Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 33


__ADS_3

Disaat Zia sedang dalam perjalanan, ia begitu khawatit. Takut Zidan bertemu dengan neneknya, karena terus gelisah ia pun menepikan mobilnya. Ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas miliknya, lalu menghubungi Yola.


Sambungan itu langsung terhubung.


"Hallo, Yol. Aku titip Zidan, jangan sampai dia bertemu dengan Neneknya Zia," kata Zia pada sambungan itu. "Pokoknya lakuin itu, nanti aku jelasin." Tak lama ia mematikan ponselnya, karena Yola dapat dipercaya ia sedikit lega.


Zia kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Karena hari ini ada tamu yang ingin bertemu dengannya.


***


Sedari tadi, Eva terus melihat ke dalam kelas Zia, ia ingin melihat Zidan. Ia masih belum percaya kalau menantunya itu begitu cepat memiliki anak, bahkan umurnya saja tak jauh dari Zia, cucunya.


"Apa mungkin Zia langsung menikah setelah bercerai dengan Randy?" ucapnya sendiri. Meski pun betul, akan membutuhkan proses sampai ia hamil dalam waktu dekat. Eva terus memikirkan itu sampai kepalanya pusing.


Tak lama, jam pelajaran telah usai. Zia keluar dari dalam kelas, ia menghampiri neneknya. Ia juga memberikan sebuah catatan pada neneknya. Itu formulir untuk di tandatangani oleh orang tua, izin untuk melaksanakan acara summer camp yang akan diadakan di puncak.


"Summer camp?" kata Eva.


Zia mengangguk-anggukkan kepalanya, ia senang dengan acara itu.


"Oma gak yakin Papamu akan setuju, Puncak itu jauh, Zia," kata Eva.


Zia langsung cemberut dan berlari ke arah mobil. Eva menghela napasnya, lalu menyusul Zia. Ia sampai lupa pada Zidan, padahal ia ingin bertemu dengan anak itu


Setibanya di dalam mobil, Eva mendudukkan tubuhnya di sebelah Zia. Gadis kecil itu cemberut, karena ia pikir neneknya pun tak menyetujuinya untuk pergi ke acara summer camp.


"Jangan cemberut gitu, Oma setuju-setuju saja." Kata Eva sembari mengusap lembut rambut Zia.


Mata Zia terarah pada wajah neneknya, seolah meminta bantuan untuk izin pada papanya. Zia juga mengatupkan kedua tangannya, ia begitu memohon.


"Iya, Oma coba bicara pada, Papa," kata Eva.


Zia langsung tersenyum dan memeluk neneknya.

__ADS_1


"Jalan, Pak," kata Eva kemudian pada supirnya.


Di sepanjang perjalanan, Eva terus kepikiran akan hal Zia. Keberadaan Zidan menjadi sebuah pertanyaan baginya, apa ia harus menceritakan masalah ini pada anaknya? Tapi kalau dugaannya salah, dan itu benar anak Zia dengan suami barunya, tentu akan menyakiti hati Randy. Akhirnya, Eve berniat menyembunyikan kabar tentang Zia pada anaknya itu sebelum ia tahu kebenarannya.


***


Hari ini, Zia sedang berada di sebuah mal. Klien-nya meminta bertemu di sana. Zia sendiri sudah tidak merasa heran dengan hal itu, sudah biasa baginya ketika mendapatkan klien anak muda. Sambil menunggu, ia memainkan ponselnya. Melihat kenangan Zidan sewaktu masih bayi.


Bibirnya mengulas senyum, ketika teringat akan kelucuan Zidan dimasa kecilnya. Karena selelu rindu pada Zidan, ia pun menghubungi Angga, memintanya untuk mengantarkan anaknya itu padanya.


Zia teringat akan acara yang akan dilaksanakan di sekolah Zidan, selagi berada di mal ia sekalian membeli untuk kebutuhan anaknya diacara nanti. Zia terus melirik jam di ponselnya, klien-nya kali ini membuatnya kesal.


