Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 68


__ADS_3

"Pagi semua," kata orang itu, ia langsung menghampiri ke ruang makan. Mirna yang hendak beranjak itu tidak jadi pergi karena anak perempuannya datang berkunjung.


Adik Amar yang bernama Lira itu tahu akan kedatangan sang kakak. Meski jarang bertemu, tapi mereka lancar berkomunikasi. Lira tahu akan pernikahan kakaknya itu, karena Amar langsung cerita akan kejadian perkara.


Wanita itu datang bersama anak dan suaminya, ia memiliki anak yang sangat lucu dan usianya baru 7 bulan. Berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Altaf.


"Pagi, Ma." Lira mencium tangan punggung lalu mencium kedua pipi mamanya, disusul oleh suami tercinta yang bernama Aries. Tak lupa menghampiri sang kakak.


Mereka sudah lama tak bertemu, mungkin hampir 2 minggu tak berjumpa.


"Cucu, Oma. Sini, biar Oma gendong." Mirna mengambil alih dari gendongan Aries, dan pria itu pun memberikannya. Aries sendiri menghampiri kakak iparnya, kedua pria itu saling memeluk.


Lira menyenggol tangan sang kakak dengan mata terarah pada seorang gadis yang ada di samping Amar. Lira berpikir sudah tidak gadis lagi, karena ia melihat ada beberapa tanda di leher wanita itu.


"Permainanmu ganas juga, Kak," bisik Lira.


Meski berbisik, Rani mendengar itu. Ia membetulkan kerah baju yang ia kenakan, sedikit malu karena baju yang dipakainya adalah milik adik iparnya.


Lira tersenyum ke arah Rani, karena Lira sama hangatnya seperti Amar. Ia bisa berbaur dengan siapa saja.


"Kenalin dong, Kak," kata Lira.


Amar meraih pundak Rani, merangkulnya sambil berkata. "Kenalkan, ini Lira. Adikku satu-satunya yang paling nyebelin," terang Amar.


Rani tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Lira.


"Rani."


"Lira, adik dari Kak Amar yang menjengkelkan," kekeh Lira.


Kedua wanita itu tersenyum, lalu Aries ikut mengenalkan diri.


"Aries, suami Lira," kata Aries.


"Rani."


Sementara di sebrang sana, Mirna melihat keakraban anak perempuannya dengan menantunya. Ia masih belum bisa terima akan keputusan Amar, ia kecewa karena mengetahui kabar ini dari orang lain. Bukan dari anaknya sendiri. Terlebih lagi ia malu pada keluarga Carla yang sudah melamar gadis itu menjadi pendamping anaknya. Karena Mirna merasa Amar pun menyukai sahabatnya itu, mereka terlihat akrab dan dekat jika sudah berduaan.

__ADS_1


Lira dan sang suami ikut sarapan bersama-sama. Tapi tidak dengan Mirna, wanita paruh baya itu mengajak sang cucu pergi ke kamar. Karena anak balita itu tertidur setibanya di kediaman miliknya.


"Kak, Mama gimana?" tanya Lira pada Amar yang sedang sarapan.


"Seperti yang kamu lihat, Mama masih dingin. kayaknya, Mama belum terima," jelas Amar.


Lira menghela napas, lalu melirik ke arah Rani. Gadis itu cantik dan terlihat baik, bahkan dia tak banyak bicara. Hanya diam, dan sesekali ikut tersenyum menimpali percakapan kakak beradik itu.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu," kata Aries berpamitan pada Lira.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati," tukas Lira.


"Mas, Mbak. Saya permisi dulu," pamit Aries kemudian pada kakak iparnya.


"Iya, Ries. Hati-hati," jawab Amar.


Setelah kepergian Aries, Lira dan Amar kembali berbincang. Sedangkan Rani, ia malah membereskan meja makan. Ia ngeyel, meski sudah dilarang oleh suaminya. Karena memang sudah terbiasa mengerjakan sesuatu sendiri Rani pun mengerjakan pekerjaan pembantu.


"Duh, Neng ... Ini pekerjaan, Bibi." Pembantu di rumah itu mengambil alih piring kotor yang ada di tangan Rani.


