
Keesokkan harinya.
Zidan sedang sarapan pagi ini bersama Zia. Bocah kecil itu tengah disuapi oleh mamanya, disaat mereka sedang sarapan, tiba-tiba Arya datang menghampiri mereka.
Pria paruh baya itu duduk tepat di samping cucunya, mengusap lembut pucuk kepala Zidan dengan sangat lembut. Betapa ia menyayangi cucunya itu.
"Cucu Kakek sudah ganteng, mau kemana?" tanya Arya, ia melihat Zidan sudah terlihat rapi pagi ini.
Bocah kecil itu merajuk pada sang kakek, karena ia tak suka karena kakeknya sudah memarahi papanya kemarin sore. Ia malah mengacuhkan pria paruh baya itu.
"Aaa ... makanannya sudah habis di mulutku, Ma." Zidan ingin cepat-cepat menyeselsaikan makannya, ia sudah tidak sabar dengan kepergiannya bersama Randy, sang papa.
Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya hari ini, betapa senangnya Zidan.
"Cucu Kakek mau kemana, hmm?" tanya Arya lagi.
"Pergi sama Papa!" cetus Zidan.
"Papa?" Arya mengulang kata Zidan, "sama Papa Angga?" tanyanya lagi.
Belum Zidan menjawab, tiba-tiba terdengar suara dari arah ruang tamu menuju ruang makan.
"Pagi semuanya?" sapa orang itu yang tak lain adalah Amar.
Zia mengerutkan keningnya karena bingung, ngapain pria itu datang ke sini pagi-pagi? Sedangkan ia tak punya janji dengannya, pikir Zia.
Pria tampan dan murah senyum itu langsung mendudukkan tubuhnya di sebelah Arya, ia menatap wajah Zidan yang terlihat cemberut saat kedatangan dirinya. Tapi itu tak membuatnya menjadi sedih.
"Oh ... Kalian mau pergi?" kata Arya, jadi papa yang dimaksud cucunya itu, Amar. Kalau perginya sama Amar, itu tak jadi masalah baginya. Justru itu malah lebih bagus, Zidan bisa lebih dekat dengan calon papanya itu, pikir Arya.
"Pergilah, Kakek mengizinkanmu pergi," ucap Arya pada cucunya itu.
__ADS_1
Sementara Amar, ia mengerlingkan matanya ke arah Zia. Dan Zia terlihat begitu kebingungan apa maksud pria itu?
"Iya, Om. Aku akan mengajak Zidan sama Zia jalan-jalan," sahut Amar pada Arya.
Arya tersenyum mendengar ajakan calon mantunya itu, tak ada rasa curiga, ia pun pergi meninggalkan anak dan cucunya.
"Bersenang-senanglah," ucap Arya sebelum pergi.
Setelah kepergian Arya, Zidan menunjukkan ketidaksukaannya pada Amar. Bocah itu langsung cemberut ketika ia tahu bahwa pria itu akan mengajaknya pergi bersama mamanya, padahal sudah jelas, ia sedang menunggu kedatangan papanya.
"Aku tidak mau pergi bersamanya, aku mau sama Papa!" cetus Zidan.
"Ish ... Gak boleh begitu, Om Amar sudah jauh-jauh datang kemari hanya ingin menjemputmu," tutur Zia secara halus.
"Sebaiknya kamu siap-siap," kata Amar pada Zia.
Wanita itu mengangguk, dan langsung beranjak dari tempatnya. Setelah Zia benar-benar sudah pergi, Amar mendekati Zidan lebih dekat. Duduk di samping bocah itu. Zidan bersedakap tangan di dada dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ia benar-benar tak ingin pria itu jadi papanya. Papanya hanya satu, yaitu Randy. Tidak ada yang bisa menggantikannya.
"Om akan berikan kejutan padamu, sini. Om bisikkan." Amar pun mulai membisikkannya di telinga Zidan.
"Om, serius!" Zidan masih belum yakin, takut pria itu hanya akan membohonginya agar ia mau pergi bersamanya.
"Serius, dong. Mana mungkin Om berbohong," elak Amar.
Pada akhirnya, bocah itu percaya apa yang dikatakan Amar padanya.
"Tapi harus janji dulu, jangan bilang soal ini pada Mama. Kita buat kejutan untuknya, bagaimana?" Amar mengarahkan jari kelingkingnya ke arah bocah itu, lalu Zidan pun menautkan jarinya di jari Amar. Mereka sudah sepakat akan hal ini.
Zia yang baru saja tiba dibuat terheran-heran, sejak kapan kedua lelaki itu dekat? Bahkan tadi saja Zidan masih cuek pada Amar. Sepertinya Amar sudah berhasil mengambil hati anaknya, tapi apa yang sudah dijanjikan pria itu pada Zidan sampai anaknya itu terlihat begitu senang?
Amar pun menyadari keberadaan Zia, wanita itu melihat ke arahnya secara bergantian dengan Zidan.
__ADS_1
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Zia pada mereka.
"Ini urusan lelaki, Ma," jawab Zidan, "rahasia, iyakan, Om?" Zidan menaik turunkan kedua alisnya tepat di hadapan Amar. Kedua lelaki itu terlihat sangat kompak.
"Sudah siap 'kan?" tanya Amar kemudian.
Dan Zia mengangguk, tak lama mereka bertiga segera berangkat. Amar akan mengajak mereka ke tempat di mana Zia dan Zidan pasti menyukainya.
***
"Kita mau kemana, sih?" tanya Zia begitu penasaran.
"Rahasia, Ma," sahut Zidan.
"Mama tanya Om Amar, bukan sama Zidan." Zia sedikit kesal pada mereka, karena mereka merahasiakan sesuatu darinya.
Mobil Amar terus melaju, Zia terus menatap ke arah luar lewat dari jendela. Ia baru melewati sekitar sini, hingga Zia terus begitu penasaran, ke mana Amar akan membawanya.
Sampai pada akhirnya, mobil itu menepi tepat di dekat danau. Pemandangan yang sangat indah ketika dipandang mata. Zia lebih dulu turun dari mobil, menghirup udara di sana. Begitu sejuk dan damai rasanya ketika berada di sana.
Hingga matanya menatap sesosok pria yang tengah berdiri di tepi danau. Pria itu berdiri membelakanginya, sepertinya ia mengenalinya. Tapi jika lelaki itu orang yang ada dalam pikirannya, sedang apa dia di sini? Kenapa kebetulan sekali? Apa jangan-jangan ...
Zia membalikkan tubuhnya menghadap Amar, apa ini rahasia yang diucapkan Zidan tadi? Bocah kecil itu malah tak terlihat sama sekali, di mana anak itu? Zia mencoba mencarinya ke dalam mobil, tapi ia tak menemukannya.
Ternyata, Zidan sudah berada di dekat pria itu.
"Amar," panggil Zia.
"Temuilah, pergi bersamaku semuanya akan baik-baik saja," tutur Amar kemudian.
"Tapi-." Zia tak meneruskan ucapannya karena Zidan memanggilnya.
__ADS_1
"Temuilah mereka, kabari aku jika kalian sudah merasa puas bermain." Setelah mengatakan itu, Amar benar-benar menghilang dari pandangan Zia. Perlahan mobil itu pun menjauh.
Sedikit pun tak terpikirkan olehnya, bahwa Amar akan melakukan ini.