
Randy terus mengubungi istri pertamanya tanpa lelah, bahkan Zia terus saja menolak panggilan darinya. Sampai diterakhir panggilan itu sudah tidak dapat tersambung karena ponsel milik Zia sudah tidak aktif, hanya operator yang menjawab.
"Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang berada di dalam jangkauan." Hanya itu yang terdengar di pendengar Randy saat ini.
Hatinya semakain kacau saja, ia ingat akan kepindahan Zia hari ini. Tapi kondisi yang tidak memungkin, ia tidak bisa meninggalkan Camelia. Istrinya sudah tidak berdaya, jika bukan karena alat yang menempel di tubuhnya, mungkin wanita itu sudah tiada.
"Bagaimana ini?" Randy terus mondar-mondir di ruangan yang di mana Camelia terbaring lemah di sana. Randy sudah mencoba menghubungi mamanya untuk menggantikannya walau hanya sebentar saja, tapi Eva benar-benar tidak sudi.
Bahkan orang tua Camelia pun memasrahkan anaknya itu padanya. Karena sebenarnya Camelia bukanlah anak kandung yang kini menjadi orang tuanya, tahu wanita itu sakit-sakitan dan sudah tidak bisa mengirimkan uang padanya, mereka sudah tidak mau berhubunganan lagi.
Kalau begini caranya, bisa-bisa Zia meninggalkannya. Dan besok ia harus menemui istrinya, ia akan mengatakan semuanya bahwa ia bukan tidak membagi waktunya. Keadaan yang memaksanya harus seperti itu.
Sementara Zia, ia sedang berkumpul bersama keluarganya. Bahkan Arya memutuskan untuk Zia tidak kembali membuka toko kuenya di sana, ia akan melakukan apa pun demi anaknya. Ia tidak rela anak semata wayangnya tersiksa batinnya. Dapat dilihat dari gestur tubuh Zia, wanita itu terlihat sangat murung. Yang lain tertawa bahagia karena mereka dapat berkumpul kembali.
Arya juga melihat sedari tadi Angga terus memperhatikan anaknya.
"Ma, Papa rasa Angga menyukai anak kita," ucap Arya pada istrinya.
"Iya, Pa. Mama setuju kalau anak kita berhubungan dengan Angga. Tapi itu tidak akan terjadi, Zia sudah menikah."
"Apa Mama rela anak kita dimadu? Terlebih lagi pria itu tidak bertanggung jawab, lihat, anak kita sampai murung begitu? Papa yakin kalau Zia sedang memikirkan suaminya."
"Suaminya dari tadi menelponnya, tapi Zia tidak mengangkatnya. Zia memilih mematikan ponselnya," jelas Zifa yang melihat dengan kepala matanya sendiri.
Sebenarnya orang tua Zia tidak ingin ikut campur, tapi melihat anaknya tersiksa seperti ini mereka tidak bisa tinggal diam.
"Zia pasti meninggalkan suaminya, Ma. Papa yakin itu."
"Papa tahu dari mana? Sepertinya Zia mencintai laki-laki itu!"
"Zia sendiri yang bilang sama Papa, Ma."
Hingga keduanya terlalu sibuk membicarakan masalah rumah tangga anaknya, sampai Zia berada di samping mereka pun tidak tahu. Zia mendengar sendiri betapa kecewanya orang tuanya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ma, Pa." Kata Zia sembari mendudukkan tubuhnya di tengah-tengah orang tuanya.
Zifa langsung memeluk putrinya, seolah memberi kekuatan pada anaknya itu.
"Kamu tidak sendirian, sayang. Ada Papa, sama Mama di sini. Kami mendukung keputusanmu," kata Zifa.
Zia sendiri tidak bisa bertahan jika begini caranya, baru saja ia memberi kepercayaan pada suaminya itu. Tapi sekarang, Randy tidak menggunakan kepercayaan itu sebaik mungkin, sampai Zia berpikir, hanya Camelia yang berarti dalam hidupnya.
Ketika mereka sedang bersama-sama, Angga datang menghampiri. Karena memang sudah larut, ia pun pamit. Untuk sementara, ia menjaga perasaannya. Menahan semua keinginannya untuk menjadi orang yang paling dekat dan paling berarti dalam hidup Zia.
Ia tidak ingin Zia menjadi takut akan dirinya, ia akan mendekati Zia dengan caranya sendiri. Karena gadis itu memang tidak mudah untuk didekati. Hanya sebatas teman untuknya sekarang.
