BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 78


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Marsel langsung berlari dan melompat ke kolam renang, dia meraih tubuh Mawar lalu membawanya ke tepi kolam. Mawar duduk di tepi kolam dengan tubuhnya yang basah kuyup.


"Kamu tidak apa-apa kan Mawar?" tanya Marsel, yang masih didalam kolam renang.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Makasih ya Marsel, maafkan aku, kamu jadi basah kuyup seperti itu,"


"Tidak apa-apa, yang penting kamu selamat,"


"Tapi seharusnya kamu tidak melakukan ini, kamu belum selesai tampil. Terus bagaimana kamu akan tampil, dengan bajumu yang basah kuyup seperti ini,"


"Kamu tidak usah pikirkan itu, aku bawa baju cadangan di mobil,"


Mendengar penjelasan Marsel, barulah Mawar merasa tenang dan tidak lagi bingung memikirkan pekerjaan Marsel yang belum selesai. Tidak lama kemudian, sambil berlari Rangga menghampiri Mawar.


"sayang, kamu tidak apa-apa kan sayang?"


"Gak pa-pa mas, Mawar baik-baik saja,"


"Maafkan aku sayang, aku tidak sempat menyelamatkanmu,"


"Gak pa-pa mas,"


Marsel sudah beranjak dari kolam renang, dia berjalan akan menuju mobilnya. Namun dia sempat bicara dengan Rangga terlebih dulu, dengan maksud memberi penegasan pada Rangga.


"Kalau kamu tidak bisa menjaganya, biarkan aku yang akan menjaganya," ucap Marsel pada Rangga, yang membuat Rangga semakin emosi pada Marsel.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" tanya Rangga sambil memegang baju Marsel bagian depan dengan kedua tangannya.


Mawar pun langsung berdiri, dia berusaha menenangkan Rangga agar jangan sampai ribut dengan Marsel, karena itu akan semakin memperkeruh keadaan.


"Sudah mas, sudahlah malu dilihat orang, gak enak juga kan sama kak Lisa," ucap Mawar sambil berusaha melepaskan tangan Rangga yang memegangi baju Marsel.


Rangga pun menuruti kata-kata Mawar, karena yang dikatakan Mawar benar, jangan sampai emosinya merusak acara sahabatnya,Lisa.

__ADS_1


"Kamu dengar ya Marsel, urusan kita belum selesai," ucap Rangga yang lalu melepaskan Marsel.


Marsel pun pergi menuju mobilnya, sementara Lisa berlari menghampiri Mawar, lalu menutupi tubuh Mawar dengan handuk.


"Sekarang ikut aku masuk rumah dulu yuk, kita ganti pakaianmu. Sementara kamu pakai bajuku dulu, kalau gak cepat-cepat salin nanti kamu masuk angin," jelas Lisa pada Mawar.


"Iya sayang, kamu ikut Lisa ganti baju ya,"


"Gak usah mas, kita pulang aja ya. Acara intinya juga udah selesai kan. Mawar pakai baju Mawar yang tadi aja,"


"Ya udah, kalau kamu maunya seperti itu. Iya, kita pulang,"


"Jadi kalian berdua beneran mau pulang ni? maaf ya, aku gak bisa bikin kalian nyaman di pestaku,"


"Iya, gak pa-pa Lis. Ya udah, kita pamit pulang dulu ya," ucap Rangga.


"Ya udah deh, makasih banget ya. Mawar juga makasih ya,"


Rangga dan Mawar pun pergi meninggalkan acara pesta itu. Terlihat Rena sedang menikmati segelas minuman ditangannya, dengan senyum puas di bibirnya. Dia benar-benar senang, bisa mengerjai Mawar dan membuat Mawar keluar dari pesta ini.


"Sayang, perlu bantuan gak? kalau perlu, berarti aku ikut masuk ya,"


"Jangan macam-macam kamu mas, awas ya kalau ngintip," tegas Mawar.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Mawar selesai ganti pakaian. Rangga pun buru-buru masuk kedalam mobil dan akan segera membawa Mawar pulang, dia tau kalau Mawar pasti kedinginan.


"Ya udah, kita pulang yuk. Kamu pasti dingin banget ya sayang,"


"Iya nih," jawab Mawar sambil menggosok-gosok tangannya.


"Mau yang hangat-hangat dulu gak," bisik Rangga ditelinga Mawar.


