BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 88


__ADS_3

Sementara itu, sampailah Mawar di kampung halamannya, setelah turun dari motor tukang ojek yang dia tumpangi, dia melangkah perlahan menuju ke rumahnya. Dilihatnya kursi roda yang diletakkan di teras, sudah tak dipakai lagi. karena pak Arifin sudah sembuh dan bisa bekerja lagi seperti semula. Dilihatnya juga, sepedanya yang dulu dia bawa kemanapun dia pergi disandarkan di samping rumah. Pastilah sepeda itu sudah tidak ada lagi yang memakainya, karena dia sudah membelikan bapaknya motor untuk dipakai pergi bekerja, dia juga sudah membelikan Alfi sepeda baru untuk adik kesayangannya itu. Semua itu dari hasil jerih payahnya selama bekerja di rumah Bu Wiryo.


Suasana rumah sepi, di jam seperti ini pak Arifin belum pulang dari bekerja. Alfi pun jelas belum pulang dari bermain dengan teman-temannya. Yang pasti hanya ada satu orang di rumah, yaitu ibunya, Bu Siti.


Mawar berhenti di depan pintu, lalu dia mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."


"Wa'allaikumsallam..." terdengar suara ibunya menjawab salamnya dari dalam.


Bu Siti pun keluar, dia sangat terkejut melihat anak gadisnya yang sangat dia rindukan selama ini, sudah ada di depan matanya. Seketika dia pun berlari menuju ke arah Mawar dan langsung memeluk Mawar dengan erat.


"Mawar anakku, akhirnya kamu pulang juga nak. Ibu sangat merindukanmu nak, sangat merindukanmu," ucap Bu Siti dengan air matanya yang mulai berlinang.


"Iya Bu, sama. Mawar juga sangat merindukan ibu, bapak dan juga Alfi. Maafkan Mawar Bu, Mawar baru bisa pulang. Mawar anak durhaka ya Bu, karena sudah membuat orang tua Mawar tersiksa menahan rindu,"


"Bukan nak, kamu bukan anak durhaka. Mawar anak yang baik, yang sudah berusaha susah payah untuk membahagiakan orang tua. Kami justru bangga padamu nak,"


Keduanya pun sama-sama menangis bahagia. Mereka seolah tidak ingin lagi melepaskan pelukan mereka.


"Kamu sehat terus kan nak selama disana?"


"Iya Bu, kan Mawar selalu bilang kalau lagi telpon ibu,"


"Tetap saja beda nak, ibu kurang tenang kalau cuma lewat telepon. Kalau ketemu begini baru ibu merasa tenang dan yakin kalau kamu baik-baik saja,"

__ADS_1


"Kalian semua juga sehat semua kan Bu? bapak juga beneran sudah bisa bekerja lagi kan Bu?"


"Iya, Alhamdulillah kita semua sehat, bapakmu juga sudah benar-benar bisa bekerja lagi seperti semula. Terimakasih ya nak, kamu sudah banyak membantu perekonomian keluarga, sehingga kami semua bisa terlepas dari kesusahan dan Alhamdulillah sekarang keluarga kita juga sudah terbebas dari hutang dan bisa menikmati hidup dengan tenang meskipun sederhana,"


"Iya Bu, amin. Alhamdulillah ya Bu,"


Mereka kemudian masuk ke dalam, Mawar membawa pakaiannya ke dalam kamar, sementara ibunya membawa oleh-oleh yang dibawanya ke dapur.


Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya dia memasuki lagi kamar tidurnya yang ukurannya sangat kecil, namun terlihat rapi. Ibunya pasti selalu membersihkan kamarnya selama dia tidak ada, karena kalau dibiarkan tentu keadaannya tidak seperti ini, apalagi yang menempati Alfi. Seorang anak kecil, laki-laki lagi yang taunya main, makan dan tidur.


Mawar memperhatikan ruangan kamarnya, tidak ada yang berubah. Hanya satu yang terlihat baru. Beberapa jenis mainan Alfi yang selama ini Alfi idam-idamkan, salah satunya mobil remote. Mawar memang selalu berpesan kepada ibunya untuk selalu membelikan mainan yang Alfi mau, saat dia mengirim uang gajiannya. Karena Mawar juga ingin memanjakan Alfi seperti anak-anak yang lain.


Setelah meletakkan barang-barangnya, Mawar pun langsung pergi mandi, karena hari juga sudah sore. Selesai mandi, Mawar sudah tidak sabar menunggu kedatangan Bapak dan adiknya yang sangat dia rindukan. Tidak lama kemudian, Pak Arifin dan Alfi pun datang. Mereka semua terlihat sangat bahagia, akhirnya mereka bisa berkumpul lagi dengan keadaan sehat dan hidup tentram meskipun sederhana.


Malamnya pun mereka berkumpul dan ngobrol tentang banyak hal, bercanda bersama yang membuat Mawar benar-benar merasa bahagia dan melupakan semua masalah dan penderitaannya.


