
Malamnya, usai makan malam Pak Wiryo dan Bu Wiryo mengajak Fery dan Rangga ngobrol di ruang tamu. Sementara itu, Mawar dan bi Odah menonton acara televisi di ruang tengah.
Pak Wiryo sengaja mengajak kedua anaknya berbincang-bincang sekedar melepas rindu dengan mereka dan juga sekaligus membahas soal Rangga yang akan ikut bekerja di kantor.
Meskipun satu rumah, momen seperti ini tetap saja jarang mereka temui. Karena Pak Wiryo dan Bu Wiryo yang terlalu sibuk, sehingga jika mereka pulang, yang utama bagi mereka hanya istirahat yang cukup agar bisa kembali beraktivitas di keesokkan harinya dan begitulah seterusnya.
Keadaan seperti ini sudah berlangsung cukup lama dari semasa Rangga dan Fery masih kecil sampai sekarang beranjak dewasa. Jadi mereka berdua termasuk anak-anak yang kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Sehingga wajar, kalau Fery begitu manja dengan Mawar, karena mungkin dia merasa nyaman dan tenang saat merasakan kasih sayang dan perhatian dari Mawar, yang membuatnya selalu manja dan tidak bisa jauh dari Mawar.
"Gimana kabar kuliah kamu dan Mawar fer?" tanya pak Wiryo.
"Baik-baik saja pa, kak Mawar juga aman kok,"
"Syukurlah kalau begitu,"
"Kamu sendiri gimana Rangga, kamu benar-benar sudah yakin akan bekerja di kantor kan?"
"Iya pa, Rangga sudah yakin. Masalah posisi Rangga semua terserah papa, Rangga nurut saja, mau dikasih jabatan apa saja Rangga nurut,"
"Ya...ya, nanti papa akan atur itu semua, yang paling penting niat kamu dulu, kalau kamu memang benar-benar sudah yakin, papa sudah sangat senang mendengarnya. Tapi ingat, kalau sudah bekerja kamu harus profesional, jangan sesuka hati kamu, ikuti semua aturan yang ada. Agar bisa menjadi contoh yang baik untuk yang lainnya,"
"Iya pa," jawab Rangga.
Mereka pun lalu ngobrol dan bercanda seru, Fery yang kasihan mamanya kelelahan seharian bekerja, ngobrol sambil memijit punggung mamanya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Bu Wiryo pun terlihat sudah mengantuk.
__ADS_1
"Sepertinya mama kalian sudah mengantuk, kami istirahat dulu ya. Kalian jangan malam-malam tidurnya, gak baik untuk kesehatan kalian,"
"Iya, awas kalau kalian suka bergadang. Mama jewer kuping kalian,"
"Iya mama..." jawab Rangga dan Fery berbarengan. Yang lalu mencium mama mereka bergantian.
Pak Wiryo dan Bu Wiryo pun bergegas pergi ke kamar mereka. Sementara Rangga dan Fery pindah ke ruang tengah. Diruang tengah masih ada Mawar dan bi Odah yang masih ngobrol sambil menonton acara televisi. Namun setelah Rangga dan Fery bergabung dengan mereka, bi Odah pun langsung pergi ke kamar, dia tidak mau ikut campur urusan yang muda-muda, dia memilih tidur di kamar.
Mawar yang penasaran dengan Rangga yang tiba-tiba pergi ke kantor pun langsung bertanya apa saja yang Rangga lakukan di kantor, berangkat siang-siang seperti itu. Rangga pun menceritakan semuanya, kalau dia belum bekerja sehari tadi, dia hanya keliling kantor papanya, mempelajari beberapa hal dan mencari tau tentang perkembangan perusahaan papanya.
"Gitu dong mas, semangat. Biar bisa nyenengin orang tua. Nyenengin Mawar juga sih, Mawar juga ikut senang melihat mas Rangga semangat kayak gini. Kamu sendiri gimana Fer, seneng gak kamu, kalau kakak kesayanganmu semangat gini?"
"Wah, pasti senang dong, Senang banget malah. Dari dulu Fery memang pengen kak Rangga seperti ini. Semangat dan pantang menyerah. Ini baru yang namanya kak Rangga,"
Keesokan paginya, Semua sudah bersiap-siap dengan kesibukan masing-masing. Rangga pun sekarang sudah ikut menyibukkan diri di pagi hari, dia pun sekarang bangun lebih pagi, mandi dan langsung bersiap-siap pergi ke kantor. Tapi dia tidak berangkat dengan mama, papanya. Dia memilih membawa mobil sendiri, agar tidak diburu-buru papa dan mamanya.
