Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 73


__ADS_3

Randy tak melepaskan tangannya dari pinggang istrinya, sampai Zia merasa sedikit kesusahan saat berjalan. Sumainya itu seperti perangko, ia tak mau lepas setelah tahu istrinya sudah selesai dari menstruasinya.


"Mas, aku susah gerak nih," protes Zia pada suaminya yang terus nempel seperti ulat keket.


"Mas gak akan lepaskan," kekeh Randy.


"Tapi ini masih siang, gak enak kalau dilihat anak-anak," jelas Zia.


"Anak-anak sedang main di taman belakang," kata Randy.


Zia tak bisa lagi berbuat apa-apa, ia pasrah saja kali ini. Mereka seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, Randy bermanja-manja. Pria itu tengah merebahkan tubuhnya di atas sofa, paha istrinya ia jadikan sebagai bantalnya.


Sesekali Zia mengusap lembut pucuk rambut suaminya itu.


"Sayang, aku gak nyangka kalau kita bisa kembali seperti ini. Aku juga tidak menyangka bakal jatuh hati sama kamu." Kata Randy sambil menggambar abstrak di perut istrinya. Tangannya langsung ditangkap oleh Zia, karena wanita itu merasa geli.


"Geli, Mas," kata Zia.


"Tapi aku suka." Tangan Randy malah merayap kemana-mana. Menelusuri lekuk tubuh istrinya, tangannya masuk ke dalam baju istrinya.


"Malu, Mas. Takut ada yang lihat," protes Zia.


"Pindah kalau begitu, yuk?" ajak Randy. Pria itu sudah tidak bisa lagi menahannya, sudah beberpa tahun ia tak mendapatkan sentuhan dari seorang wanita. Pria itu seperti cacing kepanasan.


"Tapi anak-anak," kata Zia.


"Sebentar lagi si Bibi pasti pulang. Kita main gak lama kok." Randy langsung saja menggendong tubuh istrinya ala bridel style.


"Tapi nanti malam?" tanya Zia yang ada di gendongan suaminya.


"Malam ya malam, itu beda lagi. Sekarang untuk sekarang." Randy mempercepat langkahnya memasuki kamar, ia memburu waktu karena takut anak-anak mencarinya.


Setibanya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur. Setelah itu tak lupa ia mengunci pintu.


Wajah bringas Randy sangat terlihat, tak berlama-lama lagi ia langsung membuka baju yang ia kenakan. Lalu menindih tubuh istrinya yang lebih dulu terbaring. Memainkan hidung istrinya yang mancung, gemas ia langsung mencubitnya.


"Sakit, Mas." Zia mengaduh sambil mengusap-ngusap hidungnya yang memerah.


"Abisnya gemes." Randy mengobati hidung istrinya dengan sebuah kecupan. Menatapnya penuh dengan cinta.


Zia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Lalu, Randy mendaratkan sebuah kecupan di kening. Merambat ke yang lain, sampai Zia melenguh dibuatnya. Tangan yang sudah mulai berselancar dibalik bra milik istrinya. Randy asyik bermain di gunung kembarnya.


Zia merasakan sesuatu, sampai ia menjambak rambut suaminya. Randy menghentikan aktivitasnya sejenak, ia membuka hijab yang dikenakan istrinya. Rambut panjang nan hitam itu tergerai sangat indah.


Randy menghirup aromanya, ia dimabuk kepayangan akan keharuman rambut itu. Kenapa dulu ia dibutakan akan kecantikan istrinya? Ia begitu bodoh, mencampakkan istri secantik Zia.

__ADS_1


"Maafkan Mas, ya? Dulu sudah menyia-nyiakanmu."


"Suuttt ..." Zia meletakkan jari telunjuk di bibir suaminya sambil menggelengkan kepala. "Yang lalu biarlah berlalu, kita tata semuanya dari awal. Inilah masa kita sekarang." Zia memeluk suaminya.


Begitu pun dengan Randy, ia tak kalah hebat membalas pelukkan istrinya. Setelah itu, mereka memulai aktivitasnya. Tak ada pemanasan karena mereka memang buru-buru, bisa dibayangkan gaya apa yang mereka lakukan sekarang.


Mereka takut kedua anaknya mencarinya.


"Mas ..." Zia merasakan sesuatu di bawah sana. Ia menjambak rambut suaminya.