"Sudahlah ma, jangan menangis lagi. Ikhlaskan kepergian Mawar, itu sudah menjadi pilihannya. Mungkin dia memang tidak bahagia disini, kita juga kan tidak tau ma, apa dia bahagia atau tidak disini. Kita tidak tau itu ma, karena hanya dia yang merasakannya," ucap Pak Wiryo berusaha menenangkan istrinya.


"Tapi harusnya dia bilang pa kalau dia tidak bahagia dan beritahu mama apa yang membuatnya tidak bahagia. Kalau mama tau, mama tidak akan melakukan apapun yang membuat dia tidak bahagia dan mama akan melakukan apa saja yang bisa membuat dia bahagia. Mama sudah terlanjur menyayanginya pa, mama sudah anggap dia seperti anak mama sendiri. Papa mengerti kan pa?"


"Iya-iya papa mengerti ma,"


Pak Wiryo memeluk istrinya yang terus saja menangis. Dia benar-benar sangat kehilangan Mawar.


"Ini semua gara-gara kak Rangga, yang tidak punya perasaan, yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa melihat penderitaan kak Mawar! susah payah kak Mawar merawat dia sampai sembuh, terus bertahan dengan sikapnya yang sangat menyakitkan itu, tapi ternyata ini balasannya untuk kak Mawar. Benar-benar tidak punya otak!" ucap Fery yang masih emosi dengan kelakuan kakaknya.

__ADS_1


"Jaga mulutmu kalau bicara Fer! aku ini kakakmu, begitu kah cara kamu bicara dengan orang yang lebih tua?"


"Percuma tua, kalau kelakuannya seperti anak kecil, memalukan!"


Rangga benar-benar hilang kesabarannya, mendengar ucapan Fery. Dia pun mengangkat tangannya dan berniat akan memukul Fery. Namun mama dan papanya yang duduk di dekatnya langsung mencegahnya.


"Sudah cukup! ada apa ini sebenarnya, kenapa kalian bisa saling membenci seperti ini? Fery, coba kamu cerita sama papa,"


"Papa tanya aja langsung sama orangnya, yang sudah membuat kak Mawar pergi dari sini," jawab Fery.


"Rangga, ada apa ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Rangga tidak menjawab, dia justru pergi ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya kuat-kuat.


Sementara itu, Fery masih tetap duduk dengan kedua orang tuanya. Bu Wiryo pun membujuk Fery pelan-pelan agar Fery mau menceritakan semuanya. Bu Wiryo sudah paham dengan sifat anaknya Fery, kalau dia anak yang manja, dia bisa tenang kalau diajak bicara dengan pelan dan lemah lembut.


"Fery sayang, dengerin mama ya. Coba kamu cerita masalah yang sebenarnya, kami akan mendengarkan mu dan kami juga tidak akan marah apapun itu masalahnya. Jadi mama minta kamu cerita ya sayang," rayu Bu Wiryo dengan lemah lembut pada Fery.


Akhirnya Fery pun luluh hatinya, dia pun mulai menceritakan semua kepada mama dan papanya. Pak Wiryo dan Bu Wiryo pun mendengarkan cerita Fery dengan seksama. Mendengar cerita Fery, Bu Wiryo pun semakin sedih. Dia mendengarkan cerita Fery sambil sesekali mengusap air matanya yang semakin berlinang. Fery menceritakan semuanya, tidak ada satu pun yang terlewat agar kedua orang tuanya mengerti dan paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berdua pun berpihak pada Fery, mereka berdua percaya sepenuhnya pada Mawar, kalau Mawar disini sama sekali tidak bersalah.


"Benar-benar bodoh si rangga, bisa-bisanya dia lebih mempercayai foto-foto yang gak jelas itu, ketimbang kekasihnya sendiri. Benar-benar sangat memalukan sikap Rangga itu. Papa sangat kecewa padanya," ucap Pak Wiryo yang merasa kesal dengan sikap Rangga.


"Iya pa, mama juga kecewa dengan Rangga, sebagai sesama perempuan, mama tau bagaimana perasaan Mawar saat ini. Dia pasti sangat tersiksa batinnya. Mawar, kasihan sekali kamu nak," ucap Bu Wiryo yang terus saja menangis.


"Sudahlah ma, pa. Kita berdo'a saja semoga kak Mawar baik-baik disana. Fery akan berusaha terus, mencari tau siapa dalang semua ini, agar kak Rangga dan kak Mawar bisa bersama lagi. Walaupun Fery tidak tau bagaimana perasaan mereka saat ini, apakah masih saling mencintai atau tidak. Kita tidak pernah tau, hanya mereka berdua yang tau, karena merekalah yang merasakannya,"

__ADS_1


Pak Wiryo dan Bu Wiryo terdiam, mereka hanya mengangguk. Mereka juga tidak tau bagaimana kelanjutan hubungan Rangga dan Mawar kedepannya. Mereka berdua sama-sama terluka dan sama-sama merasakan sakit hati.


__ADS_2