
Setelah selesai sarapan, Mawar langsung minum obat, kemudian dia mengajak Rangga ke ruang tengah. Mereka ngobrol sambil menonton acara televisi.
"Kamu gak istirahat aja di kamar, tidurlah sana, mungkin kamu kecape'an ngurusin aku,"
"Aku gak capek kok mas ngurusin kamu, justru aku malah senang kalau aku bisa meringankan beban mas Rangga, untuk beraktivitas sehari-hari.
"Jadi kapan mas Rangga mulai berobat lagi, aku sudah tidak sabar ingin melihat mas Rangga bisa berjalan lagi,"
"Secepat, terimakasih ya, kamu selalu ada untuk menyemangati ku,"
"Sama-sama mas,'
Mawar yang sedang tidak enak badan, seperti tidak bersemangat. Wajahnya terlihat pucat, dia membaringkan tubuhnya di sofa, sambil sesekali dia menutup mulutnya dengan tangannya karena dia tidak berhenti menguap. Rangga pun yang melihatnya jadi merasa kasihan, dia tau kalau Mawar tidak nyaman karena rasa pegal yang mungkin dia rasakan di seluruh tubuhnya karena bisa jadi dia kelelahan.
Rangga yang tidak tega melihatnya, menyuruh Mawar istirahat didalam kamar. karena sepertinya Mawar memang butuh istirahat total.
"Tidurlah di kamar, biar kamu bisa tidur nyenyak,"
__ADS_1
"Tapi mas Rangga sendirian,"
"Aku akan menemanimu di kamar, jangan ngeres dulu kamu. Aku akan tetap duduk di kursi rodaku dan gak akan mengganggumu,"
" Janji,"
"Iya, aku janji,"
Belum sempat mereka pergi ke kamar, bi Odah menghampiri mereka. Dia menanyakan bagaimana keadaan Mawar, dia juga meminta maaf karena tidak bisa menjaga Mawar, karena dia sendiri juga sangat sibuk. Mawar pun bisa memakluminya.
"Mawar, kamu sudah minum obat belum nak?" tanya bi Odah.
"Ya sudah, bibi tinggal dulu ya Mawar. Maaf den Rangga, bisa tolong jagain Mawar sebentar, mungkin dia butuh apa-apa, den Rangga bisa panggil saya,"
"Iya bi, pasti aku bantu jagain Mawar,"
Setelah bi Odah pergi, mereka pun beranjak pergi ke kamar Mawar. Mawar yang merasa lesu, langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara posisi Rangga tetap duduk di kursi rodanya, sambil membaca sebuah buku majalah. Mawar memperhatikan Rangga, seperti ada yang sedang dia pikirkan. Ternyata benar, dia masih kepikiran sama Rena, mantan pacar Rangga.
__ADS_1
"Mas Rangga,"
"Apa?" jawab Rangga yang masih tetap fokus membaca majalah.
"Menurut mas Rangga, Rena itu seperti apa orangnya. Dia cantik ya mas?"
"Cantik, tapi tenang saja, masih cantik kamu kok," jawab Rangga yang masih tetap membaca majalah tanpa sekalipun melihat ke arah Mawar.
"Mas Rangga mencintainya?"
"Dulu iya, tapi sekarang tidak lagi. Dulu aku bukan hanya cinta, tapi aku dulu sangat-sangat mencintainya. Aku berikan sepenuhnya rasa cinta dan sayang ku untuk nya. Aku mengira, dia pun mencintaiku sepenuh hatinya. Namun ternyata aku salah, dia begitu mudah berpindah ke lain hati, hanya karena keadaanku yang tak sempurna lagi. Kamu bisa bayangkan, betapa sakit nya hatiku waktu itu, disaat-saat aku membutuhkannya, dia justru meninggalkan aku. Tapi ya sudahlah, mungkin memang dia bukan jodohku. Kamu sendiri gimana? aku juga penasaran, seperti apa sih juragan Dahlan itu orangnya, bisa kan kamu cerita sama saya?"
"Bodo amat," jawab Mawar yang langsung memejamkan matanya, sambil memakai selimut, seperti dia sudah siap untuk tidur nyenyak.
Sementara Rangga belum berhenti membahas tentang Juragan Dahlan, karena dia mengira Mawar hanya pura-pura tidur.
"Pasti Juragan Dahlan sangat tampan ya, buktinya dia punya istri tiga dan masih mau nambah satu lagi. Aku benar-benar salut sama dia. Aku tau, kamu pasti juga suka ya sama Juragan, buktinya kamu punya pikiran mau menikah dengan dia. Iya kan, kamu juga suka kan sama Juragan gila itu, iya kan Mawar, Mawar, Mawar..."
__ADS_1
Rangga berulang kali memanggil Mawar, tapi Mawar sama sekali tidak menjawabnya. wajar saja kalau Mawar hanya terdiam, ternyata Mawar sudah tertidur pulas. Dia sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan Rangga. Melihat Mawar tertidur pulas, Rangga hanya tersenyum manis.