
Proses sidang dipercepat, karena Zia memakai jasa pengacara handal. Sidang pertama di mulai, Zia datang seorang diri. Randy sendiri tidak datang karena ia tak bisa meninggalkan Camelia yang terbaring lemas di rumah sakit
Zia begitu kecewa, sidang pertama suaminya itu tidak datang. Proses dipermudah karena salah satu di antaranya tidak hadir. Ketok palu sudah terdengar. Zia ditemani mamanya, mamanya mengusap lembut punggung Zia.
"Keputusanmu memang sudah benar, laki-laki seperti Randy memang tidak pantas memilikimu," kata Zifa.
Zia hanya tetsenyum pilu, hatinya serasa teriris. Namun ia terus berusaha tegar. Ia mengusap perutnya, seolah memberikan kekuatan pada janinnya. Ya, Zia tengah mengandung anak dari Randy. Ia putuskan untuk tidak memberitahukan kehamilannya itu, ia takut pengadilan tidak melanjutkan proses percerainnya.
Zia dan mamanya pulang, dijemput oleh Angga. Selama Zia berpisah dengan Randy, Angga-lah yang selalu bersamanya. Bahkan ia siap menjadi papa dari anak yang di kandung Zia sekarang.
***
Proses sidang kedua dimulai, kali ini Randy hadir. Tapi sayang, Zia tidak hadir. Sang pengacara yang mewakilinya.
Hingga sidang selesai, Randy dan Zia resmi bercerai. Hakim mengabulkan gugatan yang dilayang oleh Zia karena semua kesalahan terdapat pada diri Randy. Ketika Randy mencoba membela diri pun sudah tidak bisa.
Seusai sidang, Randy menjabat tangan pengacara dari pihak Zia yang kini sudah sah menjadi mantan dari istrinya itu. Randy begitu terpukul akan perceraian ini. Ia menitipkan sepucuk surat untuk mantan istrinya itu, ia berharap Zia membacanya dan suatu saat bisa merubah keadaan.
"Saya titip ini untuk, Zia." Setelah memberikan surat itu, Randy undur diri.
***
Di kediaman Zia.
Zia terbaring lemas di tempat tidur, sampai ia di infus karena kehamilannya yang cukup menyiksa. Apa pun yang dimakannya pasti keluar lagi, sampai Arya menyaran anaknya lebih baik dirawat di rumah.
Tak lama, sang pengacara datang menemui kliennya.
"Bagaimana proses sidangnya, apa semuanya berjalan lancar?" tanya Arya pada pengacara itu.
"Semuanya berjalan lancar, sidang selesai. Nyonya Zia sudah resmi bercerai dengan Tuan Randy," kata pengacara itu. "Dan ini." Pengacara itu memberikan sebuah amplop putih pada Arya. "Ini dari Tuan Randy untuk Nyonya Zia," katanya lagi.
__ADS_1
Arya mengambil amplop tersebut.
"Terimakasih, Anda boleh pergi," kata Arya pada pengacara itu. Arya menyimpan amplop itu ke dalam sakunya, ia tak berniat memberikan surat itu pada anaknya.
"Siapa, Pa?" tanya Zia setibanya papanya di kamarnya.
"Pengacara, sidangmu sudah selesai. Kamu sudah resmi bercerai dengan laki-laki itu," ujar Arya. Jangankan untuk melihat, menyebut namanya saja Arya tidak sudi.
Zia merubahkan posisinya, yang tadinya terlentang, sekarang menjadi meringkuk. Membelakangi sang papa, ia tak kuasa dengan perpisahan ini. Zia menangis tanpa suara, hanya getaran tubuh yang terlihat oleh papanya sendiri.
Arya sendiri tahu bahwa anaknya tengah menangis. Tak ingin mengganggu, Arya pun pergi meninggalkan anaknya. Setelah kepergian papanya, Zia pun terisak. Ia tak bisa lagi menahan kesedihannya, sejujurnya ia tak membenci, melainkan kecewa. Kecewa karena terus dibohongi, karena Zia menyangka bahwa tidak ada cinta dari suaminya untuknya.
"Hanya kamu yang Mama miliki, kehadiranmu membuat Mama kuat." Ucap Zia seraya menyentuh perutnya yang masih rata.
***
Hari-hari berlalu, sampai di mana masa idah Zia sudah terlewat. Angga datang pada Zia, ia meminta Zia untuk menikah dengannya. Tapi sayang, wanita yang kini tengah berbadan dua itu tak berpikir akan menikah lagi. Ia trauma akan sebuah pernikahan, ia hanya ingin fokus pada kandungannya merawat anaknya sampai kelak menjadi anak yang berbakti padanya.
