
Sesampainya di rumah, Rangga tidak langsung turun dari mobilnya. Dia terdiam dan mengingat kembali apa yang baru saja dia alami di pesta itu. Dia menatap wajah Mawar dengan penuh perasaan.
"Sayang, jawab aku dengan jujur. Apa kamu juga punya perasaan pada Marsel?"
"Sayang...kamu tanya apa sih, aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa sama Marsel. Aku hanya mencintaimu mas, selamanya aku akan tetap mencintaimu,"
"Makasih ya sayang, aku percaya sama kamu. Aku hanya takut kehilanganmu sayang, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku mohon, jangan pernah tinggalin aku, kamu hanya milikku saja, tidak boleh ada orang lain yang memilikimu selain aku, mengertilah sayang, aku sangat mencintaimu,"
"Iya-iya sayang, aku mengerti. Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu mencintaimu, sampai kapanpun juga,"
Mawar memeluk Rangga, dia berusaha meyakinkan Rangga, kalau dia juga sangat mencintainya.
Setelah beberapa menit, sepertinya Rangga pun mulai tenang, dia melepaskan pelukan Mawar lalu mencium bibir Mawar dengan mesra.
"Terimakasih sayang, ya udah, kita masuk yuk sudah malam," ajak Rangga.
Mereka pun masuk kedalam rumah, suasana rumah sepi, semua orang sudah tidur. Rangga pun menyuruh Mawar tidur, karena Mawar memang sepertinya sudah kelelahan dan juga kedinginan.
"Tidurlah sayang, jangan lupa pakai selimut biar hangat,"
"Iya," jawab Mawar yang langsung pergi ke kamar.
Sementara Rangga tidak langsung tidur, dia berbaring di ruang tengah. Pikirannya masih tetap tertuju pada Marsel, dia tidak bisa menganggap remeh Marsel yang juga mencintai Mawar. Apalagi setiap hari dia bersama Mawar di kampus, itu semua benar-benar membuatnya semakin gelisah dan was-was.
Semalaman Rangga tidak bisa tidur, pikirannya kacau, dia benar-benar merasa gelisah. Dia takut masa lalunya terulang kembali, ditinggal pergi saat sedang sayang-sayangnya. Dia benar-benar trauma, dia takut Mawar juga akan meninggalkannya dan memilih Marsel.
__ADS_1
Pagi-pagi Mawar sudah bangun dengan bi Odah, selesai shalat mereka langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan terlebih dulu. Sambil masak, mereka selalu ngobrol dan bercanda, sehingga pekerjaan mereka terasa lebih menyenangkan meskipun mata mereka masih mengantuk, tapi dengan ngobrol dan bercanda, itu bisa menghilangkan sedikit rasa ngantuk mereka.
"O iya, kamu belum cerita lho, gimana semalam pestanya, pasti seru ya?"
"Huh, seru apaan. Bibi gak tau ya, Mawar terjebur ke kolam renang. Nyebelin banget,"
Mendengar cerita Mawar, bukannya sedih, bi Odah justru malah tertawa terbahak-bahak, yang membuat Mawar semakin kesal.
"Ih...bibi kok malah ketawain Mawar sih, bukannya kasihan sama Mawar,"
"Abisnya kamu ngapain malam-malam jebur kolam segala. Kok bisa, gimana ceritanya?"
"Aku baru sadar sih bi, kayaknya ini ada unsur kesengajaan deh. Maksud Mawar, mereka emang sengaja mau jeburin Mawar ke kolam renang.
"Mereka siapa? bilang sama bibi, siapa yang berani-beraninya berbuat jahat sama keponakan bibi. Mau bibi cakar-cakar itu mukanya,"
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka dan tidak membahas lagi soal itu. Karena menuduh tanpa bukti itu bisa jadi fitnah.
Selesai menyiapkan sarapan, Mawar langsung membersihkan dapur, setelah itu barulah dia pergi mandi dan bersiap-siap untuk pergi kuliah.
Seperti biasa, Pak Wiryo dan Bu Wiryo berangkat lebih dulu, sementara Fery masih bersantai di ruang tengah menunggu Mawar untuk sarapan. Rangga yang baru keluar dari kamarnya langsung ikut duduk di ruang tengah. Dia langsung menanyakan soal Marsel pada Fery.
