Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 62


__ADS_3

Sesudah menenangkan Rani, Amar mengajaknya untuk menemui ayah dari istrinya


***


Rani dan Amar mencari akan keberadaan Kusno. Mereka melewati jalan setapak, menulusuri perkampungan. Banyak pasang mata yang melihat mereka, hingga banyak orang-orang yang berbisik. Pernikahan mereka semalam langsung menyebar luas.


Amar bisa merasakan apa yang Rani rasakan, gadis itu berjalan dengan wajah menunduk. Tak berani menatap orang sekitar yang mereka berdua lalui. Tak ingin membiarkan istrinya seperti itu seorang diri, bagaimana pun gadis yang berjalan bersamanya adalah istrinya. Ia juga ingin membuktikan pada warga bahwa mereka menikah karena cinta, meski ia belum tahu bagaimana isi hati istrinya.


Amar meraih tangan Rani, menggenggamnya sambil berjalan. Dan Rani langsung menoleh ke arah tangannya lalu menoleh ke arah wajah suaminya. Sedangkan Amar, dengan gaya coolnya ia terus berjalan tanpa melihat ke arah istrinya sedikit pun.


Hingga akhirnya, mereka menemukan Kusno tengah berkerja. Pria paruh baya itu sedang membantu warga yang sedang memuat barang ke dalam mobil bak. Memikul beban di pundak membuat Rani langsung menghampiri.


"Ayah." Rani melepaskan pegangan tangan suaminya. "Ayah sedang apa di sini?" tanya Rani.


Kusno yang mendengar langsung menoleh ka arah sumber suara.


"Rani," ucap Kusano. "Ayah sedang kerja, kamu ngapain di sini? Suamimu mana?" Kusno belum melihat keberadaan menantunya itu.


"Tuh ..." Rani menunjuk ke arah Amar yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya dan menggunakan wajahnya.


Tak lama, Amar pun mendekat. Bahkan ia membantu menurukan karung yang sedang dipikul oleh ayah mertuanya itu, dan meletakkannya ke dalam mobil bak.


"Ayah jangan kerja berat-berat seperti ini," kata Amar seusai membantu pria paruh baya itu menurunkan karung.


"Kalau tidak kerja mau makan dari mana, nak Amar? Ayah tidak mau lagi merepotkan Rani," jelas Kusno.


"Ayah, sudah sewajarnya aku berbakti pada Ayah. Selama ini Ayah sudah merawatku dan membesarkanku." Rani jadi teringat akan di mana sang ayah mengurusnya dari kecil, bahkan bahkan sejak lahir. Ibu Rani meninggal saat melagirkannya, ia juga teringat bagaimana ayahnya melewati itu semua.


Kusno hapir stres ditinggalkan istri tercintanya, tak hanya dari situ, ia sering mabuk karena mencoba mengilangkan ingatannya pada istrinya. Hanya saja caranya yang salah, salah bergaul dengan orang yang tidak benar. Meski pun begitu, ia begitu menyayangi anaknya.


Pada akhirnya, kemarin-kemarin Kusno kambuh dalam mengkonsumsi minuman beralkohol. Ia sempat berlaku kasar pada anaknya, tapi sekarang, sepertinya ia sudah mulai menjalani hidupnya yang normal. Ia kasihan melihat putrinya yang harus banting tulang membiayai kebutuhannya sehari-hari.


"Pulanglah, di sini panas," titah Kusno pada anak dan mantunya.


"Bukan hanya Rani dan Mas Amar yang pulang, Ayah juga pulang ya?" ajak Rani.

__ADS_1


"Iya, Yah. Ayah jangan lagi berkerja seperti ini. Sudah ada aku yang akan ikut tanggung jawab, karena aku juga anakmu," jelas Amar.


Kusno tersenyum mendengar penuturan menantunya itu, Rani beruntung memiliki suami seperti Amar.


"Ayok, Yah. Kita pulang?" ajak Amar kemudian.


"Sebentar, Ayah pamit dulu ke juragan Johar." Kusno pergi menemui juragan Johar.


Sementara Rani dan Amar saling terdiam, Rani bingung harus berbuat apa? Pasalnya, suaminya ternyata begitu baik. Bukan hanya pada dirinya, terhadap ayahnya pun sangat baik.


