Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 50


__ADS_3

Dengan tubuh sedikit sempoyongan, Randy berjalan keluar dari mobilnya. Betapa terkejutnya Zia ketika melihat sang ayah yang babak belur. Gadis kecil itu berlari menghampiri Randy, sesampainya di hadapan sang ayah, Zia menyentuh tangan Randy yang menyisakan darah kering di sana.


Gadis kecil itu menatap wajah Randy dengan mata yang sudah tergenang oleh air mata. Tak bisa bicara, ia hanya melihatnya dengan nanar. Zia memeluk sang ayah begitu erat karena ia merasa sangat khawatir dengan keadaannya.


Tak lama dari situ, Eva datang. Wanita paruh baya itu pun sama terkejutnya seperti cucunya. Melihat wajah Randy yang lebam, ia langsung mendekat. Menyentuh wajahnya yang luka, sambil melihat, ada banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Karena sebelumnya, anaknya itu tidak pernah berkelahi, apa lagi sampai memiliki musuh.


"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Eva tanpa jeda.


"Gak tahu, Ma. Tiba-tiba saja ada 3 orang yang mencegatku dijalan. Untung tadi ada Amar, mungkin jika tidak ada dia aku sudah mati!" jawab Randy.


"Sayang, ambil kotak p3k yang ada dalam laci sana." Eva menunjuk laci yang berdekatan dengan rak tv, ia menyuruh Zia untuk mengambilkannya.


Zia yang mengerti langsung berlari menghampiri laci tersebut, diambilnya kotak itu, lalu ia kembali dengan cepat. Setelah itu, ia juga pergi ke dapur mengambil air di wadah serta kain untuk membersihkan luka papanya terlebih dulu. Zia sudah kembali, ia membantu neneknya membersihkan luka sang papa.


Air mata Zia terus keluar karena merasa kasihan akan keadaan papanya itu. Ia juga sangat cekatan membersihkan darah kering yang ada di wajah papanya. Randy langsung menangkap tangan gadis kecil itu, aktivitas Zia pun terhenti kala papanya meraih tangangnya.


"Jangan menangis, Papa tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," terang Randy.


Zia yang mendengar itu menunjukkan senyumnya, lalu mencium luka di wajah itu. Semoga dengan begini, lukanya akan cepat sembuh, pikir polos Zia.


"Sini, biar Oma yang mengobatinya," ujar Eva.


Zia pun menggeserkan tubuhnya memberi ruang untuk sang nenek mendudukkan tubuhnya di sebelah papanya. Karena posisi mereka terdapat di ruang tamu, duduk di sofa sana. Zia meminta ponsel milik papanya itu, tanpa curiga apa pun, Randy memberikan ponselnya, karena Zia sering bermain menggunakan ponsel papanya itu.


Zia tak memainkan game, melainkan ia menghubungi mamanya Zidan. Karena Zia rasa papanya itu pasti menyimpan kontak wanita itu, dan benar saja, ia menemukan kontak itu. Karena ada nama Zia di sana. Dengan cepat ia mengetik sesuatu, ia ingin mengabarkan keadaan papanya pada Zidan.


***


Sementara Zidan, ia memang tengah memainkan ponsel milik mamanya bermain game. Namun tiba-tiba, ada pesan masuk ke dalam ponsel. Zidan pun menghentikan permainannya, takut ada pesan penting pada mamanya. Tanpa membuka terlebih dulu, ia langsung memberikan ponselnya.

__ADS_1


"Sudah main-nya?" tanya Zia saat Zidan memberikan ponsel miliknya.


"Ada pesan dari Papa," jawab Zidan.


Zia mengacak rambut anaknya sambil berkata, "terima kasih sudah memberikan ponselnya." Zia tersenyum ketika mendengar ada pesan dari Randy, tanpa menunggu lama, ia langsung membuka pesan itu dan membacanya. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui isi pesan itu.


Karena khawatir akan keadaan papanya Zidan, Zia langsung saja menghubungi pria itu. Zidan sendiri melihat mamanya, apa isi pesan itu? Sampai mimik wajah wanita itu langsung berubah.


Tuuuuttt .... ponsel itu terbuhung.


