
Zia dan Yola yang masih berada di restaurant akhirnya berpisah, Yola sendiri tidak bisa mengantar Zia pulang karena ia harus segera pulang ke rumah, suaminya yang bertugas di luar kota pulang mendadak hari ini.
"Maaf ya, Zi. Aku tidak bisa mengantarmu pulang, Mas Reno sudah ada di rumah," kata Yola.
"Iya gak papa," jawab Zia.
Setelah pamit, Yola pun segera pergi meninggalkan Zia yang masih bersama Amar.
"Aku yang antar ya?" tawar Amar yang ingin mengantarkan Zia pulang.
Sebelum menjawab, Zia menoleh ke arah Zidan terlebih dulu. Anaknya itu menggelengkan kepalanya, ia menolak untuk diantar pulang oleh Amar. Terlebih lagi, Zidan belum mengenal pria itu.
"Maaf ya, Amar. Sepertinya Zidan tidak mau pulang bareng kamu, aku naik taxi saja," tolak Zia.
Amar tersenyum kecut karena mendapat penolakkan dari wanita yang sudah jelas dijodohkan dengannya. Tidak ada pilihan, Amar pun mempersilahkan Zia pulang naik taxi.
***
Zia tengah melamun di dalam taxi, ia memikirkan sikap Zidan yang tak ingin dekat dengan laki-laki yang dekat dengannya. Kalau begini caranya, Zidan tidak akan mendapatkan sosok ayah untuknya. Ia juga tidak mungkin terus-terusan menggantungkan Angga, dia sudah punya keluarga dan sebentar lagi akan memiliki anak.
Lamunan Zia buyar ketika Zidan mengusap pipinya, dan Zia langsung menoleh pada putranya itu.
"Mama kenapa melamun?" tanya Zidan.
"Gak apa-apa, sayang. Mama hanya lelah," jawab Zia.
Karena perjalanan masih jauh, Zidan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang mama. Bocah itu merasa mengantuk, dan pada akhirnya Zidan tertidur. Tak terasa perjalanan mereka pun sampai ditujuan, Zidan yang masih tidur, Zia sedikit kerepotan karena tubuh anaknya sedikit subur.
Kebetulan ia melihat Angga bersama Mila. Entah dari mana mereka itu, yang jelas Angga dan Mila baru saja sampai. Tak berlama-lama lagi, Zia memanggil Angga, meminta bantuannya untuk menggendong putranya itu.
"Terima kasih," ujar Zia pada Angga setelah pria itu meraih tubuh Zidan yang berada dalam pangkuannya.
"Bosan mendengar kata terima kasih darimu," kata Angga. "Lagian, kaya sama siapa aja kamu ini," sambung Angga lagi, lalu pria itu berjalan membawa Zidan masuk ke dalam rumah.
Mila pun menghampiri Zia.
__ADS_1
"Kalian dari mana?" tanya Zia pada Mila.
"Dari rumah sakit, Mbak. Cek kandungan," jawab Mila.
Dan mereka berdua pun ikut menyusul Angga yang lebih dulu masuk ke dalam. Zia dan Mila mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, melepas penatnya di sana.
"Mbak gak tahu lagi mesti gimana, Mil," kata Zia tiba-tiba.
"Maksud, Mbak?" Mila tak mengerti apa yang diucapkan oleh Zia.
"Zidan selalu menolak ketika Mbak sedang dekat dengan seseorang."
"Mbak lagi deket sama seseorang, siapa, Mbak?" Mila begitu penasaran.
"Amar ya?" tebak Angga yang baru saja muncul menghampiri mereka, Angga sendiri tahu dari Arya. Karena mereka sempat membicarakan ini sebelum mengenalkan Zia pada Amar. Angga pun mendudukkan tubuhnya di sofa dan meletakan gelas yang ia bawa bawa di atas meja.
"Kok tahu sih?" tanya Zia.
"Tidak ada yang disembunyikan antara aku sama Om Arya," jelas Angga. Begitu pun dengan surat yang diberikan Randy dulu untuk Zia, sampai saat ini Zia belum mengetahui isi surat itu. "Maafkan aku, Zi," batin Angga.
