BENCI TAPI SAYANG

BENCI TAPI SAYANG
PART 23


__ADS_3

Mereka masih belum beranjak dari kamar Fery. Rangga melanjutkan lagi melihat-lihat suasana kamar itu. Tidak terasa, mata Rangga mulai berkaca-kaca. Dia mengingat masa lalu dia dan adiknya. Dan di kamar ini, mereka dulu sering bercanda bersama, tertawa bersama, dan terkadang, ada kalanya mereka bertengkar kecil karena Rangga yang sering mengejek adiknya.


Dulu memang Rangga yang sering ke kamar Fery, karena memang kamar Rangga dulu sangat berantakan, sehingga Fery malas dan tidak nyaman berada di kamar kakaknya,Rangga.


Rangga seketika tersadar, betapa sedihnya Fery saat ini, karena mereka tidak lagi seperti dulu. Sedangkan dia tau, kalau Fery termasuk sosok adik yang sangat manja pada kakaknya. Karena dari kecil, Rangga lah yang selalu menemaninya dan menjaganya, ketimbang mama dan papanya, yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan.

__ADS_1


Rangga memejamkan matanya, dia berusaha menahan agar air matanya jangan sampai menetes. Sementara Mawar yang dari tadi hanya memperhatikan Rangga, mencoba lagi menyemangati Rangga. Agar dia tidak lagi terlena dengan keterpurukan, keputusasaan dan kebencian dengan keadaannya saat ini, yang sangat merugikan dia sendiri dan orang lain.


"Sampai kapan den Rangga akan seperti ini terus? kasihan Fery den, dia sangat membutuhkan den Rangga, dia juga sangat merindukan den Rangga. Bahagiakan lah orang yang kita sayangi, selama dia bahagia bersama kita. Karena ketika dia tak lagi bersama kita, orang lain belum tentu bisa membahagiakan dia. Jadi gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk orang yang kita sayang, karena kita tidak bisa selamanya terus bersama,"


"Maksud kamu apa, kita gak bisa selalu bersama orang yang kita sayang? kamu do'ain aku mati, terus gak bisa ketemu Fery lagi, gitu maksud kamu?"

__ADS_1


Rangga hanya terdiam mendengar ucapan Mawar yang membuatnya merasa malu pada Mawar dan juga pada dirinya sendiri. Ucapan Mawar bagai tamparan keras diwajahnya, yang seketika membuatnya tersadar atas kesalahan yang dia lakukan selama ini. Dia benar-benar malu dan menyesal dengan sikapnya selama ini.


"Den Rangga baik-baik saja kan?" Rangga tidak menjawab, dia hanya mengangguk.


"Kalau den Rangga baik-baik saja, aku lanjutin ya ngomongnya. Jadi bukan cuma kematian yang memisahkan seseorang, seandainya jodoh Fery datang lebih cepat dari den Rangga, sudah pasti dia akan meninggalkan den Rangga dan hidup bersama istrinya. Jadi kapan lagi den Rangga akan membahagiakan Fery, melewati hari-hari bersama Fery dan memperbaiki hubungan kalian, seperti dulu lagi. Sementara den Rangga sibuk menikmati keterpurukan dan keputusasaan seperti ini,"

__ADS_1


Mawar terlihat sangat geram dengan sikap Rangga yang seperti ini. Seolah-olah dia punya alasan tersendiri mengapa dia sangat ingin Rangga mengubah sikapnya yang pesimis itu. Bukan hanya semata-mata ingin melihat Fery bahagia saja. Namun dia sendiri sepertinya juga ingin Rangga bahagia.


__ADS_2