
Kring ... Kring ... Kring ...
Ponsel milik Zia berbunyi, ia pun langsung mengangkat ponselnya karena yang menghubunginya adalah sahabatnya, yaitu Yola.
"Yola, ada apa?" tanya Zia pada sambungan itu.
"Ke panti sekarang, aku tunggu!" jawab Yola di sebrang sana.
Zia mengerutkan keningnya, ia merasa bingung karena tiba-tiba Yola memintanya untuk datang ke panti. Namun ia harus segera kesana, takut terjadi sesuatu pada ibu panti.
Karena ia sedang bersama Randy, suaminya itu pun tahu bahwa Zia sedang menerima telpon. Karena mereka sedang sarapan bersama, mereka berdua tengah dimabuk asmara. Dan Randy lagi bucin-buncinnya pada Zia, karena semalam ia merasa puas tidur bersama istri pertamanya. Entah kenapa, rasanya berbeda dengan Camelia.
"Ada apa, Zi?" tanya Randy.
"Aku harus ke panti, Mas. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana," jawab Zia.
"Ya sudah, Mas antar. Sekalian, Mas mau pulang dulu," kata Randi. "Kamu siap-siap saja dulu," sambungnya lagi.
Zia mengangguk, dan langsung bersiap-siap. Setelah semuanya siap, mereka pun segera berangkat. Randy hanya mengantar, ia tidak ikut masuk ke dalam panti. Ia harus ke kantor pagi ini.
"Mas antar sampai sini ya?" kata Randy setibanya di depan panti. "Kalau terjadi apa-apa, kamu hubungi, Mas. Dan Mas akan menjemputmu kembali." Randy mengecup kening Zia.
Dan Zia pun meraih tangan suaminya, mencium punggungnya. Setelahnya, ia keluar dari mobil dan langsung masuk ke panti. Setibanya di dalam, Zia terkejut karena ada ibu-ibu yang langsung memeluknya begitu erat. Disertai tangisan di sana.
"Maaf, Bu. Ibu kenapa?" tanya Zia.
Ibu itu melepaskan pelukkannya, lalu menatap wajah Zia penuh kerinduan. Bertahun-tahun ia tak berjumpa dengan anaknya, karena ibu Zia meninggalkannya saat usia Zia masih bayi. Ibu itu kembali memeluk Zia.
Pandangan Zia arahkan pada Yola, isyarat sebagai pertanyaan, siapa ibu ini? Kenapa ibu ini menangis?
"Bu, ibu gak apa-apa 'kan?" tanya Zia lagi.
__ADS_1
"Ini, Mama, Zia. Mama rindu padamu, maafkan Mama sudah menitipkanmu di panti asuhan," kata ibu itu yang masih memeluk Zia.
Ibu? Zia masih memiliki ibu? Tapi kenapa ibunya baru datang dan menemuinya sekarang? Zia tak percaya begitu saja, karena selama ini tidak ada tanda-tanda ia masih memiliki orang tua.
"Ibu jangan bercanda, apa buktinya kalau Ibu itu Mamaku?" tanya Zia setelah pelukkan itu terlepas.
"Maafkan Mama, sayang. Mama terpaksa meninggalkanmu karena ..." Ibunya Zia tak kuasa meneruskan ucapannya, karena masa lalunya terlalu sakit untuk diceritakan.
"Iya, Zi. Mereka orang tuamu," timpal Yola.
***
Zia mendengar semua kisah orang tuanya dari papanya. Zia hanya menangis kala mendengar itu semua, ternyata ia bukan dibuang. Ibunya melakukan itu karena ingin melindunginya, dan sekarang mereka datang untuk menjemputnya. Zia juga menjelaskan bahwa ia sudah menikah.
"Tapi Mama dan Papa mau kamu pulang ke rumah, sayang. Mama tidak setuju kalau kamu di poligami," ucap mama Zia.
"Tapi, Ma. Mas Randy sudah berubah, dia sudah mulai menerimaku," jelas Zia.
"Baiklah, untuk kali ini Papa tidak mempermaslahkan rumah tanggamu, jika memang suamimu sudah mulai berubah, dan kamu bahagia, Papa ikut senang," timpal papa Zia.
"Kalau Mas Randy tidak menepati janjinya untuk bersikap adil, Zia akan pulang ke rumah Papa, dan Mama," ucap Zia lagi.
