
Zia menghela napas sebelum ia mengemas semua barang-barang miliknya. Ia pun melirik ke arah Zidan, bocah itu tengah menatap jalan dari arah jendela. Sebetulnya, ia masih ingin berada di kota kembang. Banyak wahana yang belum ia jumpai di daerah jawa barat.
Zia menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menghampiri anaknya. Mengusap lembut pucuk kepala Zidan, sampai bocah itu mendongakkan wajahnya ke arahnya.
"Jangan cemberut dong, anak Mama gak biasanya begini. Mana Zidan yang selalu ceria?" Zia meraih tubuh subur itu.
"Papa gak sayang aku, Papa cuma mikirin perasaan Zia. Tahu begini aku gak usah ketemu Papa." Zidan menelusupkan wajahnya di leher sang mama.
"Hus ... Jangan ngomong gitu, gak baik. Papa sayang kok sama Zidan, mungkin Kakakmu memang bener mau pulang. Lain kali kita bertiga jalan-jalan." Zia mencoba menenangkan anaknya.
"Bener?" tanya Zidan sambil mengangkat wajahnya dan melihat pada mamanya.
"Iya." Zia mencium gemas putra itu.
Sementara di belakang mereka, Randy mendengar semuanya. Termasuk keluh kesah Zidan. Hatinya terasa sakit ketika anaknya memilih untuk tidak bertemu dengannya. Ia juga bingung dengan situasi seperti ini. Zidan anaknya, Zia pun anaknya.
Ia merasa dipojokkan, sepertinya papa mertuanya sedang mengujinya. Mungkin yang diinginkan Arya ia lebih sayang ke Zidan dari pada ke Zia. Ini situasi yang sulit, di mana ia harus memilih. Sedangkan ia tak bisa memilih dari salah satunya, ia sangat menyayangi anak-anaknya.
Perlahan namun pasti, ia menghampiri istri dan anaknya lalu memeluknya dari arah belakang.
"Mas."
"Pa."
Kata Zia dan Zidan secara bersamaan.
"Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu," kata Randy pada istrinya. "Maafkan Papa ya, sayang. Papa janji, setibanya di Jakarta nanti kita main bersama," sambungnya pada Zidan.
"Papa janji ya? Janji itu adalah hutang, dosa kalau papa mengingkarinya," kata Zidan.
"Iya, Papa janji."
"Kata Mama cuma kita bertiga, bertiga loh, Pa." Zidan mengacungkan tiga jarinya ke arah Randy.
"Ok, Bos," kata Randy.
"Semuanya sudah di packing 'kan?" tanya Randy soal pakainnya.
"Sudah," jawab Zia.
Tak lama kemudian, Arya datang bersama Zifa. Mereka belum tahu bahwa anak dan cucunya kembali ke Jakarta hari ini juga. Kedatangannya, ia ingin mengajak cucunya jalan-jalan di sini. Namun, ia terkejut ketika pandangannya melihat koper yang ada di dekat sofa.
"Kalian mau ke mana?" tanya Arya.
__ADS_1
"Pulang, kita mau pulang, Kek," jawab Zidan.
"Pulang? Gak salah? Belum juga ada satu hari kalian di sini, masa udah mau pulang sih. Kalian bertengkar?" duga Arya.
"Gak, Pa. Kita baik-baik saja," jawab Zia. "Iya 'kan, Mas?" tanya Zia.
"Iya, Pa. Kita baik-baik saja," sahut Randy.
"Jangan salah sangka terus, Pa," timpal Zifa.
"Tapi kenapa kalian pulang cepat? Rencananyakan di sini beberapa hari?" tanya Arya lagi.
"Zia mau pulang, Kek. Jadi kita semua pulang sekarang," jawab Zidan apa adanya.
"Lagi-lagi anak itu," guman Arya.
"Maksud, Papa?" tanya Randy. Meski ucapan Arya pelan, tapi ia cukup mendengarnya. Segitunya papa mertuanya tak menyukai anaknya? Pikir Randy. Untuk saat ini ia masih bersabar dengan sikap papa mertuanya itu. Selagi tidak menyakiti putrinya ia akan selalu bersikap sopan.
"Gak ada maksud apa-apa," elak Arya.