"Gak apa-apa, Bi. Saya terbiasa mengerjakan ini, kok." Rani segera menghindar dari pembantu itu, ia pergi ke tempat pencucian piring.


Selesai mencuci piring, Rani kembali menemui suami dan adik iparnya yang masih sedang mengobrol.


"Bantu, Mas ya? Bantu bujuk Mama dan bicarakan ini pelan-pelan. Dan batalkan perjodohan Mas dengan Carla, Mas tidak mungkin menikah dengannya," tutur Amar.


"Iya, aku akan coba bujuk. Kalian tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku, Mama pasti menerima Rani."


Rani pun ikut tersenyum, setidaknya adik iparnya mendukungnya.


"Lira, maaf. Baju yang aku kenakan-." Belum Rani menyelesaikan ucapannya, Lira langsung memotongnya.


"Gak apa-apa, pakai saja. Lagian, itu sudah tidak muat di tubuhku. Lihat, setelah melahirkan tubuhku jadi gendut." Karena sedang memberi asi, ia tak mengontrol asupannya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.


"Terima kasih," ucap Rani.


"Pakai saja semuanya, sayang kalau gak ada yang pakai. Baju baru juga ada beberapa di lemari," imbuh Lira kembali.

__ADS_1


"Iya." Rani tersenyum.


"Ajak shoping dong, Mas," kata Lira pada sang kakak.


"Iya, aku mengajaknya. Kemarin belum sempat," jawab Amar.


***


Sesuai keinginan sang kakak, Lira pergi menemui mamanya setelah berbincang dengan Amar. Beralasan ia ingin menemui anaknya yang tertidur di sana.


"Ma," panggil Lira.


Wanita paruh baya itu sedang berdiri di dekat jendela. Menatap ke arah luar sambil merasakan angin segar di sana.


Lira semakin mendekat, dan ikut bersandar di tubuh sang mama.


"Mama kenapa? Kok, melamun sih. Ada yang Mama pikirkan? Coba cerita padaku, siapa tahu aku bisa membantu, Mama." Lira mengusap-usap pundak mamanya dari belakang.


Wanita itu membalikkan tubuhnya, dan menatap ke arah Lira.


"Apa yang akan kamu lakukan jika menjadi, Mama?" Mirna langsung bertanya.


"Simple, batalkan perjodohan itu, lalu menerima Rani menjadi menantu di keluarga ini," jawab Lira.


"Kamu tidak mengerti, Lira. Perasaan Mama sakit ketika anak lelaki Mama menikah tanpa sepengetahuan Mama," terang Mirna.


"Lalu harus bagaimana? Mas Amar sudah menikah, Carla juga pasti mengerti kondisi Mas Amar." Lira terus meyakinkan sang mama bahwa Rani pantas bersanding dengan kakaknya itu, dan pernikahan mereka sudah sakral. "Mama jangan egois, Mama tidak ingin 'kan kalau Mas Amar pergi?"


"Apa benar yang dikatakan, Lira? Tapi aku benar-benar kecewa dengan pilihan Amar." Mirna terus memikirkan akan hal itu.


"Sudahlah, Ma. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Mama malah sakit. Mas Amar tahu yang terbaik untuknya, Mama lihatkan? Mereka saling mencintai, jangan memisahkan mereka, ya?" pinta Lira.


"Bukan hanya Mas Amar yang kecewa sama Mama, aku juga pasti kecewa. Mama yang aku kenal tidak pernah membandingkan status orang," ucap Lira lagi.


Tak lama, percakapan mereka berakhir karena Altaf terbangun dari tidurnya.


"Anak Bunda sudah bangun." Lira menghampiri anaknya, lalu menggendong Altaf mambawanya pergi dari kamar Mirna.

__ADS_1


Kini hanya tinggal Mirna seorang diri di sana, ia terus memikirkan perkataan Lira tadi. Mirna beranjak dari tempatnya, ia mengambil benda pipih miliknya. Berniat menghubungi seseorang.


"Hallo." Kata Mirna setelah sambungan itu terjawab.


__ADS_2