"Maafkan aku, Mas. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku," tolak Zia saat Angga mengungkapkan niatnya untuk menikahinya.
Angga menyadari betapa besarnya cinta Zia untuk Randy. Zia bisa saja membohongi orang tuanya, tapi tidak untuk dirinya.
"Cintamu terlalu besar padanya, sampai kamu tidak bisa menerima laki-laki lain dalam hidupmu," kata Angga. Walau ia kecewa, tapi ia tak ingin kehilangan Zia. Cukup menjadi sahabatnya saja Angga sudah bahagia.
"Aku tidak mau membahasnya," kata Zia. "Maafkan aku ya, Mas?" ucap Zia lagi.
"Maaf untuk apa?" tanya Angga.
"Maaf, karena selalu merepotkanmu. Kamu yang selalu menemaniku selama ini, bahkan sampai mau repot-repot mengantarku ke rumah sakit, juga mengakuinya sebagai anakmu."
Tak ada alasan lain selain menjaga nama baik Zia, pernikahan yang tidak diketahui banyak orang tentu akan menjadi cemo'ohan bagi Zia dengannya mengandung tanpa seorang suami.
__ADS_1
"Jangan pernah mengatakan itu lagi, aku tidak merasa direpotkan," kata Angga. "Apa dia sudah menendang-nendang?" Angga mengalihkan pembicaraan mereka, karena ia tak ingin membuat Zia bersedih.
"Kamu itu ada-ada saja, Mas. baru juga 4 bulan, mana ada menendang." Jawab Zia seraya memukul lengan Angga dengan pelan.
Meski mendapat penolakan tak membuat Angga membenci Zia, malah keduanya semakin dekat seperti sebuah keluarga. Disaat sedang asyik berbincang, Mila datang membawakan cemilan.
Mila meletakkan cemilan itu di atas meja, setelahnya ia hendak pamit. Tapi gadis itu terhenti seketika dari langkahnya karena Zia memanggilnya.
"Apa, Mbak?" kata Mila.
"Duduk sini." Zia menepuk kursi yang ia dudukki. "Duduk sini, temani Mas Angga," lanjut Zia lagi.
Mila mengerutkan keningnya. "Emang, Mbak mau kemana?" tanya Mila, karena ia merasa bingung tiba-tiba saja disuruh menemani pria ini.
"Mbak ada janji sama Mama," jawab Zia pada Mila. "Mas, happy aja ya? Ada Mila yang menemanimu di sini." Setelah mengatakan itu, Zia langsung pergi meninggalkan Angga dan Mila.
Mila sendiri menjadi kikuk, diam-diam ternyata ia menyukai Angga. Sampai perasaannya pada laki-laki itu diketahui oleh Zia. Dari sudut pandang sampai gestur tubuh Mila sangat terlihat bahwa ia memiliki perasaan.
***
Di rumah sakit.
Randy tengah gelisah, ia terus mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Benar apa kata dokter, kandungan Camelia tidak bisa sampai 9 bulan. Kondisi pasien sudah tidak lagi bisa dipaksakan mengandung sampai kehamilan ditentukan pada umumnya.
Diusia kandungannya yang baru 7 bulan, terpaksa bayi itu harus dikeluarkan. Sampai proses operasi berlangsung, Randy terus mengkhawatirkan istrinya itu.
"Tenangkan dirimu, Randy," kata Eva. Mau tak mau Eva pun ikut menemani Randy di rumah sakit. Ia harus merelakan Zia pergi dari hidup anaknya, dan ia menerima Camelia sebagai menantunya. Terlebih lagi ia akan mendapatkan cucu dari menantunya itu.
Pada akhirnya, operasi selesai. Dokter keluar dari ruangan itu. Randy langsung saja menghampiri dokter.
"Bagaimana, Dok? Operasinya berjalan lancarkan?" tanya Randy, ia tidak sabar mendengar jawaban dokter.
__ADS_1
"Maaf, hanya satu yang selamat," jawab dokter.
Tubuh Randy langsung ambruk di atas lantai, ia berdiri menggunakan lutut. Ia tahu siapa yang dimaksud oleh dokter. Wajahnya tertunduk, pria itu menangis karena untuk yang kedua kalinya ia ditinggalkan oleh istrinya.