"Kalau kalian mau pulang, pulang saja sana. Biarkan Zidan di sini bersama, Papa," pinta Arya. "Biar Papa yang mengajak Zidan jalan-jalan, dari dulu juga Zidan sudah terbiasa tanpa Papanya," celetuk Arya.
Randy mengepalkan tangannya, ia menahan amarah yang selalu dioancing oleh mertuanya itu. Memejamkan matanya sejenak, lalu menghela napas dalam-dalam. "Sabar." Randy meneglus dadanya sendiri.
"Masa?" Arya tak percaya. "Mending sama Kakek di sini, sekarang juga berangkat."
"Gak, Kek. Aku mau sama Papa saja," kekeh Zidan.
"Hmmm ... Baiklah," jawab Arya. "Jangan sia-siakan Zia dan Zidan kali ini, kalau tidak ingin berpisah lagi dengan mereka," bisiknya di telinga Randy. Setelah itu, Arya pun keluar dari kamar hotel. Dan ia melihat cucu tirinya yang tengah berdiri di ambang pintu, ia yakin kalau anak itu mendengar ucapannya.
Arya menatap tajam pada bocah itu, ia memang ingin Zidan yang memiliki papanya seorang diri. Mungkin jika dari dulu anak ini tidak ada, Zidan pasti bahagia. Tapi sampai sekarang pun Zidan tak bisa memiliki hati papanya itu, dan ini semua harus terbagi dengan anak bisu itu.
Zia merasa takut dengan tatapan tajam dari kakek tirinya itu. Ia hanya bisa bersembunyi di balik pintu.
"Pa, jangan seperti itu. Kasian dia." Kata Zifa memperingati suaminya yang menatap tajam Zia.
Arya tak menjawab, ia langsung saja pergi dari sana.
Setelah kepergian Arya dan Zifa, Randy langsung mengajak anak dan istrinya pulang segera. Ia meraih koper yang memang sudah dikemas. Namun, ia lupa akan sesuatu. Ia tak melihat keberadaan putrinya.
"Sayang, Zia mana? Dari tadi aku gak melihatnya?" tanya Randy pada istrinya.
"Astagfirallah, aku sampai lupa, Mas."
__ADS_1
Randy meletakkan koper lebih dulu di lantai. Lalu, ia mencari anaknya. Hingga tatapannya melihat sosok Zia yang tengah bersandar di dekat pintu. Gadis kecil itu berjongkok dengan tubuh bergetar, ia merasa tertekan akan sikap kakek tirinya. Apa salahnya? Ia hanya seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa.
"Zia, sedang apa kamu di sini?" tanya Randy ketika melihat putrinya.
Zia yang mendengar langsung berdiri dan mengusap sudut matanya yang basah. Gadis kecil itu langsung memeluk papanya.
"Hey, kenapa? Kita pulang sekarang," kata Randy.
Zia dan Zidan pun menghampiri.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Zia.
Zia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia tidak apa-apa.
"Mas, kenapa?" tanya Zia pada suaminya.
"Mas juga gak tahu, tapi ya sudah, kita berangkat sekarang juga. Sepertinya memang tidak ada yang beres di sini."
***
"Mas, awas!" kata Zia.
Randy tidak fokus pada kendaraannya, hampir saja ia menabrak trotoar.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kita istirahat saja kalau begitu," ucap Zia.
Zidan dan Zia serta pengasuh yang duduk di belakang langsung tersungkur.
Khawatir, Zia langsung mengecek anak-anaknya.
"Bi, anak-anak gak apa-apa 'kan?" tanya Zia pada pengasuh anaknya.
Pengasuh itu mengecek lebih dulu sebelum menjawab. Setelah selesai memastikannya, ia pun menjawab.
"Gak apa-apa, Bu. Anak-anak baik-baik saja," jawab pengasuh itu.
Zia bernapas lega. Lalu ia kembali menatap suaminya.
"Hati-hati dong, Mas! Kalau begini bukannya sampai rumah, tapi rumah sakit!" kesal Zia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Holla-holla ... Mampir di sini juga yuk? Karya teman othor juga, yuk kepoin ceritanya menarik loh. Maaf ya kalau tulisannya bertebaran typo, 🙏🙏
__ADS_1