"Zi, Om, Tante. Aku pamit ya?" kata Angga.
"Loh, ngapain buru-buru. Inikan malam Minggu, kita rayain kebersamaan Om sama Zia." Arya menahan kepergian Angga.
"Gak enak, Om. Ini sudah malam, lagian Zia harus istirahat." Dan pada akhirnya, Angga pun pulang hari itu juga.
***
Dan pagi pun menjelang, matahari sudah menyinari bumi. Bahkan cahayanya sudah menerangi kamar Zia yang melalui celah jendela. Ia tertidur kembali setelah melaksanakan shalat subuh tadi. Entah kenapa, tubuhnya sedikit lelah hari ini sampai ia bermalas-malasan di kamar.
Tak lama, Zifa datang menemui anaknya. Ia putuskan untuk menemani anaknya di sini. Terlebih lagi, rumah yang di tempati Zia bukanlah rumah yang dipesan Randy. Arya sendiri yang memilihkan rumah untuk anaknya.
Jadi mereka bisa bebas untuk menemani anak tunggalnya.
"Mama," kata Zia. Zia langsung mendudukkan tubuhnya dan bersandar di atas ranjang.
"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Zifa.
"Nyenyak, Ma," jawab Zia.
Zifa mengelus tangan anaknya.
__ADS_1
"Hanya satu pinta, Mama. Kamu jangan lagi memikirkan pria itu, Mama tidak suka dengan cara dia memperlakukanmu seperti ini. Ingat! Kamu tidak sendirian." Zifa memeluk putrinya.
"Iya, Ma. Hidupku masih panjang, adanya kalian membuatku memiliki kekuatan. Aku sudah putuskan untuk merelakannya, Ma. Mungkin aku tidak berjodoh sama Mas Randy." Tak terasa Zia mengeluarkan air matanya, tapi disaat itu juga ia menghapus air matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah.
"Itu baru anaknya, Mama. Mending kita sarapan yuk?" ajak Zifa kemudian.
Zia pun mengangguk, lalu mereka berdua menuju ruang makan. Zia melihat makanan tersusun rapi di atas meja, ia merasa bingung karena di sini tidak ada pembantu.
"Apa Mama yang menyiapkan ini semua?" tanya Zia.
"Bukan, ini asistent-mu yang menyiapkan semuanya," jawab Zifa.
"Asistent-ku?" ulang Zia, apa semua ini dari suaminya? Randy sudah menyiapkan semuanya untuknya, pikir Zia. Tapi ternyata pemikirannya salah.
"Papa yang lakuin ini, Papa tidak mau kamu cape mengurus rumah ini sendirian," kata Arya yang baru saja tiba di ruang makan.
"Maksud, Papa?" tanya Zia.
"Rumah ini juga Papa kamu yang siapin, sayang," timpal Zifa.
Zia mengerutkan keningnya, lalu bagaimana nasib rumah pemberian suaminya? Bagaimana jika suaminya datang? Pikir Zia. Berarti orang tuanya sudah memikirkan nasib anaknya, orang tua mana yang ingin melihat anaknya menderita?
"Mulai sekarang, lupakan Randy. Papa tidak mau kamu terus memikirkan laki-laki yang tidak punya hati itu, sampai kapan pun, yang namanya poligami tidak akan pernah adil, sayang."
"Aku memang harus melupakannya, aku tidak ingin membuat orang tuaku kecewa," batin Zia.
***
Sementara Randy, ia sudah bersiap-siap untuk menemui istrinya di rumah baru yang ia pilihkan untuk Zia. Randy mengecup kening Camelia terlebih dulu, wanita itu lemah tak berdaya di atas branker. Keadaannya begitu mengkhawatirkan.
"Mel, aku pergi dulu. Aku janji hanya sebentar, setelah menemui Zia aku akan segera kembali." Randy berbicara seolah istrinya itu tersadar.
Randy segera menuju perumahan elit yang menjadi hunian istrinya. Lokasinya memang tidak terlalu jauh, jadi tidak membutuhkan waktu lama baginya sampai di sana. Setibanya di sana, ia langsung saja turun dari mobil.
__ADS_1
Tapi rumah itu terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda penghuni di sana. Randy mencoba menghubungi nomor Zia, lagi-lagi tidak bisa dihubungi.
"Aarrhh ..." Randy nampak kesal karena istrinya tidak ada di sana.