Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 40


__ADS_3

Karena Zidan hanya berpura-pura, akhirnya Zia pun keluar dari kamarnya. Tapi pas ia keluar, ia melihat keberadaan Randy tepat di depan pintu. Zia tak menggubris keberadaan Randy di depan sana, ia berjalan melewati tubuh pria itu begitu saja.


Tapi sayang, Randy tak membiarkan itu terjadi. Selama janur kuning belum melengkung, ia berhak mendapatkan kesempatan untuk mendekati mantan istrinya kembali. Ia meraih tangan Zia dan mencekalnya begitu erat.


"Please! Tidak bisa kah kamu membuat Zidan bahagia?" tanya Randy dengan mata saling memandang.


Zia mencoba menghempaskan tangan Randy, tapi tak bisa karena cekalan Randy tak mudah dilepaskan. Sorot mata tajam Zia arahkan pada pria itu, ia tidak suka akan sikap Randy yang sekarang. Memaksa kehendaknya sendiri, ia tidak ingin menjadi pelarian sesaat karena ia tahu kalau mantan suaminya itu pasti sedang kesepian karena ditinggalkan oleh istri kesayangannya.


"Lepaskan! Apa maumu?" Zia terus meronta agar tangannya terlepas dari genggaman Randy.


Bukannya dilepas, Randy malah menarik tangan Zia dan membawanya ke kamar sebelah yang ia tempati malam tadi bersama putrinya. Setelah berada di dalam sana, Randy mengunci pintunya agar Zia tidak keluar sebelum ia mendapatkan kata maaf darinya.


Zia terkejut ketika mendapati pemandangan yang baru ia lihat untuk pertama kalinya. Randy berlutut tepat di hadapan Zia. Memeluk kedua kaki mantan istrinya itu, ia mencoba berdamai meski harus merendah.


"Maafkan aku, Zia. Aku tahu aku salah, tapi bisakah kita bersatu demi anak-anak kita? Apa aku tidak berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri." Randy begitu memohon.


Namun Zia tetap pada pendiriannya, meski ia masih mencintainya tapi ia tak bisa dengan mudahnya menerimanya kembali. Terlebih lagi ia sudah terlanjur janji pada papanya, ia sudah menerima perjodohan yang telah ditetapkan oleh Arya, sang papa.


Menurut Arya, Randy bukanlah pria yang bertanggung jawab. Selama pernikahan mereka berlangsung, belum pernah menantunya itu menampakkan batang hidungnya di hadapannya. Dan itu menambah point ketidaksukaan Arya pada Randy.


"Berhentilah merendahkan diri. Kalau hanya untuk Zidan, kita bisa merawatnya bersama-sama, tidak perlu memohon maaf dariku. Sebelum kamu meminta maaf, aku sduah memaafkanmu." Zia menarik kakinya sendiri dari pelukkan itu, dan akhirnya Randy pun melepaskannya.


Tubuhnya terasa lemas ketika mendengar penuturan yang tak sesuai dengan harapan, namun Randy masih berlutut di lantai. Ia menghembuskan napasnya lalu berdiri mensejajari tubuhnya dengan tubuh Zia. Ia terus menatap wajah Zia yang terlihat menunduk. Sepertinya tidak mudah mengembalikan kepercayaannya padanya.

__ADS_1


"Tapi aku akan tetap menunggumu sebelum kamu menjadi milik orang lain, jadi biarkan aku terus berjuang untuk mendapatkan hatimu."


"Jika itu mau, lakukanlah. Tapi jangan berharap mendapatkan balasan apa pun dariku." Setelah mengatakan itu, Zia keluar dari kamar yang sengaja dikunci oleh Randy. Membuka kuncinya, lalu keluar. Namun Zia begitu terkejut mendapati ibu mertuanya di sana, tanpa berkata sepatah pun, ia melewati Eva begitu saja. Bukannya apa-apa, ia tengah menahan tangisan dan air mata pun sudah menggenang.


Setelah kepergian Zia, Eva masuk ke dalam kamar. Ia melihat Randy pun tengah berkaca-kaca, karena penyeselan akan datang belakangan. Eva menyentuh pundak anaknya, Randy yang tahu pun langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukkan sang mama.


"Zia membenciku, Ma. Dia tidak menerimaku," lirih Randy dalam pelukkan mamanya.


