Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 42


__ADS_3

Sesuai janji, Amar akan menjemput Zia dan Zidan pagi ini. Ia sudah terlihat gagah dan sangat tampan, ia melirik wajahnya di cermin. Memutarkannya ke kanan dan ke kiri.


"Aku tak kalah tampan darinya," bandingnya sendiri dengan Randy. Ia mengulas senyum di bibirnya, rencana sudah di depan mata. Terlebih lagi, ia sudah mendapat lampu hijau dari Zia. Kini tinggal menarik perhatian Zidan, meski itu masih PR buatnya. Karena Zidan bocah yang tak mudah untuk di dekati, apa karena ia tak sosok ayah sejak lahir? Ah, mungkin sepertinya begitu.


Karena selama ini, anak-anak saudara atau kerabatnya cukup dekat dengannya. Karena hanya tinggal ia seorang yang mendapatkan jodoh, dan kini saatnya ia mendekatkan diri dengan Zia. Jodoh yang sudah ada di depan mata, tapi sepertinya ada sedikit kendala karena calon istrinya terbilang wanita spesial. Bukan hanya mantannya yang menjadi saingannya, karena banyak lelaki di luaran sana yang menginginkan Zia.


Jadi, ia memiliki kebanggaan sendiri karena sudah terpilih menjadi calonnya. Meski bukan Zia sendiri yang memilihnya, tapi ia yakin, lambat laun wanitanya itu pasti luluh dengan kelembutannya. Ok, kini ia sudah siap berjumpa dengan calon yang akan menjadi keluarga kecilnya. Ia kembali bercermin memastikan diri bahwa ia sudah terlihat tampan pagi ini.


***


"Ayolah, Zidan ... Jangan seperti ini, Om Amar baik." Zia tengah membujuk Zidan untuk segera bersiap-siap.


"Aku gak mau ikut, aku mau sama, Papa," tolak Zidan.


Hingga kebisingan mereka terdengar oleh Randy karena ia tengah melintas tepat di depan kamar Zia. Ia mendengar samar-samar suara Zidan yang merengek, akhirnya, ia mengetuk pintu kamar itu.


"Zidan, ini, Papa. Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Randy.


Zia yang mendengar langsung membuka pintu, ia meminta bantuan mantan suaminya untuk membujuk Zidan agar ikut bersamanya pergi bersama Amar.


"Coba tolong bujuk Zidan," pinta Zia, "bujuk dia agar mau ikut denganku, dia kekeh ingin bersamamu."

__ADS_1


"Akan aku coba." Randy pun akhirnya menemui Zidan di dalam kamar, ia menghampirinya.


Ia mencoba bicara pada anaknya itu.


"Anak Papa, kenapa? Kok, wajahnya ditekuk seperti itu?" tanya Randy dengan sangat lembut.


Bukannya menjawab, Zidan malah memeluknya dan kembali merengek. "Aku gak mau ikut sama Mama pergi sama Om Amar, aku mau sama Papa," kekeh Zidan.


"Denger, Papa. Kasian Om Amar, jauh-jauh dia datang hanya ingin kenal dekat denganmu. Dia juga temen Papa loh, dia orangnya baik." Randy meyakinkan anaknya.


Namun Zidan tetap tidak mau, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Akhirnya, Randy beranjak. Lalu menemui Zia yang berada di ambang pintu.


"Aku sudah lama kenal dengannya, bagiku sudah cukup mengenalnya. Yang diinginkan Amar sekarang, dekat dengan Zidan."


Hati Randy kembali terasa sakit, kenapa setiap kali Zia mengucapkan nama Amar dadanya terasa sesak. Mungkin ini karma baginya, karena dulu ia pun sering mengucapkan nama Camelia bahkan melakukan kemesraan di depannya. Sungguh ia menyesal sudah berbuat setega itu, padahal sudah jelas bahwa Zia yang lebih berhak atas dirinya waktu dulu.


Tapi selama pernikahan, Zia tak pernah menuntut apa-apa selain keadilan. Hati Randy merasa tercubit jika ia teringat dimasa lalunya. Menyesal pun percuma karena itu tidak akan merubah keadaan, hanya keikhalsan yang harus ia hadapi.


"Biarkan Zidan bersamaku, pergilah. Jangan sia-siakan orang yang sudah mencitaimu dengan tulus." Setelah mengatakan itu, ia kembali menemui Zidan, ia membawa anaknya pergi dari sana.

__ADS_1


Zia hanya bisa diam tanpa melarang Randy yang membawa Zidan, ia tak ingin anaknya menjadi sebuah gunjingan baginya juga suaminya. Ia takut akan menganggu spikis anaknya.


Sementara di sebrang sana, Amar melihat Randy keluar dari kamar Zia dan membawa Zidan pergi dari sana. Apa kehadirannya menjadi penghalang rujuknya mereka? Pikir Amar.


Hingga keberadaan Amar diketahui oleh Zia, Zia pum menghampirinya. Ia sudah siap pergi bersamanya.


"Maaf, Zidan tidak mau ikut. Mungkin dia masih rindu dengan Papanya," jelas Zia setibanya di hadapan Amar.


Apa iya begitu? Tapi kenapa hatinya berkata lain, Zidan tak ingin pergi bersamanya. Sebegitu sulitnya mendapatkan Zia? Sampai Amar malah melamun karena merasa kehadirannya hanya menjadi penghalang.


"Kita jadi pergi 'kan?" Pertanyaan Zia membuyarkan lamunannya, hingga akhirnya Amar terkesiap.


"Gak apa-apa pergi tanpa Zidan? Kalau Zidan menangis bagaimana? Tidak jadi pergi pun tidak apa-apa," kata Amar.


"Tidak, Zidan tidak akan menangis. Dia anteng sama Papanya, lagian dia ada acara sama teman-temannya," jelas Zia. Lagian, Zia tidak mungkin mematahkam hati Amar. Ia tahu betul rasanya tercampakkan. Akhirnya, mereka pergi berdua.


***


"Sepertinya kamu bahagia bersamanya? Apa aku mudur dan membiarkanmu bersamanya?" Tapi hatinya berkata tidak rela dengan semua ini.


Randy melihat kepergian Zia di balik jendela, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain melihat kepergian mantan istrinya yang pergi bersama laki-laki lain. Ia bukan siapa-siapa, sampai ia merasakan apa yang dirasakan Zia dulu.

__ADS_1


Begini rasanya terabaikan oleh orang yang kita sayang, lebih sakit tertusuk beribu duri yang menancap di hati..


__ADS_2