"Fery, apa si Marsel itu sering deketin Mawar ya di kampus?"
"Setahu Fery baru sekali, tapi gak tau kalau pas Fery gak liat. Karena itu aja aku taunya dari kak Mawar,"
__ADS_1
"Gimana sih kamu itu Fer, kan kakak sudah bilang, jagain kak Mawar. Kamu tau gak, Marsel itu mencintai Mawar, aku takut kehilangan Mawar, jadi bisa gak kamu tolong perhatiin terus si Marsel itu. Aku takut Marsel akan tetap nekat, walaupun dia tau, Mawar sudah mempunyai pacar,"
"Maaf kak, Fery gak tau. Iya nanti Fery lebih serius jagain kak Mawar dan perhatiin terus itu si Marsel,"
Tidak lama kemudian Mawar keluar dari kamar, Fery pun langsung bergegas pergi ke meja makan, sementara Rangga menemui Mawar lebih dulu.
"Sayang, kamu hati-hati ya di kampus. Janji, jangan pernah tinggalin aku dan menerima Marsel dihati kamu. Aku semalam gak bisa tidur sayang, aku mikirin kamu terus,"
"Sayang, gak ada yang perlu dikhawatirkan, aku kan sudah bilang, aku gak akan pernah tinggalin kamu. Percaya sama aku ya sayang,"
Rangga hanya mengangguk, lalu memeluk Mawar. Sepertinya Rangga sangat berat melepas kepergian Mawar ke kampus. Dia takut Mawar tidak bisa mempertahankan cintanya, dia takut Mawar luluh dengan rayuan Marsel yang setiap hari bersamanya.
"Sayang, pergilah ke kantor. Cari kesibukan biar kamu gak kepikiran yang aneh-aneh tentang aku. Kalau kamu terus seperti ini, nanti lama-lama kamu pusing sendiri lho. Sampai-sampai gak tidur semalaman, aku gak mau kamu sakit sayang,"
"Rencananya hari ini aku mau ke kantor, tapi aku benar-benar gelisah sayang, aku gak tenang. Aku gak bisa konsentrasi,"
"Ya udahlah, terserah kamu mas. Udah ya peluknya, aku mau sarapan dulu. Kasihan Fery udah nungguin dari tadi, ni juga udah siang, takut kita telat. Kamu semangat dong mas, Mawar gak suka ah, kalau mas Rangga seperti ini, gak semangat kayak gini. Mas Rangga udah dewasa lho, bukan anak kecil lagi. Bisa gak kasih contoh yang baik untuk Fery,"
"Iya sayang, maaf,"
"Aku gak butuh maaf sayang, aku butuh bukti kalau mas Rangga laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa dibanggakan oleh kedua orang tua, serta bisa menjadi contoh yang baik untuk Fery, itu saja," ucap Mawar sambil melepaskan pelukannya dan langsung bergegas pergi ke meja makan.
Rangga benar-benar merasa malu dengan ucapan Mawar, dia benar-benar terlihat nol. Semua yang dikatakan Mawar benar, dia terlalu santai dan tidak ada semangat. Sudah berapa kali Mawar mencoba mengingatkan, agar dia harus lebih bertanggung jawab dan menjadi contoh yang baik untuk Fery, namun dia tetap saja berdiam diri di rumah dan bermalas-malasan.
Dia tau, kalau Mawar sebenarnya sudah kesal dengan sikapnya ini meskipun Mawar mencintainya. Karena dia tau, kalau Mawar tipe cewek yang pekerja keras dan pantang menyerah, serta sikapnya yang tidak suka meminta-minta belas kasihan dari orang, itulah yang membuatnya tidak menyukai sifat pemalas.
__ADS_1
Rangga yang masih malu dengan sikapnya selama ini, tidak jadi ikut sarapan. Dia pergi ke kamar dan langsung mandi, dia pun berencana pergi ke kantor hari ini. Meskipun sudah kesiangan, dia akan tetap pergi untuk sekedar melihat-lihat dulu kantor papanya dan mencari tau pekerjaan apa yang kira-kira mampu dia kerjakan nanti.