"Tapi Mama yakin, dalam lubuk hatinya masih tersimpan kenanganmu bersamanya. Hadirnya Zidan tentu ada kebahagian meski walau hanya sesaat," batin Eva.


"Sudahlah, jangan seperti ini. Mungkin tidak sekarang Zia menerimamu kembali." Eva mengusap lembut punggung anaknya.


Tak lama dari situ, kedua anak Randy yang terlihat akur menghampirinya.


Si kecil Zia pun menghampirinya, tak seperti biasanya ia melihat papanya seperti ini, berada dalam pelukan neneknya. Apa yang telah terjadi? Pikir Zia. Apa karena kehadiran Zidan dan mamanya?


Randy melepaskan diri dari pelukkan ibunya, ia memeluk kedua putra dan putrinya. Menciumnya secara bergantian.


"Papa kenapa?" tanya Zidan, karena ia melihat genangan air mata yang tersisa di pelupuk mata papanya.


Randy menghapus air matanya.


"Tidak kenapa-kenapa, hanya kelilipan," elaknya.

__ADS_1


Ia bisa saja membohongi Zidan, tapi tidak dengan Zia. Ia tahu betul kelemahan papanya. Terkadang ia sering melihat papanya menangis ketika melihat poto mamanya. Tapi kali ini berbeda, ada sesuatu yang tertahan di dalam sana. Zia pun berinteraksi dengan papanya lewat gerakan tangan.


Randy yang mengerti langsung memeluk anaknya. Zia mengusap matanya sendiri lalu menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Menyuruh papanya untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi.


Kedua anaknya menjadi penyemangat baginya, hingga ide muncul dalam benaknya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Zidan, karena ia begitu menginginkan orang tuanya bersatu hingga Randy meminta bantuannya untuk memperlancar aksinya.


Zidan mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mengerti apa yang dimaksud oleh papanya itu. Zia yang penasaran meminta Zidan untuk membisikkannya kembali padanya. Kedua bocah itu beradu tos, ia siap membantu papanya untuk mendapatkan hati Zia.


Eva yang melihat sampai geleng-geleng kepala. Apa pun rencana mereka, ia akan mendukungnya dan mendoakan anaknya agar mereka bisa bersatu kembali.


***


Zidan dan Zia bukannya mengikuti acara summer camp yang dibuat Yola, ia berdua malah sibuk menghias sebuah meja yang akan menjadi tempat romantis bagi orang tuanya nanti, kedua bocah itu tersenyum karena tempat yang mereka hias sudah terlihat indah.


Ada yang kurang dengan hiasannya, Zia pergi untuk mengambil sesuatu. Setelah di dapatnya, ia meletakan benda itu di tengah-tengah meja. Zia mengangkat kedua ibu jarinya sebagai tanda sempurna.


Kini Zia tinggal menemui papanya, sementara Zidan pun menemui mamanya. Mereka akan mempertemukan mereka di tempat ini. Randy yang sudah tahu dengan rencana ini karena ia adalah dalangnya, ia malah terlihat sudah siap. Terlihat lebih tampan karena sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan hatinya.


Sementara Zidan, ia belum berhasil membujuk mamanya. Karena Zia sedang bersantai di kamar, entah sedang apa ia itu. Yang jelas, ia sedanh sibuk dengan benda pipihnya. Karena Zidan terus mengganggu, akhirnya ia menuruti keinganan anaknya itu.


Ia mengganti bajunya sesuai perintah putranya, meski ia terlihat bingung, dan banyak pertanyaan untuk anaknya itu. Tapi Zidan tak memberikan waktu padanya sedikit pun, sampai di mana ia sudah siap, ia pun keluar karena dituntun Zidan.


Sebuah pemandangan yang sedap di pandang mata, Zia merasa takjub mendapatkan sebuah kejutan dari anaknya itu. Matanya berbinar karena sebelumnya ia belum pernah mendapatkan ini dari anaknya, terlebih dari seorang pria. Zidan menyuruh mamanya untuk duduk, kemudian Zidan menepukkan kedua tangannya agar bersuara.

__ADS_1


Setelah itu seseorang datang menghampiri mereka, dan Zidan pun berlalu karena sudah berhasil mempertemukannya.


__ADS_2