Sedangkan Randy terus berpacu seperti sedang menunggang kuda. Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai pada puncaknya. Meski sedang dikejar waktu, mereka tetap menikmati masa itu. Karena keduanya sudah lama tak mendapatkan sentuhan.


"Apa kamu menikmatinya?" tanya Randy yang posisinya masih di atas tubuh istrinya.


Malu-malu, Zia pun mengangguk.


Randy tersenyum mendapatkan anggukan dari istrinya.


"Nanti malam akan lebih nikmat dari ini," bisik Randy.


Takut ada anak-anaknya, Zia menyuruh suaminya beranjak dari tubuhnya.


"Mas, cepat mandi. Nanti anak-anak keburu datang," kata Zia.


Polosnya, Zia mengiyakan. Randy sendiri menyeringai, istrinya belum tahu saja, padahal itu modus. Tentu Randy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Setibanya di kamar mandi, Zia nampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Ia di dudukkan di kloset duduk. Tanpa aba-aba pria itu kembali menyerang istrinya. Karena memang merasa nikmat, Zia pun melayaninya.


Mereka kembali bercinta di dalam sana, setelah itu selesai baru mereka mandi bersama. Untung mereka tak bermain lama di dalam sana, baru saja Zia keluar dari kamar mandi. Zidan memanggilnya.


"Ma, Mama ...," panggil Zidan.


"Zidan, Mas," kata Zia.


"Biar Mas yang menemuinya, kamu pakai saja baju dan keringkan rambutmu." Randy cepat-cepat memakai bajunya dan langsung menyisir rambutnya. Setelah itu ia baru keluar menemui putranya.


"Mama, mana?" tanya Zidan setelah ia melihat papanya keluar dari kamar.


"Ada di dalam, kenapa memangnya?"


Bukannya menjawab, Zidan malah memberikan pertanyaan padanya.


"Rambut Papa basah, Papa mandi?"


"Iya, Papa gerah saja makanya mandi," elak Randy.

__ADS_1


"Oh ..." Polosnya, Zidan percaya saja dengan itu. "Aku mau ketemu sama Mama."


Zia pasti belum selesai memakai baju, aku harus cegah Zidan. Nanti dia malah berpikir yang tidak-tidak karena sama-sama rambutnya basah.


"Mama lagi tidur siang, jangan mengganggunya. Papa saja yang menemanimu, Kakakmu di mana? Kita temui saja Kakak-mu." Randy menggendong putranya.


"Aku mau ice krim, Pa," pinta Zidan.


"Iya, Papa ambilkan." Randy yang biasanya tak mengizinkan Zidan memakan ice krim, kali ini ia menurutinya dari pada ada pertanyaan yang sulit dijawab dari anaknya itu.


"Papa serius? Tidak akan memarahiku 'kan?" tanya Zidan.


"Iya, Papa janji. Untuk kali ini Papa mengizinkanmu, tapi jangan banyak."


Karena Zidan ada alergi ice, kalau banyak-banyak ia bisa langsung demam.


"Iya, Pa. Terima kasih." Zidan memcium pipi papanya.


***


Zia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut, setelah itu ia mamakai hijabnya kembali. Lalu menemui anaknya yang tadi sempat mencarinya.


"Ya ampun, Mas. Kenapa membiarkan Zidan makan ice?" tanya Zia.


"Dari pada itu ..."


"Itu apa?"


"Ah, sudahlah. Gak banyak kok makan ice-nya juga."


Zia hanya geleng-geleng kepala, lalu mengambil ice krim yang sedang dimakan oleh Zidan.


"Sayang, sudah ya makan ice-nya? Mama gak mau kamu kena flu."


"Tapi, Ma," protes Zidan.


"Tidak ada tapi-tapian, untuk sekarang cukup, ya?"


Zidan pun pasrah, dan tak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan si Zia kecil tetap melanjutkan memakan ice krim-nya. Dasar anak kecil yang tak bisa dilarang, Zidan memakan ice milik kakaknya itu. Tentu tanpa sepengetahuan mamanya.


...----------------...


Gaes ... Mampir di cerita author lagi yuk? Beri dukungan untuk teman author, kalian bisa mampir di sini. Ceritanya bagus dan menarik.


__ADS_1


__ADS_2