Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 83


__ADS_3

Keesokkan paginya di rumah sakit.


Lampu yang menempel di atas pintu ruang operasi sudah menyala, dan itu artinya operasi akan segera dimulai. Randy terus mondar-mandir karena gelisah. Zia yang melihat langsung menegurnya.


"Mas, duduklah. Tenangkan dirimu," ucap Zia. Ia merasa pusing melihat suaminya mondar-mandir di hadapannya.


Akhirnya, Randy pun duduk di samping istrinya. Menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. Zia meraih tangan suaminya, ia mencoba menenangkan suaminya itu.


"Kita berdoa saja, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin operasi akan berjalan lancar," kata Zia.


"Hmm, semoga." Randy mencium tangan istrinya itu. "Terima kasih sudah menemaniku selama ini," tuturnya kembali.


Zia mengusap punggung suaminya sambil tersenyum. "Sama-sama, Mas," jawab Zia. Ingat suaminya belum makan, karena tadi ia tak berselera. Zia berinisiatif membelikannya makanan.


"Mas, aku pamit sebentar ya?" kata Zia.


"Mau kemana?" tanya Randy.


"Ke kantin, kamu 'kan belum makan. Aku gak mau kamu sakit, Mas. Sebentar kok, ya aku pergi," pamit Zia.


Diangguki oleh Randy. Dan Zia pun akhirnya pergi ke kantin. Setelah beberapa menit, ia kembali dengan membawakan makanan untuk suaminya. Membeli roti dan beberapa cemilan serta minuman.


Setibanya di depan suaminya, Zia mendudukkan diri lalu mengupas makanan tersebut dan memberikannya pada Randy.


"Makan dulu, Mas. Ganjal perut biar gak sakit." Kata Zia sambil menyodorkan sebuah roti.


"Terima kasih, sayang." Randy mengambil roti tersebut lalu memakannya. "Oh iya, Zidan rewel gak di rumah? Apa ada kabar dari Mama tentang Zidan?" tanya Randy disela-sela kunyahannya.


"Zidan anteng sama Omanya, tadi Mama sempat mengirimkan poto. Zidan sedang main di taman belakang," jawab Zia.


Randy merasa tenang mendengarnya. Ia hanya takut Zidan rewel, karena beberapa hari ke belakang putranya itu seperti sedang merasakan cemburu sosial pada kakaknya. Dan ia tak ingin putranya berpikir kalau ia hanya menyayangi Zia dan mengenyampingkan dirinya.


"Fokus ke Zia saja, selama Zidan bersama kita dia akan baik-baik saja. Dia juga mulai mengerti akan kondisi Kakaknya," ujar Zia.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, semoga anak-anak kita akur sampai dewasa nanti."


Operasi masih berlanjut, dokter tengah berjuang di dalam sana. Menyelamatkan seorang gadis kecil yang sangat cantik. Dokter Raka pun ikut menemani di dalam sana. Tak hanya pintar, dokter Rakan pun masih mudah. Diumurnya yang masih dua puluh lima tahun ia sudah menjadi seorang dokter.


Di dalam sana, ia hanya menemani Zia, si gadis bisu itu. Sesekali bibirnya terukir sebuah senyuman, usia Zia yang kini berumur 6 tahun itu, sudah terlihat sangat cantik dan begitu menggemaskan. Dokter Raka pun cukup dengan Zia selama pengobatannya sewaktu dulu. Mungkin beberapa bulan terakhir ia tak berjumpa karena ia sibuk di luar. Dan Zia pun dalam keadaan sehat.


Awalnya, dokter Raka nampak terkejut ketika mendapatkan panggilan dari Eva, yang mengatakan bahwa Zia kembali sakit. Ia kira bocah itu akan sembuh dan menjalani hidup normal. Tapi nyatanya tidak, mungkin dari lingkungan sekitar membuat Zia kembali drof.


Pada akhirnya, Zia harus menjalani operasi untuk yang pertama kalinya. Dokter Raka sangat berharap Zia sembuh dan dapat bicara. Sudah tiga jam operasi belum selesai, bahkan dokter yang menangani Zia sudah bercucuran keringat.


