
Setelah beberapa jam berlalu, si kecil Zia kini melewati masa kritisnya. Setelah dokter memeriksa keadaan pasien, kini ia dipindahkan ke ruang VVIP. Ruangan di mana tak sembarangan orang lain bisa masuk, Randy benar-benar menjaga ekstra putrinya. Ditambah lagi mendapat dukungan dari dokter Raka.
Randy sendiri sampai bingung, padahal ini bukan rumah sakit di mana dokter Raka berkerja. Bahkan ia sampai izin cuti dari rumah sakit sebelumnya hanya untuk merawat Zia. Padahal Zia bukan lagi pasiennya setelah ditangani dokter yang berada di rumah sakit Amerika.
Tapi ya sudahlah, Randy tak bisa berbuat apa-apa jika itu memang keinginan dokter Raka. Ia hanya bingung dengan pemikiran dokter itu, tak biasanya ada dokter yang seperti dirinya.
Zia sudah nyaman berada di ruangan VVIP, meski belum sadar pasca operasi tapi keadaannya semakin membaik. Tinggal menunggu gadis itu sadar. Kini semua berada di ruangan itu, Randy yang lelah seharian menunggu, ia beristirahat duduk di sofa sampai dirinya ketiduran.
Sejenak, Zia membangunkan suaminya. Ia akan pamit pulang lebih dulu untuk memastikan Zidan tidak rewel bersama mertuanya.
"Mas." Zia mengguncangkan tubuh suaminya pelan.
Pria itu pun terbangun. "Apa? Maaf, aku ketiduran," kata Randy.
"Aku pulang sebentar ya, Mas. Mau tahu bagaimana Zidan."
"Jam berapa ini?" tanya Randy.
"Jam delapan, Mas."
"Kamu pulang saja, biar Mas yang menunggu Zia. Besok bisa kembali sekalian ajak Mama dan Zidan," kata Randy. "Tapi aku gak bisa antar, gak apa-apa 'kan?"
"Iya, Mas. Gak apa-apa, aku naik taksi saja."
Akhirnya Zia pun pulang, karena ada dokter Raka di sana, ia pun pamit pada dokter itu.
"Dok, saya permisi dulu," pamit Zia.
"Oh iya silakan," kata dokter Raka.
Zia keluar dari ruangan itu, kini hanya ada Randy dan dokter Raka di sana. Dokter Raka ikut duduk di sofa di mana Randy mendudukkan tubuhnya. Dokter Raka melihat wajah lelah Randy.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Jika Anda mengantuk, Anda bisa tidur. Biar saya yang menunggu Zia," kata dokter Raka.
"Iya, ngantuk sedikit," jawab Randy. "Tapi bener gak apa-apa kalau saya tidur sebentar?" Randy memastikan karena ia merasa tidak enak selalu merepotkan.
"Iya, gak apa-apa. Nanti kita bisa gantian menjaga Zia," ujar dokter Raka.
Karena memang mengantuk, Randy pun memejamkan matanya dengan posisi duduk di sofa, kepala menyandar di sandaran sofa tersebut. Hingga tak lama, dengkuran halus terdengar di pendengaran dokter Raka.
Dokter Raka memastikan Randy tidur, ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Randy. "Benar nyenyak." Dokter Raka beranjak dari posisinya, ia mendekat ke arah branker di mana ada Zia di sana.
Dokter Raka melihat wajah gadis kecil itu lekat-lekat, entah kenapa ia merasa senang melihat wajah imut itu. Bibirnya mengulas senyum, tak lama ia menggelengkan kepalanya menepis semua bayang-bayang dalam otaknya.
"Perasaan apa ini? Aku tidak mungkin menyukai gadis kecil ini." Dokter Raka terus menggeleng-gelengkan kepala. Hingga tatapannya langsung fokus pada pasien itu. Zia tersadar, gadis itu membuka matanya.
Dokter Raka yang melihat semakin mendekat, lalu memeriksanya.
"Jangan banyak gerak, Dokter periksa dulu." Kata dokter Raka sambil memeriksa Zia dengan alat yang ia bawa. Setelah memastikan keadaannya, dokter Raka memanggil dokter yang menangani Zia di sana. Dokter Raka menekan tombol yang di mana langsung terhubung dengan panggilan dokter yang ada di rumah sakit tersebut.
