
Di Indonesia.
Arya dan Zifa tengah berdebat mengenai kepindahan Zia anaknya. Zifa menyalahkan sang suami akan tindakan yang diambil oleh Zia.
"Semua ini gara-gara, Papa! Papa terlalu egois dengan semua dendam Papa pada keluarga Randy. Ingat! Papa Randy itu sudah meninggal!"
Arya terdiam, ia memikirkan masalah ini beberapa hari lalu. Andai ia bisa melupakan semua kesalahan yang diperbuat papa menantunya itu. Bahkan Zia sendiri enggan untuk bertemu dengannya, terlebih ia tidak menyukai si Zia kecil.
Hanya penyesalan yang tersisa dalam dirinya. Jauh dari Zia membuatnya merasa kehilangan, apa lagi diusianya yang tak lagi muda, dan penerusnya hanya Zia dan Zidan.
"Mama mau Zia kembali dan menetap di Indonesia, bukan menetap di negri orang!" Zifa nampak kesal pada suaminya.
"Apa Papa tidak memikirkan kebahagiaan putri kita, hah? Mau sampai kapan dendam itu selalu dalam dalam hidupmu? Jangan buat hidup kita semakin tertekan dengan keadaan ini."
"Biarkan Zia bahagia bersama suaminya, bukankah Randy mencoba membahagian keluarganya? Mungkin memang butuh perhatian lebih untuk anaknya itu, Papa jangan selalu berpikir bahwa Randy tidak adil." Zifa menangis karena Zia sang putri lebih memilih menentap di Amerika, dan semua ini disebabkan oleh suaminya sendiri.
Andai Arya mau mengerti di posisi Randy, mungkin dia juga akan merasakan apa yang menantunya itu rasakan.
Baru kali ini Arya melihat kemarahan istrinya. Tak dapat dipungkiri, hatinya mengakui akan sikapnya yang berlebihan pada gadis bisu itu. Sejenak, ia memejamkan mata. Lalu berlutut di depan Zifa.
"Maafkan atas kesalahanku." Arya memeluk kaki istrinya diiringa isak tangis.
Zifa melepaskan tangan suaminya dari kakinya.
"Harusnya minta maaf itu kamu berikan pada anak kita, dia juga pasti merasa terluka dengam sikapmu yang berniat menjauhkannya dari suaminya. Mungkin pilihan Zia menetap ke Amerika karena ini, dia mencintai suaminya, Pa. Bisa gak Papa itu ngerti apa yang diinginkan putri kita."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Jemput mereka kembali, disisa umurku, aku hanya ingin berkumpul bersama anak dan cucuku. Sudah cukup bagiku berpisah dengannya sewaktu dulu."
Setelah mengatakan itu, Zifa pergi meninggalkan suaminya. Ia tak peduli dengan cara apa ia membawa anaknya kembali dan hidup bersamanya. Setidaknya tinggaldi negara yang sama.
***
__ADS_1
Zia tengah menjalani terapi akan pergerakan mulut, memperlancarnya untuk berbicara. Dokter Raka pun selalu mendampingi gadis kecil itu. Sedikit demi sedikit, perubahan itu ada. Karena Zia nampak bersemangat.
Ia ingin hidup normal seperti anak seusianya, terlebih lagi ia ingin membuktikan pada orang selalu mengejeknya karena bisu.
"Semangatmu luar biasa, Om Dokter yakin dalam dekat ini bicaramu pasti lancar," kata dokter Raka.
"I-iya, O-om." Jawab Zia sambil tersenyum.
Karena hari mulai menjelang malam, dokter Raka pamit. Ia akan kembali esok pagi. Namun, sebelum ia pamit pada Zia dan Randy, wanita itu keburu datang.
"Sayang, makan malam dulu, yuk?" ajak Zia. "Ayok, Dok. Kita makan malam bersama," ajaknya kemudian.
"Saya harus pulang sekarang, maaf, saya tidak bisa," tolak dokter Raka.
"Kenapa buru-buru?" tanya Randy yang baru saja tiba. Randy merasa dokter Raka banyak membantunya, tak salah jika ia menganggap dokter itu bagian keluarga. Apa lagi, dokter Raka sangat telaten dan sabar membantu Zia dalam terapi.
