
Keesokkan harinya.
Tepat pada pukul 05.00 wib, tubuh Zia bergetar. Gadis kecil itu demam tinggi. Eva yang sedang terjaga dari tidurnya langsung menyalakan lampu. Ia melihat sang cucu, wajahnya pucat. Suhu tubuhnya sangat panas.
"Sayang, tubuhmu panas sekali." Eva nampak khawatir. Pertolongan pertama, ia mengompres gadis kecil itu. Lalu ia menghubungi dokter yang biasa menangani Zia. Pasalnya, Zia sudah lama tidak kambuh seperti ini.
Setelah menghubungi dokter, Eva kembali mengompresnya. Perasaannya sangat cemas.
Lalu, ia menghubungi Randy.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Suara operator yang terdengar olehnya.
"Tumben kamu mematikan handphone-mu." Eva semakin kalang kabut.
"Oma ... Dingin." Zia hanya mampu mengucapkan itu dalam hati dengan tubuhnya yang semakin bergetar, ia menarik selimut sampai ke dada.
"Tunggu ya, sayang. Oma sudah menghubungi dokter," kata Eva.
Hampir setengah jam Eva menunggu dokter datang. Tak lama kemudian, suara bunyi klakson terdengar. Ia yakin yang datang itu dokter. Beberapa menit kemudian, dokter langsung masuk ke kamar Zia. Dokter sudah hapal betul di mana letak kamar pasiennya. Karena dulu ia sering datang kemari untuk mengobatinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya dokter. Bahkan dokter sudah mewanti-wanti agar pasiennya itu selalu happy. Gadis itu jangan sampai tertekan. Kondisinya Zia tidak seperti anak pada umumnya. Zia terlahir prematur, ditambah lagi sang ibu mengidap kanker. Tubuhnya sangat lemah dan gampang sakit.
"Apa mungkin kecapean, Dok? Soalnya kemarin dia habis dari Bandung," kira Eva.
"Tunggu sebentar, saya periksa dulu. Mudah-mudahan ini hanya kecapean," jawab dokter.
Dokter mulai memeriksanya dengan alat medisnya. Setelah itu selesai, ia memeriksa denyut nadi di tangan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Eva.
"Saya rasa ini bukan hanya kecapean, Zia terlalu banyak pikiran. Denyut nadi tidak normal. Detak jantung juga lemah, ini harus dibawa ke rumah sakit," kata dokter. "Bukankah Ibu tahu bagaimana kondisi Zia, harusnya Ibu bisa menjaganya."
"Ah iya, Dok. Sekarang juga saya bawa Zia ke rumah sakit," ucap Eva.
"Baiklah, saya akan hubungi pihak rumah sakit agar ambulance datang menjemput pasien. Di mana Pak Randy?" tanyanya kemudian, dokter memang sudah cukup dekat dengan keluarga Eva setelah menangani Zia.
"Saya ingin bertemu dengannya, ada yang ingin saya bicarakan," sambung dokter.
"Nanti saya yang akan memberitahukan Randy, sekarang dia tidak ada di rumah," jawab Eva.
"Baiklah, saya tunggu di rumah sakit. Mungkin sebentar lagi ambulance datang, Ibu siap-siap saja."
Eva mengangguk.
Lalu, dokter pun undur diri. Sementara Eva, ia memanggil pembantunya. Setelah pembantunya datang, ia menyuruh menyiapkan kebutuhan Zia selama di rumah sakit.
"Bi, setelah ini tolong katakan pada pak supir. Suruh dia untuk memberitahukan Randy, bilang kalau Zia dibawa ke rumah sakit."
"Iya, Nyonya." Pembantu itu cepat-cepat mengemas kebutuhan Zia. Setelah itu selesai, ia melakukan apa yang disuruh majikannya.
__ADS_1
Ambulance pun datang, security dan supir yang berada di sana menjadi bingung. Bertanya pada dirinya sendiri, 'siapa yang sakit?' Padahal, tidak ada yang sakit.
Karena mobil ambulance sudah masuk, dan pihak rumah sakit pun sudah turun dari mobil. Mereka menjemput pasien.
"Ada apa ini? Siapa yang sakit?" tanya supir pada pembantu di sana.
"Non Zia, Pak. Bapak juga disuruh Nyonya untuk memberitahukan ini pada Tuan Randy. Tuan Randy tidak bisa dihubungi," kata pembantu itu.
"Baik, saya akan segera berangkat menemui, Tuan."
"Katakan padanya, suruh langsung ke rumah sakit. Nyonya nunggu di sana."
"Iya."
Supir segera meluncur ke kediaman majikannya yang terletak lumayan agak jauh dari sini. Mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai di sana.
***
Tepat pukul enam pagi, Zia sudah siap-siap. Hari ini ia akan menemui pengacara yang menangani kasus perceraiannya sewaktu dulu. Ia sengaja berangkat pagi-pagi karena nomor pengacara sudah tidak aktif. Entah ganti nomor atau apa ia tidak tahu, jadi ia harus menemuinya ke kantornya.
