Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 61


__ADS_3

Cup.


Satu kecupan mendarat di kening Rani, tentu Amar tidak akan meminta haknya sekarang. Ia akan memberi ruang pada istrinya, setidaknya mereka saling mengenal lebih jauh lagi. Ia juga tahu kalau istrinya nampak ketakutan, gadis itu sepertinya memang belum pengalaman dalam hal ini.


Setelah mengecup kening istrinya, ia pun beranjak. Ia tak tega melihat Rani ketakutan seperti itu, gadis itu butuh waktu untuk semua ini.


"Mandilah, setelah itu kita temui Ayahmu," kata Amar.


Tahu suaminya melepaskannya, ia tak lagi berpikir lama. Rani segera keluar dari kamar menuju kamar mandi yang terletak di dapur. Gadis itu lupa akan sesuatu setelahnya berada di kamar mandi, bahkan ia sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Handuk, hah, bagaimana ini? Aku lupa tidak bawa handuk." Rani memukul kepalanya sendiri, kenapa ia bisa seceroboh ini? Tak ada pilihan lain selain memanggil suaminya.


"Mas ... Mas ...," teriak Rani dari dalam kamar mandi.


Amar yang mendengar langsung saja menghampiri, ia takut terjadi sesuatu pada gadisnya itu.


"Rani, kamu gak apa-apa?" Tanya Amar sembari memutar handle pintu, tapi pintu dalam keadaan terkunci, "Rani, kamu kenapa?" tanya Amar sekali lagi.


"Jangan masuk, Mas. Aku hanya minta tolong," sahut Rani.


"Tolong apa?" tanya Amar.


"Ambilin handuk, aku lupa gak bawa handuk. Handuknya ada di kamar, aku gantung di belakang pintu," jawab Rani.


"Iya, tunggu sebentar."


Amar pun pergi menuju kamar untuk mengambil handuk sesuai perintah istrinya. Tak lama, ia pun kembali, "ini, handuknya." Kata Amar sambil mengetuk pintu.


Klek, pintu terbuka sedikit. Hanya tangan Rani yang keluar dari balik pintu. Pintu sedikit di dorong oleh Amar.


"Mas, jangan masuk!" sergah Rani.


"Kenapa memangnya?" Amar sengaja menggoda.


"Awas aja kalau berani! Siniin handuknya." Rani sedikit kesal karena Amar menahan handuk itu.


Merasa lucu, pria itu menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Jangan becanda, Mas. Aku sudah kedinginan ini."


"Iya, Mas lepas." Amar jadi tak tega karena istrinya mengeluh kedinginan.


Setelah mendapatkan handuknya, Rani cepat-cepat menutup pintu dan kembali menguncinya. Amar hanya geleng-geleng kepala akan tingkah istrinya itu, ia pun pergi meninggalkan tempat itu.


***


"Mas, kamu gak mandi?" tanya Rani setibanya di samping suaminya, gadis itu sudah terlihat rapi dan cantik. Gadis itu malah terlihat seperti akan berangkat bekerja.


Amar menoleh, ia melihat istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menatapnya sampai tak melepaskan pandangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Amar.


"Kerja," jawab Rani dengan polosnya.


Amar menepuk keningnya sendiri, kenapa gadis ini keras kepala, harus berapa kali ia bilang kalau hari ini hari bahagianya. Mana mungkin ia membiarkan istrinya itu pergi bekerja.


"Untuk apa kerja?" tanya Amar.


"Ya Allah ... Kamu itu istriku sekarang, mana mungkin aku menagih hutangmu." Amar mengambil alih tas kecil yang diselempangkan di tubuh istrinya, ia tak akan membiarkan itu. Jatuh harga diri sebagai suami kalau istrinya berkerja, apa lagi berkerja sebagai pelayan.


Setelah mendapatkan tasnya, ia menarik tangan Rani untuk masuk kembali ke dalam rumah, bagai anak kecil yang dituntun orang tuanya. Setibanya di dalam, Amar mendudukkan istrinya di atas tikar.


"Dengerin, Mas. Kamu itu sekarang istriku, tanggung jawabku. Semua kebutuhanmu aku yang akan memenuhinya, jangan lagi berpikir akan berkerja. Mas mau mandi dulu, setelah itu kita cari Ayahmu."


