkan, seandainya kamu tidak datang..." Mawar tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, dia kembali menangis lagi. Sepertinya dia masih trauma dengan apa yang baru saja menimpanya.
"Sudah Mawar, berhentilah menangis. Kamu sudah aman kok, jangan takut lagi ya. Tidak akan terjadi apa-apa sama kamu. Karena aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu terjadi padamu. Tenanglah, aku ada disini memelukmu,"
Mawar mencoba menghentikan tangisannya. Dia berusaha menenangkan hatinya. Sementara Marsel yang masih memeluknya, terus membelai rambut Mawar dengan lembut, yang membuat Mawar benar-benar merasa nyaman.
Mawar hampir saja terbuai dengan pelukan Marsel, dia hampir saja meminta Marsel memeluknya dengan erat, namun seketika dia tersadar, kalau yang memeluknya saat ini Marsel, bukan Rangga. Dia pun buru-buru melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudah, berhentilah menangis. Kamu sudah aman. Sekarang kita keluar dari tempat ini ya," ucap Marsel, sambil membantu Mawar mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Iya, yuk kak. Sekali lagi terimakasih ya kak Marsel,"
"Iya, sama-sama,"
Mereka pun keluar, meninggalkan gudang itu. Mawar bingung, apakah dia harus langsung cerita sama Fery atau diam dulu, atau sementara menyimpan dulu peristiwa pahit yang baru saja dia alami.Karena kalau dia cerita sekarang, Fery pasti langsung panik dan takutnya dia melakukan hal-hal yang berlebihan, yang akan semakin membuat keadaan semakin kacau. Akhirnya Mawar pun memutuskan untuk menyimpan dulu maslah ini.
Marsel menyuruh Mawar sementara duduk di kursi, sedangkan dia pergi sebentar membeli minuman untuk Mawar.
Setelah beberapa menit, akhirnya Marsel kembali dengan membawa dua minuman dingin, lalu memberikan satu untuk Mawar, sementara satunya sudah hampir habis dia minum. Marsel menatap wajah Mawar yang terlihat sembab karena sudah dari tadi dia menangis. Yang membuat Marsel Sangat kasihan melihatnya.
"Mawar, jangan menangis lagi ya. Aku sudah tidak tahan lagi melihat kamu meneteskan air mata. Meskipun aku bukan pacarmu, tapi mulai sekarang aku akan berusaha untuk selalu menjagamu dan membuatmu tersenyum. Karena jujur, aku sakit banget kalau melihatmu menangis. Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya. Aku ingin melihatmu selalu bahagia dan selama aku bisa, aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia.
"Terimakasih kak Marsel, iya aku gak akan menangis lagi. Tapi aku penasaran, siapa orang-orang tadi, yang tega berbuat hal semacam itu, di kampus lagi. Benar-benar mahasiswa tidak punya akhlak. Kak Marsel, jujur Mawar masih takut itu akan terulang kembali. Mawar benar-benar takut kak," ucap Mawar yang mulai terlihat cemas.
__ADS_1
"Sudah, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh ya. Aku kan sudah bilang, aku akan selalu menjagamu disini, jadi bisa kan kamu tenang dan berpikir positif saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak, itu hanya akan mengganggu konsentrasi belajar mu. Masalah orang-orang tadi kamu tidak usah pikirkan, aku akan berusaha mencari tau, siapa mereka,"
Mawar tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya, sambil wajahnya yang masih terlihat sedikit cemas.
"Udah, minumlah minuman kamu itu biar segar badanmu. Kalau tidak mau, sini biar aku yang habiskan," gurau Marsel sambil membuang bekas botol minumannya ke kotak sampah.
"Cepat banget kak Marsel minumnya,"
"Iya, emang lagi haus banget ini. Haus cintamu," goda Marsel, berusaha menghibur Mawar, agar Mawar bisa menghilangkan rasa cemas dan traumanya usai mengalami peristiwa tadi.
"Kak Marsel bisa aja,"
Tidak lama kemudian datang Fery, yang dari tadi mencari Mawar untuk diajaknya makan di kantin.
"Kak Mawar dari mana saja, Fery cari-cari dari tadi, ternyata disini,"
"Iya, kak Mawar disini. O iya, kenalin ini kak Marsel, senior kita yang aku ceritain kemaren. Kak Marsel, ini Fery adikku, tepatnya adiknya mas Rangga.
"Itu kak Mawar pakai jaket siapa?"
"Oh..ini, ini jaket kak Marsel, kakak pinjam sebentar, besok juga dibalikin,"
"Emang kak Mawar ngapain pakai- pakai jaket segala, itu Fery juga bawa jaket kalau kak Mawar pengen pakai jaket,"
"Gak usah, kak Mawar pakai ini aja,"
"Ya udah, kalau gitu kita ke kantin yuk kak, temani Fery cari makan yuk," ajak Fery.
__ADS_1
Mawar melihat ke arah Marsel. Seolah dia sedang meminta izin pada Marsel. Marsel pun menganggukkan kepala, tanda mengizinkan Mawar pergi.
"Ya udah, yuk kita ke kantin. kak Marsel, Mawar tinggal dulu ya,"
"Iya, gak pa-pa pergilah,"
Fery dan Mawar pun pergi ke kantin. Sementara Marsel terus saja memikirkan Mawar. Dia benar-benar ingin sekali memiliki Mawar, namun itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Dia hanya bisa menarik nafas panjang dan berusaha menerima kenyataan ini.
Sementara Rena sedang tersenyum-senyum, sepertinya dia sangat senang karena rencananya sepertinya berjalan dengan lancar. Sindy dan Mira pun jadi penasaran apa yang sudah dilakukannya pada Mawar.
"Ren, kamu kok kayaknya lagi seneng banget deh. Kenapa? cerita dong," ucap Santi.
"Iya nih, seneng diam-diam, giliran susah aja ngajak-ngajak kita, ya gak San?"
"Iya, bener banget tuh,"
"Udah, kalian tenang aja. Ceritanya nanti aja ya,"
Akhirnya, waktunya pulang.
"Kak, itu jaket beneran mau dibawa pulang? kak Mawar beneran gak ada hubungan apa-apa kan sama Marsel?"
" Iya, mau aku bawa pulang. Beneran Fer, kakak gak ada hubungan apa-apa dengan kak Marsel. Kita hanya berteman saja,"
"Maaf kak, abisnya kakak bawa-bawa jaket dia segala, Fery kan jadi curiga,"
"Udah, gak usah mikir yang aneh-aneh. Yuk kita pulang, kak Mawar udah siap nih,"
__ADS_1
Oke,"
Mereka pun langsung melaju dengan motor mereka, Di perjalanan Mawar hanya terdiam, Dia masih terbayang-bayang dengan apa yang baru saja dia alami di kampus tadi, Sungguh kejadian yang sangat mengerikan dan sangat menakutkan. Dia masih saja kepikiran, dia benar-benar takut kalau itu sampai terulang kembali.