Obrolan mereka terus berlanjut, Zia sendiri menanyakan bagaimana sikap Amar pada Angga. Karena ia yakin, Angga tahu bagaimana sikap pria itu, ia akan mencoba membuka hatinya untuk pria lain.
"Ga, Amar itu orangnya seperti apa sih?" tanya Zia.
"Baik, dia juga humoris. Gak akan bosen deh sama dia." Secara tidak langsung, Angga memuji Amar. Karena itu memang benar adanya.
Zia nampak berpikir, apa ia terima saja perjodohan itu? Dengan Zidan, lambat laun pasti menerima pria itu.
"Memangnya kenapa? Apa kamu berniat menerima perjodohan itu?" tanya Angga.
"Apa? Dijodohin?" Mila nampak terkejut mendengarnya. "Sebaiknya jangan deh, Mbak. Kegagalan kemarin seharusnya menjadi pelajaran bagi, Mbak." Yang dimaksud Mila saat Zia menikah dengan Randy dulu, karena perjodohan ia gagal dengan pernikahannya.
Karena tidak adanya cinta di antara mereka, pada akhirnya rumah tangga Zia berakhir. Zidan yang menjadi korban, Mila sendiri merasa iba pada bocah itu.
"Mbak pikirkan ini matang-matang, hubungan Mbak ada keterkaitannya dengan Zidan," sahut Mila.
__ADS_1
"Justru itu, Mbak tengah memikirkannya, Mil."
"Apa Mbak tidak berniat mempertemukan Zidan sama Papanya?" tanya Mila.
Angga yang sedang minum langsung tersedak.
Ia sendiri merasa khawatir, jika Zia dan Randy bertemu pasti Randy menanyakan surat yang dulu pernah ia berikan pada Zia bukan?
"Hati-hati dong, Mas" kata Mila.
"Aku kaget saja sama ucapanmu itu," kata Angga.
"Kenapa mesti kaget? Tidak ada salahnya mempertemuka mereka, Zidan berhak tahu Papnya, Mas."
Sampai Zidan sendiri mendengar penuturan Mila, karena sejak tadi Zidan mendengarkan pembicaraan mereka. Menyebut nama Randy juga kata papa membuat Zidan penasaran.
"Jadi nama Papaku, Papa Randy?" ucap Zidan. Ia menghampiri Zia. "Aku ingin bertemu dengan Papa, di mana sekarang dia, Ma?" Zidan menggunjing tubuh mamanya, ia mendesaknya karena selama ini ia cukup diam tak menanyakan keberadaan papanya itu.
"Papamu tidak ada, dia tidak menyayangi kita. Jadi berhenti menanyakannya." Zia sedikit membentak Zidan, rasa sakit yang ditorehkan mantan suaminya masih membekas dalam hidupnya. Ia tak berharap bertemu kembalu dengan mantan suaminya itu.
Seketika, Zidan langsung menangis. Salah jika ia ingin tahu akan keberadaan papanya? Zidan yang tidak tahu permasalahan menjadi korban keegoisan kakeknya sendiri.
'Kalau Mama tidak ingin aku membahas Papa, izinkan aku ikut Summer camp yang diadakan di sekokah." Karena Zia pun tak mengizinkan Zidan pergi ke acara tersebut. Karena lokasinya terlalu jauh, acara tersebut diadakan di puncak.
Tidak ada pilihan lain selain mengizinkan Zidan pergi ke acara summer camp. Dari pada ia harus mempertemukan Zidan dengan Randy.
Hingga akhirnya, Zidan pun langsung terhenti dari rengekannya. Ia berantusias karena akan pergi ke Bogor nanti bersama-sama teman sekolahnya.
"Tapi tetap Mama awasi," kata Zia.
Zidan mengangguk lalu memeluk sang mama. Karena acara summer camp itu adalah hari terakhir ia berkumpul dengan teman-teman sekolahnya, selepasnya ia akan memasuki sekolah dasar.
Zia membalas pelukkan anaknya itu, tak terasa ia malah menitikkan air matanya. Ia sendiri merasa berdosa karena sudah memisahkan anaknya dengan ayah kandungnya.
"Maafkan Mama, sayang" batin Zia.
__ADS_1