"Terima kasih ya, Mas?" ucap Rani.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Amar.


"Sudah berlaku baik padaku juga pada Ayah," jelas Rani.


"Itu sudah seharunya. Kamu istriku, itu artinya Ayahmu juga Ayahku," kata Amar.


Tak lama dari situ, Kusno sudah kembali.


"Ayok, kita pulang," ajak Kusno kemudian. "Rani, Ayah laper. Kamu bawa uang tidak?" tanya Kusno dengan berbisik, ia takut menantunya mengetahuinya.


"Rani gak bawa uang, Yah," balas Rani membisik.


Kusno pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain sampai di rumah. Karena terus berjalan, tak terasa mereka sampai di kediaman Rani yang sederhana.


"Rani, kamu siap-siap. Sekalian Ayah juga siap-siap," kata Amar setibanya di rumah.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Rani.


"Sudah, siap-siap saja dulu," titahnya kemudian.


"Ayok, Yah. Kata Mas Amar suruh siap-siap," ajak Rani pada ayahnya.


***

__ADS_1


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Rani yang sudah dalam perjalanan.


"Kita ke restauran, aku mau ajak Ayah makan sepuasnya di sana," jawab Amar.


Mendengar itu, mata Rani langsung berkaca-kaca. Sejujurnya, ia belum pernah mengajak ayahnya makan di tempat mewah. Ia merasa terharu akan kebaikan suaminya itu, semoga saja Amar memang baik dan tulus.


Menuju sampai perkotaan membutuhkan waktu sekitar 45 menit, karena rumah Rani terletak dipelosok meski tinggal di jakarta. Jauh dari perkotaan.


Dan akhirnya, mereka sampai di retaurant di mana Rani berkerja. Sesampainya di sana, bos-nya Rani melihat keberadaannya. Sontak membuat manager-nya itu marah besar padanya. Karena telat datang ke tempat kerja, apa lagi Rani memiliki tunggakkan. Sebelum menerima gaji, ia meminta gajinya sebelum tanggal yang ditentukan. Ini yang membuat Rani tidak bisa membolos kerja.


"Kamu kemana saja? Masih niat kerja gak sih?" tanya manager itu sambil berkacak pinggang.


Karena takut, Rani menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh suaminya seolah meminta perlindungan.


"Ada apa ini?" tanya Amar, "saya tamy di sini, jadi bersikap sopanlah," katanya lagi.


"Maaf, Tuan. Saya bicara bukan pada Anda, tapi sama karyawan saya," jelas manager itu.


"Siapa karyawanmu?" tanya Amar, "apa karyawan yang kamu maksud itu, dia?" Amar menggeserkan tubuhnya agar manager di restaurant itu melihat keberadaan Rani


"Iya, Tuan," jawab orang itu.


"Dengar! Mulai hari ini, dia bukan lagi karyawanmu!" tegar Amar.


"Tidak bisa, dia punya tunggakkan di restauran ini."


"Saya akan melunasi tunggakkan istrinya saya."


Sang manager itu terkejut mendengar penuturan Amar, siapa yang tak mengenal pemuda ini? Amar sering datang ke restauran itu bersama client pentingnya untuk meeting.


"Perlu Anda tahu, Rani itu sekarang istriku." Dengan bangganya Amar mengakui Rani sebagai istrinya, "layani kami sebaik mungkin." Setelah mengatakan itu, Amar pun berjalan sambil meraih tangan Rani. Menggenggam tangannya sampai ke meja yang ia pesan sebelumnya lewat ponsel.


Para pelayan yang berada di sana langsung melihat ke arah Rani dengan terheran-heran. Pasalnya yang mereka tahu, Rani itu hanya gadis kampung dan sekarang nasibnya berubah karena bersanding dengan lelaki seperti Amar, pengusaha muda yang terbilang cukup sukses di masa sekarang.


Rani dan Amar setra ayahnya mendudukkan diri di kursi meja makan. Mereka dilayani dengan baik sesuai perintah.

__ADS_1


Disaat sedang makan bersama, tiba-tiba ada yang memanggilnya.


"Amar," panggil orang itu.


__ADS_2