Tak lama, dokter yang menangani Zia datang. Mendengar sedikit kebisingan, Randy terbangun. Bingung karena ada dokter lain, ia langsung mendekat karena takut terjadi sesuatu pada anaknya.
"Tenang, Tuan. Dokter hanya memeriksa, Zia sudah sadar," jawab dokter Raka.
"Alhamdulilah." Randy mengusap dada, lalu semakin mendekat ke arah anaknya. Ia ingin melihat anaknya itu.
Zia yang merasa mendengar suara papanya langsung menoleh. Ada rasa sakit ditenggorokannya akibat pergerakan itu, ia sedikit meringis.
"Don't move much," kata dokter. "Just rest," sambungnya lagi.
"Iya, sayang. Kamu jangan banyak gerak," timpal Randy. "Papa senang kamu sudah sadar, Papa harap kamu bisa cepat sembuh. Kita akan kembali berkumpul, setelah kamu benar-benar sembuh kita pulang ke Indonesia," sambung Randy.
Zia yang mendengar mengerutkan keningnya, "kembali ke Indonesia? Memangnya aku ada di mana?" Zia melihat dokter asing di sana, apa lagi dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Hingga ia berpikir bahwa ia tengah berada di negara orang.
__ADS_1
"Then l'll excuse myself," kata dokter, karena kondisi Zia semakin membaik, dokter itu pamit keluar dari ruangan itu.
"Thank you," kata Randy.
Dokter itu tersenyum, lalu keluar dari ruangan Zia.
"Dokter Raka, Zia sudah sadar. Kalau Dokter mau keluar dulu, gak apa-apa. Ada saya yang menjaga putri saya," kata Randy pada dokter Raka.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya permisi." Dokter Raka akhirnya keluar, padahal ia masih ingin berada di sana. Apa lagi ia tahu Zia sudah sadar, tentu ia ingin menamani gadis kecil itu.
"Zia, Om Dokter permisi dulu ya? Zia jangan banyak gerak, istirahat yang cukup." Kata dokter Raka sambil mengusap pucuk kepala gadis itu.
Zia menanggapi dengan mengedipkan matanya.
"Tuan Randy, saya permisi kalau begitu."
***
Di apartemen.
Setelah pamit dari rumah sakit dokter Raka langsung pulang ke apartemen miliknya. Ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya malam ini. Mencoba untuk tidur tapi tak bisa, ia malah terus teringat pada bocah kecil itu.
"Kamu gila, Raka. Zia itu masih kecil, kenapa kamu memiliki perasaan pada gadis kecil itu." Raka merutuki diri sendiri sambil memukul-mukul kepalanya. Ia harap ini hanya perasaan sesaat.
Ia juga berpikir, mungkin sudah lama tidak bertemu dengan pasiennya, sekali bertemu malah membuatnya menjadi rindu.
Tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, ia terus mencoba memejamkan matanya. Bahkan ia terus membolak-balikkan tubuhnya mencari kenyamanan agar dapat cepat tidur. Hingga akhirnya ia bisa tidur di jam tiga pagi.
Sementara di rumah sakit.
Randy menjaga putrinya seorang diri, ia tak tega pada istrinya jika harus ikut menemaninya malam ini. Ia juga tak bisa meninggalkan Zidan lama-lama bersama mamanya. Takut kejadian dulu terulang, di mana Zidan selalu merasa dirinya hanya memperhatikan Zia seorang diri.
__ADS_1
Randy melihat putrinya yang tertidur pulas, melihat wajah itu lekat-lekat. Putrinya memang sangat cantik, wajah Camelia begitu melekat di wajah putrinya itu.
"Apa iya dokter Raka suka sama kamu, sayang? Tapi kamu masih kecil." Entah batin yang kuat atau apa, tapi hatinya mengatakan itu. Bahwa dokter Raka menyukai putrinya, tapi semoga saja perasaannya itu salah menilai pada dokter Raka. Bisa saja kalau dokter itu memang peduli pada pasiennya. Semoga saja begitu.