Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 82


__ADS_3

Di rumah sakit.


Dokter yang menangani Zia sudah bersiap-siap, ia ikut mengantar pasien sampai di rumah sakit yang ada di Amerika tersebut. Mengurus semua kepindahan pasiennya pada dokter yang akan menangani Zia di sana.


Pasien sudah siap di pindahkan. Ambulance sudah menunggu sang pasien. Dan akhirnya, branker yang di tempati Zia masuk ke dalam ambulance.


"Ma, kenapa kita naik mobil ini?" tanya Zidan pada mamanya, mereka pun masuk ke dalam ambulance dan duduk di kursi depan.


"Iya, sayang. Di belakang ada Kakakmu, kita akan membawanya berobat ke rumah sakit yang lebih canggih. Kita akan ke Bandara," terang Zia pada putranya.


"Bandara? Kita akan naik pesawat?" tanya Zidan.


"Iya, sayang," jawab Zia.


"Lalu, Papa mana, Ma?" tanya Zidan lagi.


"Di belakang, Papa temani Zia di sana bersama Dokter juga Oma," jawab Zia lagi. Dan Zidan hanya manggut-manggut.


Mobil ambulance pun melaju menuju Bandara. Setelah menempuh tiga puluh lima menit, akhirnya mobil yang ditumpangi mereka sampai di Bandara. Zidan tertidur di pangkuan mamanya.


Sementara Randy, ia ikut mendorong branker yang ada Zia di atasnya. Melihat istrinya sedikit kewalahan menggendong Zidan, ia pun akhirnya mengambil alih anaknya itu.


"Sini, biar aku yang gendong." Kata Randy sambil meraih tubuh yang subur itu. "Berat banget," kata Randy.


"Sayang, kalau besar nanti, Zidan jaga pola makan ya? Aku gak mau putra tampanku bertubuh besar," celetuk Randy, tapi ia malah mendapatkan pukulan ringan dari istrinya.


"Kamu ini ada-ada saja, dia 'kan masih anak-anak. Dewasa nanti Zidan pasti menjaga pola makannya sendiri," jawab Zia.


Tim perawat yang mengantar pasien pun sampai masuk ke dalam awak pesawat. Pesawat yang memang dikhususkan untuk membawa pasien.


Eva, selaku orang tua Randy satu-satunya pun ikut bersama mereka. Randy merasa khawatir meninggalkan sang mama seorang diri di tanah air. Ia putuskan untuk mengajaknya, dan Zia pun setuju karena ia memang sudah dekat sejak dulu dengan mama mertuanya.

__ADS_1


Pesawat pun mulai terbang. Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka lelah, hanya tidur dan makan yang mereka lakoni di dalam pesawat tersebut. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, akhirnya pesawat lepas landas di Bandara Amerika. Kedatangan mereka sudah disambut dengan kendaraan ambulance yang memang sudah disiapkan rumah sakit xx dari negara sana.


Mereka semua masuk ke dalam mobil tersebut, dan tak lama mereka sampai di rumah sakit di mana Zia ditangani. Randy melihat wajah lelah sang mama juga istrinya. Sementara Zidan, bocah itu teridur pulas di pangkuannya.


Setelah memastikan Zia ditangani dokter, Randy mengajak keluarganya ke sebuah rumah yang akan tinggali mereka selama berada di Amerika. Letak rumah tersebut tak jauh dari rumah sakit. Lagi-lagi, dokter Zia yang ada di Indonesia membantunya mencari mansion di sana untuk mereka tinggali.


"Mas, Dokter Raka baik ya? Dia sampai repot-repot mencari rumah untuk kita dalam sekejap." Tanpa sadar Zia memuji pria lain di depan suaminya.


"Dokter Raka memang sering ke sini, jadi dia sudah hapal betul daerah sini. Kalau aku sering ke sini juga aku pasti bisa menemukan rumah dekat rumah sakit dalam sekejap."


Zia terheran-heran akan jawaban suaminya, apa mungkin pria itu cemburu dengan dokter Raka yang mendapatkan pujian dari Zia? Padahal, Zia tak ada niatan lain selain itu. Ia hanya mengatakan apa yang ia ketahui.


Setelah mengatakan itu, Randy pun masuk ke dalam rumah tersebut lebih dulu sambil menggendong Zidan. Sementara Zia dan Eva masih melihat-lihat seisi rumah tersebut. Rumah yang cukup luas. Lalu mereka masuk ke dalam.


