
Setelah berbincang di kantor dan Zidan pun merengek bosan berada di sana, Zia dan Yola pergi meninggalkan kantor. Ia pergi ke sebuah restaurant yang cukup terkenal di sana.
***
"Oh iya, Zi. Kamu tidak berniat menikah lagi?" tanya Yola setelah mereka berada di restaurant.
"Entahlah, aku bingung. Terlalu banyak yang mendaftar ingin menjadi papa Zidan, aku pusing memeilihnya," jawab Zia disertai sebuah becandaan.
"Ish ...," desis Yola. "Aku serius, Zi. Tadi juga aku melihat Zidan melamun di ambang pintu, ia melihat muridku yang bernama Zia itu dijemput papanya," jelas Yola.
"Aku tak kalah serius, kok," ujar Zia. Dan itu memang benar adanya, Zia janda kembang dengan sejuta pesona. Wajahnya yang cantik dan perilaku yang baik juga sopan, menjadi pemikat banyak lelaki yang menginginkannya. Apa lagi usaha yang dilakoninya adalah sebagai pemimpin perusahaan properti, tentu ia banyak bertemu dengan orang baru setiap harinya.
Dan sebenarnya, ia sedang dekat dengan seseorang. Ia tidak ingin terlalu buru-buru dengan hubungannya itu, terlebih lagi ia sudah mempunyai seorang putra. Ia ingin tahu terlebih dulu latar belakang calonnya itu. Ia tidak ingin menyesal dikemudian hari.
"Sebenarnya, Papaku berniat menjodohkanku dengan anak sahabatnya, Yol. Tapi aku masih ragu karena aku takut dia tidak menyayangi Zidan. Sebuah pernikah itu bukan hanya sehari dua hari, apa lagi aku yang pernah gagal dalam berrumah tangga," jelas Zia.
Disaat sedang berbincang, tiba-tiba saja ada yang menemui mereka. Seorang pria tampan dengan berpakain sangat rapi dengan rambutnya yang klimis ciri khas-nya. Lelaki itu menyapa Zia dan Yola
"Selamat siang, Nona-Nona ...," sapa orang itu.
Zia dan Yola langsung menoleh ke arah sumber, ternyata pria yang mereka bicarakan Zia itu muncul secara tiba-tiba di depan mata. Tanpa dipersilahkan duduk, pria itu pun langsung ikut bergabung. Duduk di sebelah Zidan. Ia melihat keberadaan anak kecil yang sedang bermain game.
"Hay ganteng, siapa namamu?" tanya pria itu pada Zidan. Zidan yang merasa tidak kenal langsung melipir dan bersembunyi di balik tubuh sang mama.
"Ma, takut," kata Zidan. Zidan tak mudah dekat dengan orang baru, apa lagi seorang lelaki dewasa yang mencoba mendekatinya. Karena hanya Angga yang ia kenal.
Yola sendiri mengarahkan pandangannya ke arah Zia, alisnya terangkat seolah bertanya siapa orang ini? Kenapa tiba-tiba saja orang ini duduk di sini?
"Jangan takut, sayang. Dia Om Amar, teman Mama," terang Zia pada Zidan.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin. Dia Amar," kenal Zia pada Yola. "Dan ini, Yola. Teman sekaligus guru sekolah Zidan," sambungnya pada Amar.
Amar mengulurkan tangan pada Yola, tapi Yola hanya mengatupkan tangan di dada. Sebagai tanda salam kenalnya pada pria itu. Amar pun langsung menarik tangannya kembali, ia ikut mengatupkan kedua tangannya seperti apa yang dilakukan Yola.
"Amar itu siapa?" bisik Yola di telinga Zia.
Zia tidak menjawab, karena ia merasa tidak sopan berbisik-bisik kala di dekatnya ada seseorang. Dan peebincangan mereka berlanjut, Zidan pun duduk kembali di kursinya. Bocah itu asyik bermain game kesukaannya.
"Kalian dari tadi di sini?" Amar kemudian.
