
Randy menghampiri anak dan istrinya, kali ini ia tak akan membiarkan siapa pun memisahkannya, termasuk mertuanya. Mendengar semua dari Zia tentang surat yang ia berikan sewaktu dulu membuatnya cukup menjadi bukti bahwa pria tua itu tak berniat merestui hubungannya.
Randy juga sudah tahu yang sebenarnya dari mamanya kenapa Arya bersikap demikian. Kalau bukan karena Zia dan Zidan, mungkin ia sudah membalas perbuatnya. Tapi Randy tak ingin masalah semakin berlarut, cukup menjauh dari orang seperti Arya.
Namun kali ini, tahu Arya akan menjemput orang yang berarti dalam hidupnya ia tak akan membiarkan itu terjadi. Zidan harus hidup bahagia tanpa penekanan. Randy menghadang langkah papa mertuanya itu ketika hendak mendekat ke arah Zia dan Zidan.
Arya berhenti tepat di depan menantunya, mereka saling menatap satu sama lain. Randy nampak terkejut mendapati apa yang dilakukan pria yang mulai mengeriput itu. Arya berlutut tepat di hadapan sang menantu.
Zia yang melihat pun ikur terkejut dengan mulut menganga. Tak habis pikir dengan apa yang dilakukan papanya itu, kali ini ia tak akan percaya begitu saja. Mungkin saja papanya itu tengah bersandiwara demi mencapai keinginannya, bahkan pria itu rela mengorbankan kebahagiaan putri dan cucunya demi membalaskan dendamnya.
"Maafkan, Papa." Ucap Arya dalam masih berlutut. "Papa menyesal dengan apa yang Papa lakukan, kehilangmu membuat Papa semakin sakit. Kembalilah, Mama juga membenci Papa karena ini." Arya sangat menyesal.
Bagaimana pun, Arya adalah papa Zia. Tak tega melihat sang papa berlutut di lantai, ia pun mendekat dan meraih tubuh itu.
"Apa yang Papa lakukan? Jangan seperti ini, tidak enak dilihat orang." Kata Zia sembari meraih tubuh papanya.
Arya pun berdiri, pria itu menunduk tak berani menatap wajah anaknya karena malu atas perbuatannya. Kedatangannya kemari hanya ingin meluruskan permasalahan yang ada, ia juga tak bisa membuat istrinya terus marah padanya. Dendam yang tak berarti membuatnya kehilangan akal sehat, justru itu membuat semuanya membencinya termasuk Zia dan Zidan.
***
"Jadi, kalian maukan kembali ke Indonesia? Kasihan Mama, Zia. Itu pun kalau kalian benar-benar memaafkan, Papa," lirih Arya.
Zia memang memaafkan papanya sebelum ia berangkat ke Amerika, tapi semuanya ia serahkan pada suaminya. Tanpa persetujuan sang suami ia tak dapat kembali ke tanah air. Semua terkadung mengurus perusahaan yang akan dibangun di sini, ada beberapa perusahaannya yang di Indonesia terpaksa Randy pindahkan.
"Bagaimana, Mas?" tanya Zia kemudian.
Arya begitu menanti jawaban dari menantunya itu.
"Tapi bagaimana usahamu yang akan dibangun di sini jika kita kembali ke Indonesia?" Zia tak ingin membuat semuanya menjadi kacau akan kedatangan papanya itu.
__ADS_1
Randy menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Semuanya masih bisa diatasi, aku juga belum tanda tangan soal kepindahan perusahaan." Memang tidak mudah baginya membuka usaha di negara orang, terlebih, perusahaannya memang bukan perusahaan kecil. Ada banyak yang harus diurus terlebih dulu.
"Jadi?" tanya Zia.
"Jika memang kamu ingin kembali, kita bisa kembali. Lagian, kita belum pindah kewarganegaraan. Itu semua memang butuh waktu," jawab Randy.
Zia tersenyum, memang ia tak sepenuh hati berniat meninggalkan tanah airnya. Randy pun melihat keceriaan di wajah istrinya. Zia memang istri yang penurut, selama ini ia tak banyak menuntut. Randy bersyukur mendapatkan istri sepertinya.
Zia dan Zidan datang menghampiri, kedua bocah itu memang menguping pembicaraan orang tuanya. Berada di Amerika beberapa hari ini membuat Zidan rindu akan suasana di Jakarta. Rindu pada teman-temannya di sana. Jika Zidan berada di antara mereka, tapi tidak dengan si kecil Zia. Perjalanannya terhenti ketika ia melihat Arya yang tengah menatapnya.
