
Tak terasa, hari yang dinantikan Amar dan Rani pun tiba. Pesta digelar di kota Kembang sesuai keinginan Mirna. Suasana terlihat begitu ramai, terlebih lagi dengan pengantin yang terlihat nampak bahagia.
Para tamu undangan sudah berkumpul memenuhi area hotel berbintang. Acara resepsi diliput secara langsung di stasiun tv. Rani sampai tak percaya akan pernikahannya yang digelar begitu sangat meriah.
Pengantin itu selalu menebar senyum ke setiap tamu yang memberinya ucapan selamat. Namun, Amar tengah menantikan kedatangan tamu spesial-nya. Yaitu, Randy dan Zia. Amar tak hanya mengganggap sebagai teman, ia sudah menganggap mereka seperti saudara. Karena Amar sudah menjalin hubungan dengan orang tua Zia sebelum Zia ditemukan.
***
Di tempat lain.
Randy dan Zia tengah bersiap-siap, mereka memang sudah berada di Bandung sejak hari kemarin. Mereka masih dalam keadaan siap-siap. Entah kenapa, Zidan sedikit rewel sehingga Zia nampak kerepotan. Padahal salah satu asisten diajak untuk mengurus anak-anak mereka.
Tapi Zidan tidak ingin diurus oleh asisten, ia ingin sang mama yang mengurusnya.
"Kita bisa terlambat kalau begini," kata Randy. Pria itu pun menghampiri Zidan yang tengah merengek. "Sayang, kamu kenapa, hmm? Sini, Papa yang pakaikan bajunya." Randy mencoba mengambil alih Zidan dari istrinya, agak susah memang, tapi Randy berhasil.
"Sini, sama Papa, ya?" Zidan mengangguk walau dalam keadaan cemberut. "Kasian Om Amar kalau kita telat," sambung Randy.
Zia tersenyum melihat suaminya yang tengah membujuk anaknya itu. Lalu, ia pun menoleh ke Zia kecil, anak gadis itu terlihat sangat cantik. Wajahnya dominan ke ibunya, Camelia. Zia terlihat mandiri, gadis kecil itu tak pernah merepotkan ibu sambungnya.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Zia pada anak gadisnya itu.
Si kecil Zia mengangguk sambil tersenyum.
"Mama siap-siap dulu kalau begitu." Dengan cepat, Zia mengganti pakaiannya. Beberapa menit kemudian, ia sudah siap. Lalu, ia menemui suaminya yang masih bersama Zidan.
"Istriku memang cantik," puji Randy.
"Baru sadar?" kata Zia. "Ayok, kita berangkat sekarang," ajak Zia kemudian.
Zia, Randy, dan kedua anaknya keluar dari kamar hotel. Setibanya di luar, ia melihat kedua orang tuanya, yang tak lain adalah Zifa dan Arya. Mereka memang datang secara bersamaan ke kota Bandung, bahkan menginap di hotel yang sama.
Arya tetap Arya, pria paruh baya masih bersikap dingin kepada Randy. Padahal, Randy sudah membuktikan bahwa ia akan membahagiakan putrinya. Dan terbukti, Zia bahagia rujuk dengannya. Tapi ia tak mempermasalahkan sikap mertuanya itu, yang terpenting ia membuktikan janjinya.
__ADS_1
"Pa, Ma. Berangkat sekarang?" kata Zia.
"Iya," jawab Zifa.
Arya merindukan Zidan, pria itu langsung saja menggendong cucunya itu. Mood Zidan memang sedang tidak baik, dari awal sampai di Bandung ia terus cemberut. Entah kenapa sebabnya sampai Zia pun tidak tahu.
"Cucu Kakek kenapa? Kok cemberut terus?" tanya Arya.
"Dari kemarin begitu, tuh, Pa. Aku juga bingung," timpal Zia.
"Katanya sih, gak tahu mitos gak tahu bener. Katanya, kalau kayak gitu mau punya ade lagi," sahut Zifa.
Zia mengerutkan keningnya, masa iya sih? Pikir Zia. Belum ada tanda-tanda ia akan hamil, baru juga dua minggu kemarin melakukannya lagi, masa udah mau hamil aja, pikirnya lagi.
"Emang gitu, Ma?" tanya Randy.