Sedangkan Randy, pria itu tidur kembali setelah melaksanakan shalat shubuh tadi. Zia pun tidak memberitahukan akan kepergiannya pada suaminya. Tapi ia sudah menitipkan pesan pada pembantunya di sana, jika suaminya menanyakan keberadaannya ia tengah ada urusan dengan pekerjaannya.
Mobil Zia keluar dari gerbang, sementara mobil supir suruhan Eva pun sampai. Hingga mobil mereka berpapasan. Tapi Zia tak menyadari bahwa mobil itu milik mertuanya. Sedangkan supir Eva mengetahuinya, ia kenal dengan mobil itu karena Zia menggunakan mobil suaminya.
"Lah, itukan mobil Tuan. Apa Tuan sudah tahu tentang Non Zia," duga supir yang bernama Tohir itu. "Bagaimana ini? Apa aku balik saja?" Pikirnya, tapi ia belum yakin kalau belum bertemu dengan pemilik rumah ini. Akhirnya, Tohir memutuskan untuk turun dari mobilnya, ia akan memastikan bahwa tuannya tahu tentang anaknya.
Karena mobil itu berhenti di depan gerbang, satpam pun menghampiri.
"Tuan Randy, apa beliau ada?" tanya supir bernama Tohir itu.
"Tuan? Sepertinya ada, ada keperluan apa ya?" karena tidak mengenal supir itu, satpam itu sedikit mengintrogasi.
"Saya supir dari Nyonya Eva, Mamanya Tuan Randy. Kedatangan saya kemari ingin memberitahukan kalau Non Zia dibawa ke rumah sakit," jelas Tohir. "Tolong, saya ingin bertemu dengan beliau," katanya lagi.
"Baiklah tunggu sebentar." Security pun masuk ke dalam rumah.
Belum sampai, pak satpam sudah dihadang oleh pak Arya.
"Ada apa ini?" tanya Arya, ia melihat security nampak tergesa-gesa.
"Mau panggil Tuan Randy, itu ada supir Nyonya Eva. Dia ingin bertemu dengan Tuan Randy," jelas satpam.
"Mau apa pagi-pagi begini? Apa tidak bisa menghubunginya lewat telapon?" kata Arya.
"Saya kurang tahu, Tuan. Maaf, saya permisi." Satpam itu pun akhirnya masuk ke dalam. Lalu ia bertemu dengan asisten rumah tangga di sana.
"Bi, Tuan mana? Itu ada yang mencari di luar," kata satpam.
"Tuan belum bangun," jawab pembantu.
__ADS_1
"Ehem, ada apa, Pak?" tanya Randy yang kebetulan keluar dari kamarnya.
"Tuan, itu ada supir namanya Pak Tohir."
"Tohir? Di mana dia?" tanya Randy.
"Di luar, Tuan."
Randy pun akhirnya keluar, dan bertemu dengan Tohir. Setibanya di sana, Tohir langsung pada tujuannya.
"Tuan, Non Zia," kata Tohir.
"Kenapa dengan anakku?" tanya Randy sedikit terkejut akan mendengar nama anaknya.
"Non Zia dilarikan ke rumah sakit, Nyonya juga sudah menunggu."
"Zia. Tunggu sebentar, Pak. Saya ambil dompet dulu." Randy masuk ke dalam kamar, ia mengambil dompet miliknya serta ingin mengambil kunci mobilnya. Tapi ia tak menemukan kunci mobilnya. "Perasaan semalam aku meletakkannya di sini." Randy memang menyimpan kunci mobilnya di atas nakas tapi kenapa tidak ada?
Tak ambil pusing, keadaan Zia lebih penting. Ia pun akhirnya pergi bersama supir.
***
Zia masih mengemudi, ia sedang menuju kantor. Setelah menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai. Untung, ia masih dapat bertemu dengan pengacara itu.
"Nyonya Zia?" Pengacara itu masih hapal dengan wajah clien-nya. "Saya, Farhat," terangnya kemudian.
"Pak, Farhat?" Zia tak terlalu hapal dengan wajah pengacara itu.
"Iya, saya pengacara Anda beberapa tahun yang lalu. Ada urusan apa Anda ke kantor?" tanyanya kemudian.
"Kebetulan sekali kalau begitu, saya memang ingin bertemu dengan Anda."
Akhirnya, Farhat mengajak Zia ke ruangannya.
Farhat mempersilahkan duduk.
"Ada yang perlu saya bantu?" tanya Farhat.
"Iya, Pak. Saya ingin menayakan perihal proses perceraian saya yang terakhir. Apa waktu itu Mas Randy berpesan sesuatu pada Anda?" tanya Zia.
Farhat berpikir lama, lalu ia teringat bahwa Randy dulu menitipkan surat padanya.
"Iya, saya waktu itu menitipkan surat pada Tuan Arya untuk Anda dari mantan suami Anda, Nyonya."
"Surat?"
...****************...
Mampir di sini juga yuk kawan-kawan? Ceritanya cukup memarik loh. Jangan lupa tinggalkan jejak di novelku dulu ya, setelah itu baru meluncur ke karya teman othor ini.
__ADS_1