Tapi tetap saja, dokter Raka tidak bisa. Karena ada sesuatu yang membuatnya tak bisa terlalu lama berada di sana. Setelah mendapatkan panggilan telepon, ia harus segera pulang ke apartemen.
Dan dokter Raka pun benar-benar pergi dari sana, sementara Zia mengerutkan keningnya. Ia masih ingat dengan percakapan dokter Raka tadi di ponselnya.
"Kenapa kamu nekat sekali, ok, aku akan pulang cepat." Kata dokter Raka, lalu pria itu menutup ponselnya dan kembali menemui Zia yang sedang bersamanya.
"Ada apa dengan Dokter Raka? Tidak biasanya dia menolak ajakan Mama," batin Zia. Tapi ya sudahlah, itu urusan orang dewasa.
***
Dua hari kemudian.
Nampak seorang pria paruh baya turun dari awak pesawat. Bermodal nekat ia datang ke Amerika demi kiinginan istri tercintanya. Setelah mencari tahu akan keberadaan putrinya, kini ia datang untuk meminta maaf pada putrinya itu.
Ya, Arya yang datang ke negara ini, tak ingin membuang waktu, ia segera pergi bersama anak buahnya yang berjumlah dua orang. Suruhannya sudah menyiapkan mobil untuk mereka pergi ke tempat di mana putrinya tinggal.
Tak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi sampai di kediaman Randy dan Zia. Hari itu kebetulan semua berkumpul di rumah, karena ini hari wekend.
__ADS_1
Arya membuka jendela mobilnya, ia melihat keceriaan di wajah putri dan cucunya. Mereka tengah bermain di area taman depan, Zidan sedang bermain bola bersama papanya. Ia juga melihay Zia tengah memberi semangat pada putranya. Tak luput dari pandangannya, ia melihat gadis bisu itu tengah bersama Eva. Istri dari sahabatnya beberapa tahun silam..
Tak percaya akan penglihatan dan pendengarannya. Zia tengah mengeluarkan suara meski masih terbata bersama omanya itu.
"Maafkan Papa Zia, maaf sudah membuatmu nekat pergi dari tanah airmu sendiri." Arya pun turun dari mobil, disaat itu juga, bola menghampiri ke arahnya.
Zidan berlari keluar berniat mengambil bola tersebut. Namun ...
"Kakek ..." Teriak Zidan sambil berlari.
Orang yang berada di sana langsung menoleh ke arah Zidan yang berteriak memanggil sang kakek. Zia berdiri dari posisinya, ia tak percaya melihat sang papa berada di sana.
"Papa," kata Zia. Zia pun menghampiri putranya yang sedang memeluk kakeknya itu. Zidan melepaskan pelukkannya lalu mendongak ke arah Arya.
"Kakek ada di sini juga?" tanya Zidan setengah tak percaya.
Arya berjongkok mensejajari tingginya dengan sang cucu, mengusap lembut pucuk kepala anak itu.
"Iya, sayang. Kakek ke sini ingin menjemputmu juga Mama," ucap Arya.
Zia yang mendengar langsung menghentikan langkahnya di tengah perjalanan. Ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Tidak! Kalau kedatangan pria itu hanya untuk memisahkannya dengan suaminya, ia tak ingin kembali ke Indonesia.
Lebih baik di sini, karena ia tak mungkin memisahakan Zidan dengan papanya. Seperti apa yang dinginkan pria itu.
"Zidan mau 'kan kembali ke Indonesia?" tanya Arya lagi.
Zidan tak menjawab, anak itu menoleh ke belakang. Melihat ke arah sang mama, ia melihat mamanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Kek. Aku bahagia di sini, aku juga tidak mau Kakek membenci Papa. Aku tidak ingin berpisah dengan Papa." Lambat laun, Zidan menjauh dari sang kakek. Ia memeluk mamanya dengan erat.
"Ma, aku gak mau ikut Kakek. Aku mau sama Papa di sini." Zidan merengek sambil menenggelamkan kepalanya di balik tubuh Zia.
Sementara di belakang Zia, nampak Randy dan Eva. Apa yang diingan pria itu kali ini? Belum cukup ia membuat kekacauan dalam rumah tangganya?
__ADS_1