Perlakuan kakek itu membuat Zia merasa takut.
"Kemarilah." Arya melambaikan tangan ke arah gadis kecil itu.
Zia nampak ragu untuk mendekat. Lalu ia mendengar suara papanya yang memintanya untuk bergabung bersamanya.
Perlahan, gadis itu pun melangkah. Zia berdiri di himpitan kedua paha papanya. Randy memeluknya, ia seolah tahu apa yang dirasakan gadis kecilnya itu.
Zia mendongakkan wajahnya ke arah papanya. Randy memejamkan mata seolah memberi isyarat. Arya menarik tangan gadis kecil itu secara lembut. Penyesalan Arya sangat terlihat, wajahnya begitu sangat sedih. Menyesali perbuatan yang seharusnya tak ia lakukan kepada anak kecil yang tak berdosa itu.
Semuanya sudah clear, tak ada lagi dendam dari Arya untuk keluarga menantunya itu. Arya akan mencoba melupakan semua kejadian dua puluh tujuh tahun silam, di mana ia berpisah dengan Zifa dan putrinya. Setelah semuanya selesai dan Arya mendapatkan maaf dari Randy juga Zia.
Hari itu juga, Randy putuskan untuk kembali ke Indonesia bersama keluarganya. Tak ada alasan untuk tak kembali ke negri tercinta. Semoga dengan kejadian ini membuatnya lebih memiliki hati yang ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan.
***
Zifa begitu gusar, ia belum mendapat kabar dari suaminya sejak pertengkaran terjadi di antara mereka. Bahkan Arya tak memberitahukan kepergiannya ke Amerika untuk menjemput Zia. Ucapannya kala itu hanya gertakan agar suaminya bisa berpikir dengan jernih, bahwa yang ia lakukan itu salah.
Setelah tahu dari anak buah suaminya, kini ia tahu di mana suaminya berada. Dan ia juga mendengar kabar bahwa ia akan kembali ke Indonesia hari ini. Namun, ia tak tahu bahwa Zia ikut kembali ke tanah air bersama suaminya.
__ADS_1
Zifa semakin gelisah ketika ia mencoba menghubungi suaminya tapi ponselnya malah tidak aktif. Tak berselang lama, ia mendengar suara deruman mobil berhenti tepat di depan rumah. Bukan satu mobil yang datang, Zifa langsung saja keluar dari dalam rumah dengan tergesa. Pendengarannya mendengar suara anak laki-laki di sana.
Ia dapat memastikan siapa yang datang. Suara Zidan sangat tak asing di pendengarannya. Ia begitu merindukan cucunya itu.
Ketika pintu terbuka lebar, Zifa menangis mendapati putri dan cucunya telah kembali setelah beberapa hari berada di negri orang.
"Mama." Zia menghamburkan tubuhnya di pelukan sang mama. Begitu pun dengan Zidan.
kedatangan Zia, dan keluarga membuat Zifa semakin menangis. Ia takut suaminya tak berhasil membujuk mereka kembali.
Arya yang melihat menjadi haru biru. Keegoisannya membuat semuanya menjadi kacau, hampir ia kehilangan semuanya.
***
Tak hentinya Zifa mencium Zidan. Lalu, tatapannya teralih pada gadis kecil yang duduk bersama Randy sejak tadi. Tak adil rasanya jika ia hanya memberikan ciuman pada cucu lelakinya. Zia kecil juga cucunya.
Zifa melambaikan tangan pada gadis kecil itu. Zia pun turun dari sofa dan menghampiri adiknya yang tengah duduk bersama neneknya. Randy yang melihat tersenyum. Apa yang diucapkan Arya ternyata benar, Zia mendapatkan kasih sayang yang sama. Tak ada lagi perbandingan dari orang tua istrinya terhadap putrinya.
Kebahagiaan terpancar dari semuanya. Terutama pada diri Arya, memiliki hati yang ikhlas membuatnya menjadi lebih tenang.
Zia dan Randy berpelukan dengan cara menyamping karena posisi mereka pun tengah terduduk di sofa ruang tamu. Tak ada hal yang lebih indah selain melihat kedua putra putrinya tersenyum bahagia.
Tak lupa, Eva yang ikut pun menyaksikan semuanya. Ia ikut bahagia kerena Arya mencoba melupakan semua yang terjadi. Semuanya berbahagia setelah melewati perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan.
_
_
_
__ADS_1
_
TAMAT