Akhirnya, orang tua Zia memberi kesempatan pada menantunya itu. Tapi jika Randy berulah dan menyakiti anaknya, mereka tak segan membawa Zia untuk pisah dengan suaminya.
***
Randy baru sampai di kediamannya, ia melihat Camelia sedang duduk di taman sendirian. Sambil terus memandangi hasil USG. Bahkan ia sampai menitikkan air matanya.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan melingakar menutup kedua matanya. Camelia menyentuh tangan itu, ia hapal betul siapa yang menutup matanya. Camelia langsung beranjak dari tempatnya, memeluk suaminya sambil menangis.
Sampai Randy terheran-heran, apa karena semalam ia tidak pulang? Dan Camelia kecewa padanya, pikir Randy.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis? Maaf, semalam tidak pulang. Karena aku sama Zia-." Randy tak meneruskan kata-katanya, ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada istrinya itu tentang semalam.
Camelia melepaskan pelukkannya, lalu memperlihatkan hasil USG itu pada Randy. Randy senang tak terkira, istrinya hamil. Puji syukur, keinginan mamanya terkabul. Mamanya sangat menantikan kehadiran cucu dalam hidupnya. Meski bukan dari Zia, tapi ia yakin kalau mamanya pasti senang dengan kabar ini.
"Tapi kenapa menangis? Harusnya kamu bahagia bukan?" tanya Randy.
"Tapi, apa Mama akan menerima anak kita? Apa kamu sudah mendapatkan maaf dari Zia?"
Ketakutan Camelia sangat berlebihan sampai Randy menyadari akan hal itu.
"Jangan memikirkan soal Mama, beliau pasti bahagia dengan kabar ini. Inikan calon cucunya." Randy menenangkan perasaan Camelia.
Lalu, Randy pun mengajak istrinya masuk ke dalam. Ia memberikan perhatian extra pada istri keduanya. Sampai ia tak jadi ke kantor. Camelia terlihat begitu manja, dan Randy mengerti akan hal itu. Sampai ia lupa akan janjinya pada Zia, bahkan Zia sudah menghubunginya beberapa kali. Tapi tak ada jawaban atau balasan chat darinya.
Orang tua Zia pun sudah pulang dari panti, sedangkan Zia sendiri masih berada di sana. Ia menunggu kedatangan suaminya, sampai tak terasa, hari sudah menjelang malam. Dan Randy masih juga belum ada kabar. Zia masih berpikir positive, karena suaminya tadi bilang akan ke kantor. Mungkin pria itu masuh sibuk akan pekerjaannya di sana, pikir Zia.
"Zi, sedang apa kamu di sini?" tanya Yola, bahkan gadis itu sudah mau pulang dari panti. Karena urusannya sudah selesai di sana.
"Aku sedang menunggu suamiku menjemput," jawab Zia. "Mungkin masih sibuk di kantor," sambungnya lagi.
"Sibuk di kantor apa sibuk sama istri kesayangannya?" tanya Yola. "Kamu jangan terlalu percaya sama omongan lelaki, apa lagi laki-lakinya seperti suamimu."
Apa benar begitu? Zia pun malah ikut berpikir soal suaminya, apa iya suaminya sibuk dengan madunya? Zia menepis pikiran itu, dan tak lama dari situ ia mendengar suara deruman mesin mobil, Zia tersenyum karena ia yakin kalau itu suaminya yang datang. Dan benar saja, sosok pria tampan keluar dari mobil berwarna putih.
"Tuh, suamiku datang." Ucap Zia sembari mununjuk ke arah suaminya pada Yola.
"Bagus deh kalau dia sudah datang, kalau gitu aku duluan ya, Zi." Yola pamit pada Zia, setelah pamitan, Yola langsung pergi. Gadis itu menunjukkan ketidaksukaannya pada Randy, sorot matanya begitu tajam pada laki-laki itu.
Randy pun langsung menemui Zia setelah berpapasan dengan Yola.
"Maaf, aku telat," ucap Randy.
__ADS_1
"Hmm, pasti sibuk di kantor ya?" tanya Zia.
Randy tidak menjawab, kalau pun jujur, ia takut Zia berpikir yang tidak-tidak padanya. Karena ia sudah berjanji akan bersikap adil pada kedua istrinya. Dan dari situ mereka pun pergi meninggalkan panti.