
"Angga, Angga pasti tahu keberadaan Zia." Randy pun akhirnya menghubungi sahabatnya itu.
Dan sambungan langsung terhubung.
"Ya, ada apa, Ran?" jawab Angga di sebrang sana.
"Katakan, di mana, Zia?" tanya Randy sedikit bernada emosi.
"Loh, kenapa tanya padaku?" jawab Angga lagi.
"Jangan bohong, kamu. Kamu pasti tahu di mana istriku!"
"Maaf, Ran. Aku lagi sibuk, lagian apa untungnya aku menyembunyikan Zia darimu?" Sampai kapan pun, Angga tidak akan memberitahukan keberadaan Zia. Biarkan sahabatnya itu berjuang sendiri, karena itu memang salahnya.
"Sial," rutuk Randy. Ia pun langsung memutuskan panggilan itu, tidak ada gunanya menanyakan keberadaan Zia pada Angga. Setelah itu, ia langsung pergi menuju toko di mana Zia bekerja.
Mobil yang dikendarainya melaju begitu cepat, sudah seperti pembalap lihai. Ia menyalip satu persatu mobil yang ada di depannya, bahkan ia sempat dimarahi oleh pengemudi yang lain.
"Semoga saja kamu ada di sana, Zia," ucap Randy sendiri. Ia menambah laju mobilnya, hingga sampailah ia di toko. Randy sangat terkejut melihat toko yang masih tutup, ia yakin kalau istrinya itu marah padanya. Tapi di mana Zia sekarang?
Sampai Randy berpikir akan orang tua Zia.
"Ya, pasti orang tuanya yang membawanya." Tapi ia juga bingung harus mencari ke mana? Sedangkan ia sendiri tidak tahu siapa orang tuanya, Randy kembali menyesali perbuatannya. Andai waktu itu ia menemui mertuanya, semuanya pasti tidak akan seperti ini. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia kehilangan jejak istrinya, apa yang harus ia lakukan? Tidak ada titik terang baginya. Dengan gontai, Randy menuju mobilnya. Ia termenung di dalam sana, hidupnya sedikit kacau. Istri pertama pergi, istri kedua tengah sekarat bahkan sedang berjuang demi mengandung anak darinya.
"Aarrhhhh ..." Randy memukul stir kemudinya, ia merasa frutrasi. Detik berikutnya, ia kembali terpikir akan Camelia. Ia harap istrinya itu sudah sadar.
Ia pun kembali ke rumah sakit, untuk sementara ia memberikan waktu pada Zia, memberinya untuk berpikir. Ia tahu kalau istrinya itu pasti kecewa padanya.
***
Zia sedang berada di balkon, ia terus melihat ponselnya yang tergeletak di kursi balkon. Ia sengaja tidak menghidupkan ponselnya, ia tidak ingin terkena rayuan suaminya lagi. Ia putuskan untuk mengurus surat cerai, ia tidak bisa berlama-lama membiarkan masalah ini.
Ia juga berhak mendapatkan kebahagiaan, ia mencoba mengikhlaskan suaminya. Disaat sedang melamun, tiba-tiba lamunannya buyar ketika ia mendengar suara klakson mobil.
"Mbak, ada Mas Angga tuh," kata Mila.
"Mau ngapain?" tanya Zia.
__ADS_1
"Gak tahu, dia nanyain Mbak, tuh."
"Bilang padanya, Mbak gak mau diganggu!"
"Jangan gitu dong, sayang. Tamu adalah raja," sahut Zifa.
"Ma, statusku masih bersuami. Aku tidak mau menemui laki-laki lain," tolak Zia.
"Ya jangan punya pemikiran jelek, anggap dia teman atau saudara. Kasian juga, dia datang jauh-jauh ke sini. Gak ingat kemarin sudah merepotkannya, membantu pindahan," kata Zifa lagi.
Tidak ada pilihan, Zia pun akhirnya menemui Angga. Pria itu memang baik padanya, tapi kebaikannya itu ada niat tertentu dan Zia tidak suka itu. Apa lagi ia itu teman suaminya sendiri.
"Ada apa, Mas?" Tanya Zia seraya mendudukkan tubuhnya di sofa yang saling berhadapan dengan Angga.
"Kedatanganku kemari ingin mengatakan kalau tadi suamimu menghubungiku, dia menanyakan keberadaanmu. Apa aku harus mengatakan dan memberitahukan keberadaanmu padanya?"
"Aku tidak mau dia tahu, Mas. Aku minta tolong, jangan beritahukan keberadaanku. Papa marah, dan aku pun kecewa. Dia tetap tidak bisa adil dalam hubungan kami, hanya istri mudanya yang dia utamakan," jelas Zia.