"Ya, Mama juga kurang tahu sih, baru katanya. Tapi kalau pun iya, Mama seneng nambah cucu."
"Apa lagi kalau perempuan, cucu kita jadi lengkap 'kan?" timpal Arya.
Randy yang menyadari akan hal itu langsung mengusap bahu putrinya, sedikit tersenyum kepada anaknya itu. "Jangan dimasukin ke hati ya?" bisik Randy di telinga putrinya.
Putrinya itu mengangguk sambil tersenyum, tak masalah baginya jika kakek tirinya tidak menyukainya. Ia sadar diri untuk itu, mungkin sang kakek membencinya. Melihat keterbatasannya ia memaklumi itu. Meski Zia masih kecil, tapi ia memiliki sikap seperti orang dewasa.
"Pa, Zia juga 'kan cucu, Papa," kata Zia.
"Sudah-sudah ... Lebih baik kita berangkat sekarang," ajak Zifa.
Pada akhirnya, mereka semua pun berangkat ke hotel berbintang yang ada di kawasan Bandung City. Untung mereka menggunakan mobil masing-masing, jadi Randy merasa aman untuk Zia putrinya. Ia sendiri menyadari dengan sikap Arya yang tak menyukai putrinya.
"Mas, maafkan, Papa ya?" kata Zia dalam perjalanan menuju hotel.
"it's okey." Jawab Randy tanpa menoleh, ia fokus ke arah jalan.
__ADS_1
Tapi Zia bisa merasakan sikap suaminya yang diam, ia harap suaminya bisa mengerti akan sikap papanya itu.
Pada akhirnya, mereka pun sampai di hotel berbintang. Zidan yang sedari tadi bersama Arya, ia tetap bersama nenek dan kakeknya. Sedangkan Zia kecil bersama orang tuanya. Suasana sedikit canggung. Zia merasa tidak enak pada suaminya karena sikap papanya.
Namun demikian, Randy menggandeng istrinya berjalan secara bersamaan masuk ke dalam. Ia tak ingin masalah jadi berkepanjangan, lebih baik ia mengalah. Dari pada suasana menjadi tidak nyaman.
"Mas?" panggil Zia.
"Apa?" jawab Randy tanpa menghentikan langkahnya.
"Kamu marah?" tanya Zia penasaran.
"Marah kenapa? Aku gak apa-apa, kok." Randy terus berjalan. Hingga obrolan mereka terhenti karena sudah tiba di ruangan resepsi Amar dan Rani.
"Selamat ya." Kata Randy sambil memeluk Amar, kedua pria itu menepuk punggung masing-masing secara bersamaan.
"Selamat ya, Amar." Zia pun ikut memberikan ucapan, berlanjut pada pengantin wanita. "Selamat ya, Rani. Kamu cantik sekali," kata Zia.
"Terima kasih, Mbak. Mbak juga terlihat sangat cantik," puji Rani.
Setelah mengucapkan selamat, Zia dan Randy turun dari panggung pengantin. Bahkan, Randy sedikit menjauh dari kedua mertuanya. Ia memikirkan perasaan putrinya, ia tahu betul bagaimana putrinya itu.
Gadis kecil itu akan memendam perasaannya. Walau masih kecil, Zia pasti peka akan hal itu. Di mana, kakek tirinya selalu mengeluarkan kata-kata yang menyakiti putrinya. Ia sendiri pun tidak tahu bakal begini jadinya.
Yang ia tahu, Arya hanya membencinya, tapi sekarang, kenapa Zia pun ikut kena imbasnya. Randy hanya tak habis pikir.
"Sayang, kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Randy pada putrinya
Zia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja. Ia tak ingin memperkeruh keadaan. Tak apa jika dibenci, asal jangan ia yang membenci. Itu prinsip Nazia, anak dari Camelia.
Camelia yang hadir dalam rumah tangga Zia dan Randy, semua orang pasti berpikir bahwa ia wanita yang tak memiliki hati karena hadir ditengah-tengah mereka. Tapi, Camelia 'lah cinta pertama Randy. Kebaikan Camelia mewarisi sikap Zia. Gadis kecil itu baik seperti mamanya.
...----------------...
__ADS_1
Hai teman-teman ... Jangan bosen dengan promosi othor ya, kita saling dukung di sini. Readers mampir ya dikarya temen author ini, sebelumnya terima kasih😘😘