Aktivitas hari ini pun dimulai. Keluarga pak Wiryo pun keluar rumah, pergi ke tempat masing-masing yang dituju.
Mawar dan Fery pun sudah tiba di kampus, mereka berdua mengikuti proses belajar dengan serius. Mereka selalu mengingat pesan kedua orang tua Fery, agar mereka sungguh-sungguh mengikuti kuliah, mereka pun berusaha belajar dengan serius agar tidak mengecewakan orang tua Fery.
Waktu istirahat pun tiba, Mawar langsung bergegas pergi ke toilet, kebetulan waktu itu suasana toilet sepi, tidak ada mahasiswa yang ke toilet kecuali dia sendiri.
Begitu Mawar keluar dari toilet, sudah ada tiga pemuda yang memaksa membawanya ke gudang belakang. Mawar berusaha berteriak, namun mulutnya ditutup dengan menggunakan sapu tangan. Dia juga berontak, berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Sangat tidak mungkin baginya bisa melawan tiga pemuda itu. Dia pun hanya bisa menangis dan pasrah.
__ADS_1
Sementara itu, Marsel sedang duduk menyendiri, dia sedang memikirkan Mawar. Dia benar-benar sudah jatuh cinta dengan Mawar. Tapi tiba-tiba datang seorang cewek sambil berlari menuju kearahnya. Dengan nafas yang terengah-engah, cewek itu memberi tahu pada Marsel, kalau dia melihat Mawar dibawa tiga pemuda ke gudang belakang kampus.
Mendengar itu, tidak pikir panjang, Marsel pun langsung berlari menuju ke gudang belakang. Dia berlari sekuat mungkin.
Sementara itu di dalam gudang, tiga pemuda itu memaksa Mawar membuka pakaiannya, yang jelas tidak Mawar turuti. Mereka pun akhirnya membuka paksa baju Mawar hingga membuat baju Mawar sobek, yang membuat tubuh Mawar bagian depan terlihat.
"Sepertinya ini benar-benar masih fresh, sekarang kita apakan dia?" ucap salah satu dari pemuda itu.
Mereka semua memakai penutup wajah, sehingga wajah mereka benar-benar tidak bisa dikenali lagi.
"Pake' nanya lagi, sikat aja," timbal yang satunya. Sementara yang satu lagi masih memegangi Mawar dan menutup mulut Mawar. Benar-benar keadaan yang sangat miris, bagi seorang perempuan berada diposisi seperti itu.
Namun belum sempat mereka menyentuh Mawar, Marsel datang. Marsel pun tidak pikir panjang, dia langsung menyerang tiga pemuda itu, perkelahian pun tidak bisa dihindari. Marsel yang sedang emosi pun memberikan serangan yang bertubi-tubi, yang membuat tiga pemuda itu menyerah dan berlari meninggalkan gudang itu.
Marsel langsung berlari menuju ke arah Mawar. Marsel langsung memeluk tubuh Mawar erat-erat. Mawar pun menangis di pelukan Marsel. Meskipun Marsel bukan Rangga, tapi untuk keadaannya saat ini, Marsel benar-benar bisa menenangkannya. Apalagi dengan perasaan takutnya sekarang, kehadiran Marsel sangat berarti bagi Mawar saat ini.
"Sudahlah Mawar, jangan menangis. Tenanglah, aku ada disini. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Marsel sambil melepaskan pelukannya.
Namun sepertinya Mawar belum juga tenang. Dia masih terus menangis, Marsel pun kembali memeluk Mawar. Dia membelai rambut Mawar dengan lembut.
"Menangis lah sepuas mu Mawar, jangan berhenti sebelum kamu benar-benar puas dan merasa tenang. Aku akan tetap memelukmu seperti ini, aku ada disini, kamu jangan takut lagi ya,"
Setelah beberapa menit barulah Mawar berhenti menangis. Dia melepaskan pelukannya. Saking takutnya, dia sampai lupa dengan tubuhnya yang terlihat. Setelah sadar, dia pun panik dan berusaha menutupinya dengan kedua tangannya.
__ADS_1