Karena menunggu lama, ia pun akhirnya menghubungi kantor. Menanyakan tentang klien-nya, takutnya klien-nya itu membatalkan jadwal pertemuannya.


"Hallo, Bagas. Ini saya, klien-nya jadi datang apa tidak? Kenapa lama sekali, sudah satu jam saya menunggu," omel Zia pada sambungan itu.


"Tunggu sebentar, saya coba hubungi klien-nya," kata Bagas di sebrang sana.


"Kirimkan nomornya ke saya." Setelah mengatakan itu, Zia menutup panggilannya.


Tak lama, ponsel Zia berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ternyata itu pesan dari Bagas, mengirimkan sebuah nomor padanya. Setelah mendapatkan nomor itu, ia tak langsung menghubunginya. Ia mencoba memberi waktu pada klien-nya.


Menunggu beberapa saat membuatnya hilang kesabarannya, ia meraih ponselnya, hendak menghubungi orang itu. Baru saja berniat mengubunginya, sebuah suara terdengar dari arah belakangnya.


"Maaf, membuat Anda menunggu lama," kata orang itu.


Deg


"Suaranya ..."


Suara itu mengingatkan Zia pada seseorang, penasaran dan ketakutan menjadi satu. Semoga saja itu hanya pikirannya, pikir Zia.


"Iya, gak a-pa-apa," jawab Zia terbata.

__ADS_1


Betapa terkejutnya ia ketika siapa yang menjadi klien-nya kali ini. Melihat wajahnya mampu membuat jantungnya berdegub dengan kencang. Pasalnya, hampir 6 tahun tak bertemu dengannya.


Wajah itu masih tetap tampan, tak ada yang berubah dalam pandangannya. Zia masih tak percaya akan hal ini, hari ini ia bertemu dengan mantan suaminya.


Randy sendiri tak kalah terkejut, ia mengulas senyum ketika melihat wajah cantik mantan istrinya. Rasa rindu itu hilang seketika ketika melihat Zia.


"Mas Randy."


"Zia," ucap mereka bersamaan


Mereka berdua terasa mimpi, sekian lamanya mereka kembali bertemu. Meski susah payah, Zia menelan salivanya. Ia mencoba mentralkan dirinya, mencoba tetap bersikap biasa.


"Apa kabar, Mas?" tanya Zia kemudian.


"Ba-baik," jawab Randy.


"Silahkan duduk." Zia mempersilahkan mantan suaminya itu duduk, ia mencoba bersikap propesional.


"Jadi, Anda yang memesan rumah itu?" tanya Zia. Padahal dalam hatinya bertanya-tanya, untuk apa ia membeli rumah? Apa rumah yang dulu sudah tidak di tempati? Apa mantan suaminya memang ingin mengubur masa kenangan bersamanya? Sampai sebegitunya Zia berpikir. Karena ia merasa memang tak berarti dalam hidup mantan suaminya itu.


"Iya, saya yang memesan rumah itu. Saya mau buat kejutan," jawab Randy.


"Baik, sesuai harga. Dan itu sudah tidak bisa nego, karena sudah harga pasaran," jelas Zia.


Bukannya mendengarkan ucapan Zia, Randy malah memandang wajah mantan istrinya itu.


"Kamu semakin cantik, Zia," gumam Randy.


"Hah, apa katamu?" tanya Zia. Karena ia mendengar samar-samar.


"Ti-tidak, maksudku gambar rumahnya cantik," elak Randy.


Obrolan di antara mereka tetap pada tujuan, meski Randy sedikit menanyakan akan Zia. Tapi sebisa mungkin Zia mengalihkan pertanyaan Randy. Karena sejujurnya, Zia tengah kepikiran tentang Angga yang sedang dalam perjalanan menuju ke pusat perbelanjaan bersama Zidan.

__ADS_1


Perbincangan itu masih tetap berlanjut, sampai di mana sebuah panggillan menggema di telinga Zia, begitu pun Randy yang menyadari akan hal itu.


"Mama ..."


__ADS_2