"Gak, kami juga belum lama," jawab Zia. Dan terbukti mereka memang belum lama karena meja pun masih terlihat kosong karena belum pesan makanan.
Dan mereka pun langsung memesan makanan dan Amar ikut makan bersama dengan mereka. Ini sebuah kesempatan baginya, kapan lagi mendekatkan diri dengan Zia? Terlebih lagi dengan putra semata wayang calonnya itu. Karena Amar menyukai Zia, dan ia menerima perjodohan yang ditawarkan Arya padanya.
***
Randy sedang membujuk putrinya yang sedang mogok makan, ia tidak mau makan sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Masih belum mau makan?" tanya Eva pada Randy mengenai cucunya.
"Belum, Ma. Dia tetap minta aku membawakan mama untuknya." Jawab Randy sambil menghela napas. Kalau sudah begini, ia tak dapat membujuk Zia yang sedang merajuk.
"Kenapa tiba-tiba Zia meminta seorang, mama?" tanya Eva lagi.
"Tadi, di sekolahnya mendapatkan tugas, dan tugas itu menceritakan sosok mama." Jelas Randy dengan raut wajahnya yang sedih, ia sendiri bisa membayangkan jadi diri anaknya.
"Mama sudah bilang padamu, carilah calon untuk dijadikan istri agar Zia tidak kesepian," ujar Eva.
"Tidak semudah itu, Ma. Kalau hanya sekedar perempuan itu banyak, aku takut tidak menyayangi anakku." Randy sadar dirk akan kekurangan putrinya, lagian ia tak berniat menikah kembali, kecuali ia dipertemukan dengan Zia mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengharapkan Zia?" tanya Eva.
Randy tak menjawab, ia malah mengalihkan pembicaraan.
"Aku coba bujuk Zia lagi, siapa tahu dia mau makan." Randy kembali mengetuk pintu kamar putrinya, karena Zia tengah mengurung diri di kamar.
"Sayang, ayo dong buka pintunya. Nanti kita pergi jalan-jalan, Papa janji, apa pun yang kamu mau Papa turuti."
Tak lama dari situ, Zia membuka pintunya. Ia akan menagih janji apa yang sudah dijanjikan oleh papanya itu.
"Zia makan ya? Kasian cacing-cacing yang ada di dalam perut sini." Kata Randy sambil mengusap perut anaknya.
Zia memperagakan tangannya yang sedang menagih janji papanya, ia ingin seorang ibu hadir dalam hidupnya. Ia ingin seperti anak yang lainnya, memiliki mama, dan mengantarnya ke sekolah.
"Iya, Papa janji," kata Randy. Ia mengerti apa yang diinginkan putrinya itu.
Eva yang menyaksikan itu menjadi sedih, tak terasa air matanya terjatuh. Tidak ingin Randy melihatnya, buru-buru ia menghapusnya. Tapi sayang, sepertinya Randy mengetahuinya.
"Aku ajak Zia makan dulu." Ujar Randy seraya menuyun tangan putrinya dan mengajak Zia pergi ke ruang makan.
Randy menyuapi putrinya itu makan, ia lakukan itu hampir setiap hari. Karena ia menjadi sosok ayah sekaligus mama bagi putri semata wayangnya.
"Mau nambah?" tanya Randy ketika makanannya yang di piring mulai mau habis.
Zia menggeleng, dan mengusap perutnya. Menandakan ia sudah kenyang, ia pun meminta minum. Randy memberikan gelas berisi air kepada putrinya, Zia langsung meminumnya hingga tandas. Sampai Zia bersendawa setelah menghabiskan minumannya.
"Alhamdulilah," ucap Randy ketika mendengar putrinya bersendawa.
Zia yang merasa malu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tersenyum pada papanya. Randy pun ikut tersenyum dan sedikit mengacak rambut putrinya itu. Kepolosan Zia selalu membuat Randy tersenyum, ia bahagia hidup bersama putrinya meski putrinya itu ada yang kurang dala. dirinya. Itu tak menjadi alasan baginya untuk tidak menyayanginya.
__ADS_1