Pada akhirnya, operasi berjalan dengan lancar. Empat jam berlalu, dokter sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Dokter Raka bernapas lega.


"Syukur, operasi berjalan dengan lancar," kata dokter Raka sendiri.


Lampu yang tadinya menyala kini sudah padam. Zia menyadari akan hal itu, tapi Randy tertidur di kursi tunggu. Dan Zia membangunkan suaminya untuk memberitahukan bahwa operasi telah selesai.


"Mas, bangun. Operasinya sudah selesai." Zia mengguncangkan bahu suaminya.


Dengan seketika Randy terbangun.


Intinya mereka bicara tentang kondisi Zia ya para readers. Tak perlu dijabarkan ya🤭 othor gak ngerti bahasa begituan, intinya operasi berjalan lancar. Semoga Zia cepat sembuh. Othor juga ikut ngedoain deh😂😂


Yuk lanjut cerita.


Setelah percakapan itu selesai, dokter Raka keluar paling terakhir. Entah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana, karena cukup lama ia tidak keluar setelah dokter ahli bedah itu keluar.


"Bagaimana kondisi Zia?" tanya Randy lebih memastikan.


"Masih kritis, tapi operasi berjalan dengan lancar. Semoga masa kritisnya segera berlalu," jawab dokter Raka.


"Terima kasih ya, Dok?" kata Zia. "Terima kasih untuk semuanya.


"Oh, sama-sama. Oh ya, bagaimana dengan rumahnya? Apa kalian suka?" tanya dokter Raka.

__ADS_1


Baru saja Randy akan menjawab, tapi keduluan oleh Zia.


"Suka, Dok. Rumahnya bagus, sangat cocok untuk memiliki anak seperti kami. Lain kali dokter bisa mampir," tawar Zia. "Sekalian mengecek kondisi Zia nanti," sambungnya lagi.


"Oh, tentu. Bila perlu saya akan menjenguknya setiap hari," jawab dokter Raka.


"Setiap hari? Apa Dokter Raka akan tinggal di sini juga selama pengobatan Zia? Atau jangan-jangan ..." Randy malah memikirkan yang tidak-tidak pada dokter itu. Apa lagi setelah tahu istrinya selalu memujinya. "Ah, tapi gak mungkin istriku suka pada Dokter ini. Tampan aku kemana-mana."


"Mas, mikirin apa sih?" tanya Zia, karena ia hanya melihat suaminya itu bengong.


"Cuma mikirin Dokter Raka aja," jawab Randy keceplosan.


"Dokter Raka? Emang Dokter Raka kenapa?" Zia jadi ikut penasaran dengan apa yang dipikirkan suaminya itu.


"Ma-maksudku, kalau Dokter Raka menemui Zia setiap hari itu artinya Dokter Raka akan tinggal di sini juga?" tanya Randy pada dokter Raka.


"Iya, karena saya ikut tanggung jawab dengan pasien saya, Tuan."


"Apa iya alasannya itu? Tapi kenapa aku malah berpikiran lain." Lagi-lagi Randy berpikir yang tidak terhadap dokter Raka. "Jangan bilang kalay Dokter Raka menyukai Zia?" Randy menggelengkan kepala menepis semua yang ada dalam pikirannya.


"Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi!" Kata Randy sambil terus menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang tidak boleh, Mas?" tanya Zia heran.


"Apa Tuan tidak mengizinkan saya untuk menangani Zia?" tanya dokter Raka.


Pertanyaan dari mereka membuat Randy jadi terdiam. Pertanyaan itu seolah menjadi bomerang baginya. Apa ia memperlihatkan ketakutannya pada mereka sehingga mereka memiliki prasangka lain terhadapnya?


"Bukan begitu maksud saya, Dok. Tidak apa-apa kalau Dokter mau setiap hari berkunjung, gitu maksud saya, Dok." Elak Randy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ooo ... Begitu maksudnya," kata Zia. "Bilang dong begitu, jangan seperti tadi," sambungnya lagi.


"Oh iya, Dok. Kapan Zia dipindahkan dari ruang operasi?" tanya Zia pada dokter itu.

__ADS_1


"Mungkin setelah melewati masa kritisnya, semoga saja Zia akan segera sadar pasca opersai itu."


__ADS_2