Ketika ponsel itu terjawab, Zia langsung menanyakan kronologinya. Lalu, ia sedikit curiga akan papanya yang bersikap baik pada Randy. Apa jangan-jangan ini ada sangkutannya dengan papanya? Pikir Zia.


"Hallo, Mas? Kamu gak apa-apa 'kan? Apa lukanya cukup serius?" tanya Zia tanpa basa-basi.


Di sebrang sana, Randy mengerutkan kedua alisnya, dari mana Zia tahu kalau ia dalam keadaan luka? Lalu ia melihat kearah anaknya, mungkin ini karena Zia barusan meminjam ponsel miliknya.


"Hallo, Mas. Jawab aku!" Zia kembali bercakap.


"Apa yang terjadi?" tanya Zia lagi.


Karena suara Zia terdengar begitu mengkhawatirkan dirinya, sebisa mungkin ia menenangkan pujaan hatinya itu. Malah ia beralih menghubunginya melalui vidio call.


"Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat." Randy menunjukkan ke arah wajahnya pada Zia.


"Apanya yang gak kenapa-kenapa? Itu lebam begitu," kata Zia.


Zidan yang mendengar langsung saja menghampiri mamanya dan melihat ke arah ponsel milik Zia. Sontak, membuatnya terkejut karena ia melihat papanya tengah diobati oleh neneknya.


"Ma, Papa kenapa?" tanyanya pada Zia. "Papa kenapa? Apa yang terjadi pada Papa?" tanya langsung pada Randy.

__ADS_1


"Papa tidak apa-apa, kalian jangan khawatir," jelas Randy.


Zidan merengek ingin bertemu dengan papanya.


"Ma, kita temui Papa sekarang! Aku ingin bertemu, kasian Papa, Ma." Zidan menarik baju Zia, bocah kecil itu medesak mamanya.


"Sudah sore, sayang. Hari sudah mulai gelap, lagian Kakek tidak akan membolehkan kita keluar, besok saja ya?" bujuk Zia.


"Tapi, Ma ..."


"Kalian tidak perlu ke sini, besok Papa yang akan menemui kalian," timpal Randy dalam ponsel itu, karena ia mendengar anaknya ingin menemuinya sekarang juga.


"Tuh, denger apa kata Papa. Besok Papa akan ke sini menemui Zidan," ucap Zia pada anaknya.


"Hmm, baiklah. Tapi Papa janji akan kesini, ya?" kata Zidan pada papanya.


Berakhirlah panggilan itu, karena Zia merasa Randy butuh istirahat. Karena ada yang ganjal di sini, Zia berniat menanyakan masalah ini langsung pada papanya. Karena tidak mungkin ada orang yang tak disengaja mencegat mantan suaminya itu, ini pasti ada orang yang menyuruh orang itu.


"Sayang, Mama mau menemui Kakek sebentar kamu lanjutkan saja mainnya." Zia memberikan ponselnya kembali agar anaknya anteng tidak mengikutinya, karena ia takut dugaannya benar. Jika itu benar, ia tidak ingin anaknya tahu perseteruan papanya juga kakeknya.


***


"Begitu saja kalian tidak becus! Saya bayar kalian mahal untuk ini!" kesal Arya pada panggilan ponselnya.


Zia yang hendak masuk ke dalam kamar yang di tempati papanya langsung terhenti. Ia mendengar suara papanya sedikit berteriak di dalam sana, perlahan ia pun membuka pintu itu. Ia ingin mendengar dengan siapa ia berbicara.


Klek, pintu terbuka sedikit. Zia berdiri di ambang pintu sambil menguping.


"Siapa yang membantunya?" tanya Arya lagi pada orang itu, "Amar, Amar yang membatunya?" Arya terlihat semakin kesal, mengapa calon menantunya itu berniat sekali menyatukan Zia dengan Randy? Terbuat dari apa hatinya itu?

__ADS_1


Zia semakin yakin kalau yang mencelaki mantan suaminya itu adalah papanya sendiri. Tak sabar, ia pun langsung masuk.


"Jadi Papa yang membuat Mas Randy celaka?"


__ADS_2