"Ih...apaan sih mas, aku memang cinta ya sama mas Rangga. Tapi kalau untuk begituan, maaf aja Mawar gak bisa. Mawar takut dosa, takut hamil juga. Dasar ya mas Rangga ini, emang otak mesum," gerutu Mawar, yang membuat Rangga tertawa lepas.

__ADS_1


"Sayangku...kayaknya kamu beneran udah pengen nikah deh. Siapa juga yang otak mesum, yang ada sayang tuh yang pikirannya ngeres. Maksud aku hangat-hangat itu, sayang mau beli bakso atau sekedar ngopi atau cari apa ajalah yang bisa menghangatkan badan. Gitu lho sayang..." jelas Rangga yang membuat Mawar tersipu malu.


"O...kirain maksudnya itu. Hehe...ya udah kayaknya Mawar pengen bakso aja nih mas.


"Ya udah, kita beli bakso ya. Kita nikmati yang hangat-hangat dulu, sampai puas," goda Rangga pada Mawar yang membuat Mawar semakin malu.


"Ihh...udah dong mas, jangan ledekin Mawar terus. Mawar kan jadi malu,"


"Iya-iya sayang, udah aku gak akan ledekin kamu lagi, janji," ucap Rangga sambil menahan tawanya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka melihat tukang bakso keliling. Mawar pun langsung mengajak Rangga berhenti.


"Gak pa-pa sayang yang ini, gak cari yang di warung aja,"


"Gak sayang, kasihan dia. Anak istrinya pasti lagi nungguin dia dirumah. Berharap dia pulang dengan membawa gerobaknya yang kosong, dengan baksonya yang habis terjual. Yang seperti ini biasanya cuma punya modal pas-pasan mas, aku suka beli apa-apa tempat orang-orang seperti ini, itung-itung membantu meringankan bebannya,"


Rangga terdiam, dia sama sekali tidak pernah punya pikiran seperti Mawar. Kalau dia berbeda, Dia hanya akan membeli ditempat yang sudah terjamin kualitasnya yang biasanya sudah banyak pembelinya.


Sebenarnya masing-masing alasan mereka sama-sama bisa diterima dan tidak ada yang salah, tergantung masing-masing pribadi mereka yang menilainya.


Mereka pun turun dari mobil, lalu memanggil tukang bakso itu. Tukang bakso itu pun langsung buru-buru menuju ke arah mereka. Melihat tukang bakso itu, Mawar jadi teringat dengan bapaknya. Karena bapaknya sepertinya seusia dengan tukang bakso itu.


"Baksonya pak dua," ucap Rangga.


"Iya mas," jawab tukang bakso itu yang lalu menata dua kursi untuk Rangga dan Mawar.


"Itu pulangnya nunggu baksonya habis atau gimana pak?"


"Kalau saya gak nunggu habis pak, pokoknya saya jualan sampai jam sebelas malam, kalau habis ya Alhamdulillah, kalau gak habis ya mau gimana lagi, memang segitu rezeki saya. Kalau bukan rezeki tetap tidak akan bisa didapatkan mas, walaupun kita mengejar sampai ke ujung dunia. Yang penting kita berusaha semampu kita dan syukuri seberapapun rezeki yang diberikan Tuhan kepada kita, itu saja,"


"Hebat bapak, bener banget itu pak," timbal Rangga.


Setelah siap, bapak itu memberikan baksonya. Rangga dan Mawar pun mulai menikmati bakso yang masih hangat itu, pas banget untuk mereka yang kedinginan, terutama Mawar. Saat bakso itu sampai di mulut Rangga, Rangga terkejut. Karena ternyata bakso itu enak sekali rasanya. Rangga tidak mengira, dia pikir yang sudah pasti enak itu yang selalu ramai pembelinya. Tapi walaupun ini cuma penjual di gerobak keliling, tapi rasanya benar-benar enak.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Rangga pun membayar baksonya dengan memberi uang dua ratus ribu untuk dua mangkok bakso yang dibelinya. Yang membuat bapak itu sangat bersyukur dan kegirangan. Dia sangat berterima kasih kepada Rangga. Rangga pun merasa senang, karena bisa membuat bapak itu bahagia.


Di dalam mobil, Mawar memberi ciuman mesra di pipi Rangga untuk hadiah karena sudah mau meringankan beban penjual bakso tadi. Rangga pun merasa semakin senang dan bahagia.


__ADS_2