Dalam hati, Angga bersorak sorai. Sepertinya ada peluang baginya untuk memiliki Zia. Ok, dari sini ia akan mulai. Untuk saat ini ia akan menjadi teman selagi ia butuhkan.
"Lalu, apa rencanamu sekarang?" tanya Angga.
"Apa Mas punya kenalan pengacara yang handal? Aku ingin mengurus perceraianku dengan Mas Randy."
Zia mengangguk mantap. Tidak ada pilihan lain selain berpisah, ia tidak ingin merasa tertekan dengan hubungan ini. Di sini, ia bagaikan cinta seorang diri. Randy datang ketika menginginkannya, menyalurkan hasratnya.
"Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, Mas punya kenalan handal. Mas yakin, prosesnya pasti dipercepat. Apa lagi dengan kondisi pernikahan kalian, maaf, aku tidak bermaksud-."
"Gak apa-apa, Mas. Itu memang kenyataannya," pungkas Zia.
***
Setelah pertemuannya dengan Angga, Zia langsung menyiapkan semua berkas tentang gugatan cerai yang ia daftarkan ke pengadilan.
Ia tinggal menunggu surat panggilan untuk sidang.
Hingga waktu yang ditunggu pun datang, sudah 3 minggu ia tidak bertemu dengan suaminya. Zia juga tahu kalau suaminya sempat mencari keberadaannya.
Dan sekaranglah waktunya ia bertemu dengan Randy, memberikan surat panggilan sidang itu secara langsung.
__ADS_1
***
Randy sedang bersama Camelia, istrinya itu sedikit pulih pasca selama 1 minggu tidak sadarkan diri. Ketika ia sedang menyuapi istrinya makan, ponsel miliknya berdering.
"Ran, ponselmu berdering terus. Kenapa tidak diangkat?" tanya Camelia.
"Paling dari kantor, itu tidak penting," jawab Angga yang terus menyuapi istrinya makan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Zia, kalian baik-baik saja 'kan?" tanya Camelia kemudian.
Randy terdiam sesaat, ia tidak mungkin memberitahukan akan kondisi rumah tangganya bersama Zia. Bahkan ia sendiri tidak tahu kabar istrinya. Seakan mati kutu mencari keberadaan Zia, tidak ada titik terang sedikit pun.
"Kami baik-baik saja, Mel. Jangan pikirkan itu," kata Randy.
"Baguslah kalau begitu, aku ingin Zia yang mengurus anak kita nanti. Karena umurku tidak mungkin bisa merawat anak ini."
"Sutt ... Jangan bicara seperti itu, kamu akan sembuh. Kita rawat anak kita sama-sama." Randy meletakkan piring dari tangannya ke atas meja, ia memeluk tubuh istrinya yang semakin hari semakin kurus. Bahkan rambutnya pun sudah mulai rontok karena sering menjalani kemo.
"Pokoknya aku titip anak kita, dan Zia yang harus merawatnya," kekeh Camelia.
"Hentikan ucapanmu! Kamu akan sembuh, kita rawat anak kita sama-sama." Setelah berhasil menenangkan istrinya, Randy pamit terlebih dulu untuk pulang. Ia akan mengambil baju ganti dan menyimpan baju kotor untuk dicuci.
Sampai Randy lupa tidak mengecek ponsel yang tadi sempat berbunyi, sebelum pulang ke rumah. Randy pergi ke tempat laundry, ia mencuci bajunya di sana. Setelahnya, ia segera pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia melihat keberadaan seseorang.
Seseorang yang sudah lama ia rindukan, hampir 1 bulan ia tidak bertemu dengan Zia. Randy langsung menghampiri dan memeluk Zia dari belakang.
"Kamu kemana saja? Aku rindu." Kata Randy sambil memeluk Zia.
Zia melapaskan tangan suaminya yang melingkar di tubuhnya. Kedatangannya kemari bukan untuk melepas rindu, melainkan melepas diri dari hidup suaminya.
"Aku ke sini untuk memberikan ini." Zia memberikan map berwarna coklat pada suaminya.
Randy langsung saja membuka map tersebut, seketika tubuhnya menjadi lemas.
"Apa maksudnya ini?" tanya Randy.
"Surat panggilan dari pengadilan, aku ikhlas melepasmu untuk Camelia. Kamu tidak perlu lagi membagi waktumu, waktumu hanya untuk istri mudamu, seorang."
Setelah mengatakan itu, Zia langsung undur diri dari hadapan Randy. Randy yang belum percaya akan semua ini malah terlihat seperti patung, kepergian Zia saja ia tak menyadarinya.
__ADS_1
Zia langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu tenang saja, selama ada aku kalian akan baik-baik saja," kata Angga.