Sedari tadi, Amar memang tak melihat ayah mertuanya. Ia segera pergi ke kamar mandi, tak membutuhkan waktu lama baginya menyelesaikan ritual mandinya.


Setelah mandi, Amar kembali menemui Rani dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Rani terkejut melihat pemandangan itu, ia langsung membelakangi suaminya. Jantungnya sudah hampir mau copot ketika kembali mendapati roti sobek yang terpang-pang jelas di matanya.


Tanpa aba-aba, Amar malah memeluk istrinya dari belakang. Bisa dibayangkan bagaimana tegangnya Rani kala itu. Tubuhnya bergetar, sangat bergetar.


"Ambilkan bajuku di dalam mobil," bisik Amar kemudian di telinga Rani.


Cepat-cepat Rani melepaskan diri, dan segera bergegas keluar menuju mobil untuk mengambil baju. Disaat Rani sudah berada di dekat mobil, ibu-ibu tetangga yang melihat langsung berbisik.


"Lihat, pintar sekali wanita itu menjebak laki-laki yang menikahinya semalam," kata ibu-ibu yang membicarakan Rani.

__ADS_1


Rani mendengar ibu-ibu itu tengah membicarakannya, tak ingin mendengar lagi, ia buru-buru mengambil baju itu lekas kembali dan memberikan bajunya pada suaminya. Ia sendiri langsung pergi ke kamar mengurung diri di dalam sana.


Amar yang melihat begitu terheran-heran, ada apa dengan istrinya itu? Apa ia keterlaluan sampai Rani marah dan cemberut begitu? Buru-buru ia memakai baju, setelah itu ia segera menyusul.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Rani, kamu kenapa? Marah padaku? Aku minta maaf kalau aku punya salah, tapi tolong jangan seperti ini." Amar terus mengetuk pintu, ia tak akan berhenti sampai istrinya membuka pintu untuknya.


Beberapa menit kemudian, Rani pun membuka pintu. Tapi ia segera kembali duduk di tepi ranjang, ternyata sang istri tengah menangis.


"Hey ... Kamu kenapa, hah?" tanya Amar.


Karena posisi Rani duduk dengan kaki menjuntai, Amar pun mensejajari tubuh istrinya. Ia berdiri menggunakan lututnya, lalu menangkup kedua pipi Rani dengan tangannya.


"Lihat aku, kamu kenapa? Aku minta maaf kalau aku punya salah, tapi, pleasa ... Jangan seperti ini." Amar mengadukan keningnya dengan kening sang istri.


"Apa aku terlihat hina?" tanya Rani tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan itu, Amar langsung melepaskan keningnya sedikit menjauh.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu?"


"Mungkin semua orang mengira aku yang menjebakmu menikah denganku." Rani tak kuasa jika semua orang menduga akan hal itu padanya.


"Siapa yang sudah membuatmu seperti ini, hah? Apa ada yang mengusikmu tadi?"


Para tetangga memang selalu iri akan kecantikan Rani, karena anak-anak mereka kalah jauh jika dibandingkan dengan dirinya. Meski terlahir dari orang yang sederhana, tapi Rani selalu hidup dengan keberuntungan. Salah satunya ia menikah dengan seorang Amar, meski Rani sendiri belum tahu siapa sebenarnya suaminya itu.


"Katakan, siapa yang menganggumu? Aku harus memberinya pelajaran." Amar menjadi kesal akan hal ini.


"Jangan, biarkan saja mereka begitu. Tapi kamu harus percaya, aku tidak bermaksud menjebakmu. Jika memang harus berpisah aku siap."


"Suuttt ... Apa maksudmu bicara seperti itu? Aku tidak beranggapan seperti itu, mungkin kita memang berjodoh. Allah mengatur jodoh pada setiap umatnya dengan cara yang berbeda. Kamu jangan dengarkan apa kata orang. Aku percaya kamu gadis baik-baik."


Amar menarik tubuh istrinya, mendekapnya penuh kasih sayang.


"Sudah, jangan menangis. Kita cari Ayah, aku akan mengajakmu pergi."

__ADS_1


__ADS_2