"Zia, Mama istirahat di kamar ini saja." Kata Eva sambil menunjuk sebuah kamar yang terletak di lantai bawah. "Kayanya Randy di atas, kamu susul saja dia," kata Eva lagi.


"Iya, Ma. Mama juga istirahat." Karena mereka sampai malam hari di sana. Jadi Zia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dan menyusul suaminya.


Penasaran, Zia membuka pintu yang ada di kamar itu. Dilihatnya, ada tempat tidur lagi di sana. Zia tersenyum ketika ia melihat suaminya tengah menyelimuti buah hatinya. Sepertinya dokter Raka menyesuaikan rumah itu untuk keluarga Randy. Kamar juga di desain dengan apik, ada kamar anak di dalamnya.


"Wah ... Pilihan Dokter Raka tepat sekali dengan keluarga kita ya, Mas. Jadi kamar ini ada kamar lagi di dalamnya, aku suka. Jadi gak jauh dari Zidan kalau begini."


"Puji aja terus Dokter Raka-nya," celetuk Randy.


"Jadi ceritanya kamu cemburu, hmm?" Zia menghampiri suaminya.


Randy pun akhirnya menarik tubuh Zia hingga istrinya terjatuh tepat di pangkuannya. Randy melingkarkan tangannya di pinggang Zia, memeluknya dengan erat.


"Aku lelah, Mas. Aku mau mandi dulu terus istirahat." Kata Zia sembari melepaskan tangan suaminya dari pinggangnya.


Randy akhirnya pasrah, untuk kali ini ia melepaskan istrinya. Ia pun merasa penat karena perjalanan jauh, sejenak ia merebahkan tubuhnya di samping Zidan sambik menunggu istrinya memebersihkan tubuhnya. Karena ia pun sama akan membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


Zia selesai dengan rutinitasnya. Setelah memakai pakaian lengkap, ia menemeui suaminya.


"Mas, bangun," kata Zia.


Randy menggeliat sambil membuka matanya. Setelah itu ia beranjak, ia akan membersihkan diri. Setelah kepergian suaminya, Zia searching melalui internet. Ia memesan makanan khas Indonesia melalui online. Tidak memungkinkan untuk mereka keluar dari mansion karena hari sudah larut.


Randy selesai makan, disaat itu pula pesanan Zia datang.


"Mau kemana?" tanya Randy yang melihat istrinya hendak keluar dari kamar.


"Ada deh, kamu tunggu saja." Zia pun berlalu.


Karena penasaran, Randy menyusul setelah memakai bajunya. Ia menuruni anak tangga, ia melihat sang istri tengah menyusun mamakanan di atas meja. Randy mengerutkan keningnya karena bingung. Kapan istrinya itu memesan makanan?


"Makan dulu, Mas." Kata Zia sambil menyiapkan piring.


"Kapan kamu pesan ini? Ini makanan khas Indonesia." Kata Randy sambil mencicipi makanan tersebut.


"Tadi pas kamu mandi," jawabnya. "Aku panggil Mama dulu ya." Disaat Zia akan melangkahkan kakinya, Randy bersuara.


"Biar aku saja yang memanggil, Mama. Kamu tunggu saja di sini." Akhirnya Randy yang menemui sang mama.


***


"Ma, Mama sudah tidur?" tanya Randy setibanya di kamar sang mama.


Keadaan di sana sudah gelap, sudah dipastikan kalau mamanya pasti sudah tidur. Tak ingin mengganggu, Randy keluar dari kamar itu, dan kembali menemui istrinya yang setia menunggunya di ruanh maka.


"Mamanya mana, Mas?" tanya Zia.


"Mama sudah tidur, biarkan saja Mama istirahat."

__ADS_1


Mereka pun makan berdua, setelah makan mereka kembali ke kamar untuk tidur. Karena besok jadwal operasi Zia. Randy tak dapat tidur nyenyak malam ini karena memikirkan hari esok. Zia terus mengusap-ngusap punggung suaminya, agar pria itu merasa nyaman agar segera tidur. Dan benar saja, usapan lembut Zia mampu membuat suaminya tertidur. Dan akhirnya ia ikut tidur menyusul mimpi suaminya.


__ADS_2