
Kedua insan itu masih saling terdiam, perasaannya campur aduk tak karuan. Ingin marah, namun tak bisa.
Sampai Randy yang lebih dulu berucap, entah diterima tidaknya, setidaknya ia sudah mencoba.
"Apa tanggapanmu tentang surat dariku? Apa kamu tega membiarkanku sendirian seumur hidup?" tanya Randy.
Zia mengerutkan keningnya. "Surat? Surat apa yang dimaksudnya?" batin Zia. Ia tak pernah mendapatkan sepucuk surat dari siapa pun.
Randy kembali berlutut untuk yang kedua kalinya, ia meminta untuk kembali bersama. Ia janji, ia akan membahagiakannya juga putranya. Zia sendiri menjadi bingung, terlebih lagi ia tak tahu soal surat itu. Ia juga tak ingin menyakiti hati Amar, ia sudah mengenal keluarganya.
"Jangan seperti ini, malu dilihat orang," kata Zia, "sebaiknya, Mas pulang. Aku gak mau Papa lebih marah dengan caramu seperti ini."
Randy mendongakkan wajahnya, ia butuh jawaban sekarang darinya.
"Maaf, Mas. Aku sudah terlanjur menerima perjodohan ini, carilah kebahagiaanmu sendiri. Untuk Zidan, jika ingin bertemu, temuilah sesuka hatimu. Aku tidak melarangmu untuk itu," jelas Zia.
Namun tiba-tiba, terdengar suara dari arah belakang mereka.
"Jodoh memang tidak kemana," katanya, yang tak lain adalah Amar. Bukan Amar namanya jika ia merebut seseorang, apa lagi terkesan memaksa. Sorot mata Zia tak bisa berbohong, betapa ia masih mencintai mantan suaminya itu. Ia juga berpikir, pernikahan bukan hanya dilakoni sehari dua hari bukan? Kalau Zia menikah dengan tanpa adanya rasa cinta, apa bedanya ia dengan Randy yang dulu?
Ia tak ingin membuat wanita yang dicintainya menderita, menikah dengannya sama artinya ia akan menyiksa batin wanita itu. Lebih baik ia sakit sekarang dari pada ia sakit selamanya. Jika ia menikah dengan Zia, bukan hanya Zia yang sakit, ia pun akan merasakan hal yang sama.
Kalau raganya bisa ia dapat, tapi kalau hatinya tidak untuk apa? Keegoisan malah akan menjadi semuanya hancur, lebih baik ia berdamai dari sekarang.
"Kalian jangan egois, ingat anak kecil yang mengharapkan kalian bersatu. Apa kamu tega melakukan ini pada, Zidan? Ini kesempatanmu untuk membahagiakannya, terutama membahagiakan diri sendiri," ujar Amar dengan gaya sok bijak-nya. Padahal, ia tengah merasakan patah hati yang mendalam. Baru saja akan menikmati manisnya cinta, tapi sayang, bukan Amar namanya kalau ia memaksakan kehendaknya.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mundur kalau Zia masih mencintai mantan suaminya. Dan semuanya terbukti, seberapa pun penghalang cinta mereka. Kedua cinta itu akan kembali bersatu, meski entah kapan itu itu terjadi.
__ADS_1
"Ingat, anak-anak lebih penting bukan? Kalian jangan khawatir, aku akan membantu kalian bersatu kembali," yakin Amar.
"Aku kira, kamu akan menjadi saingan terberatku," tutur Randy.
"Dia memang saingan terberatmu, aku tetap menerima perjodohan ini. Semuanya sudah jelas, kamu sudah tahu jawaban dariku. Sekarang, pergilah."
Jedar ...
Serasa ada petir yang menyambar, Randy tak percaya Zia akan bicara seperti itu padanya. Apa ucapannya serius?
"Dan untukmu, Amar. Aku bukan wanita penjilat, bahkan aku sudah sepakat untuk ini. Bukannya cinta bisa datang menyusul? Aku yakin kamu bisa membahagiakanku, aku tidak butuh hanya sekedar janji." Zia melirik ke arah Randy, ucapannya memang untuk dirinya.
"Pertunangan kita dipercepat," kata Zia.
Amar terkejut mendengar penuturan Zia, ia tahu perkataan Zia sedang dalam emosi. Ia juga tahu kalau itu hanya ingin membuat Randy segera pergi dari sini, mungkin tepatnya untuk melindungi Randy dari kemarahan orang tuanya.
"Pergilah, Mas." Setelah mengatakan itu, Zia pun pergi meninggalkannya.
Dan untuk, Amar. Pria itu masih bersama Randy.
"Butuh waktu untuk kembali pulih, aku ingin Zia bahagia. Dan sepertinya, kamu kebahagiaannya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kamu menanggapi ucapan Zia serius?" tanya Amar, "wanita itu lain di hati lain di bibir. Bukannya kamu berpengalaman tentang ini, hah?"
Randy sampai memikirkan apa maksud pria itu? Bukannya ia juga mencintai Zia? Tapi kenapa ia malah seperti mendukungnya? Harusnya ia pun memperjuangkan cintanya bukan? Pikirnya.
__ADS_1
"Jangan memikirkan perasaanku, pikirkan perasaanmu sendiri."
"Aku bukannya tidak ingin berjuang untuk mendapatkan hatinya, aku tidak ingin menyakitinya," batin Amar. Bahkan ia memberikan kesempatan pada Zia untuk memilih, siapa pun yang dipilih, semoga itu yang terbaik untuk Zia ke depannya.
Sampai akhirnya, kedua lelaki itu undur diri dari rumah Zia. Mereka membiarkan Zia berpikir dengan tenang.
***
Malam pun menjelang.
Apa yang diucapkan Amar memang benar, Zia sendiri tengah gundah gulana dengan perkataannya tadi yang terlontar tanpa dipikirkan matang-matang. Malah sekarang, ia memikirkan tentang surat yang diucapkan Randy tadi.
"Surat yang mana yang dimaksudmu, Mas Randy. Kenapa aku tidak tahu surat itu?"
Lamunan Zia buyar ketika Zidan tiba-tiba terbangun dari tidurnya, anak kecil itu tidur bersamanya.
"Mama belum tidur?" tanya Zidan, "apa Mama memikirkan Papa? Apa, Mama tetap tidak akan kembali bersamanya?" Zidan tahu permasalahan tadi karena ia sempat mendengar kakeknya marah pada papanya. Ia juga tidak ingin melihat mamanya kembali menangis.
"Tidur lagi, ini masih malam." Kata Zia sembari membetulkan selimut, menariknya agar menutupi tubuh anaknya.
"Kenapa Kakek marah sama, Papa?"
Zia tak menjawab, ia malah menyuruh anaknya kembali tidur. Tapi tetap saja, anak itu tidak mau tidur karena ia menunggu jawaban mamanya.
"Kenapa, Ma? Mama baikan lagi ya sama, Papa. Biar aku punya Papa dan Mama yang lengkap," tutur Zidan.
Tak terasa, Zia menitikkan air matanya, ia bingung harus berbuat apa? Sedangkan papanya begitu tidak ingin ia bersatu kembali. Tak ingin memikirkan beban itu, ia pun memilih untuk tidur.
__ADS_1