Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 85


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Randy sudah menghubungi istrinya bahwa Zia sudah sadar. Tahu akan hal itu, Zia dan Eva serta Zidan bersiap-siap pagi ini untuk pergi ke rumah sakit.


"Ma, kita mau ke rumah sakit?" tanya Zidan, bocah itu sedang disisir rambutnya oleh sang mama.


"Iya, nanti di sana jangan nakal ya? Kakakmu masih harus banyak istirahat," pesan Zia mamanya.


Bocah itu mengangguk patuh. Tak lama, Eva datang menemui mereka, ia sudah siap.


"Ma," kata Zia.


"Sudah siapkan?" tanya Eva.


"Sudah, ayok kita berangkat sekarang," ajak Zia.


Akhirnya mereka bertiga berangkat, bahkan supir yang dipesan melalui secara online sudah menunggu di luar. Antusias, Zidan berlari menuju mobil taksi tersebut. Bocah itu suka dengan keramain dan suasana di negara orang itu.


"Jangan lari-lari," sergah Zia.


Namun, bocah itu terus saja berlari. "Ayok, Ma. Aku ingin tahu negara ini," kata Zidan dengan tidak sabarnya.


Eva hanya geleng-geleng kepala dibuatnya, tingkah polos Zidan memang sangat menggemaskan. Mereka semua masuk ke dalam mobil, dan kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit xx.


Jarak tempuh hanya butuh waktu lima belas menit saja dari kediaman mereka, dan mobil pun sampai tepat di depan gerbang rumah sakit tersebut. Mereka semua turun dari mobil setelah membayar taksi.


Setibanya di sana, Zia melihat dokter Raka. Sepertinya pria itu pun baru sampai di sana.


"Dokter Raka?" panggil Zia.


Dokter Raka menoleh, lalu tersenyum pada Zia juga Eva.


"Dokter baru sampai juga?" tanya Eva.


"Iya, Bu. Mari kita sama-sama ke sana," ajak dokter Raka.


***


Dokter sedang memeriksa kondisi Zia, mengecek operasi yang dilakukannya kemarin. Belum bisa banyak bergerak, Zia masih terbaring di atas branker. Karena sudah selesai memeriks, dokter berniat keluar. Dan disaat itu juga Zia dan yang lainnya tiba di ruang rawat Zia.


Dokter hanya tersenyum ketika mendapati keluarga pasien datang, setelah itu ia benar-benar pergi.

__ADS_1


Zidan menghampiri saudaranya itu, ia merasa kasihan melihat sang kakak yang terbaring dengan leher yang terbungkus.


"Apa itu sakit?" tanya Zidan.


Zia menggerakan bola matanya sebagai jawaban.


"Cepat sembuh ya, biar kita bisa bermain sana-sama lagi. Oh iya, kita ada di Amerika loh," tutur Zidan.


Zia dan yang lainnya menyaksikan keantusiasan bocah itu.


"Sepertinya Zidan senang di sini ya?" kata Randy. "Apa kita menetap saja di sini? Kita buka usaha di sini," sambungnya kemudian.


Zia tak menjawab, ia hanya kepikiran tentang orang tuanya. Jika ia menetap di sini mungkin orang tuanya akan berpikir bahwa ia masih marah pada mereka. Tapi sebagai istri, ia hanya bisa menuruti apa kata suaminya.


"Mama setuju gak kalau kita menetap di sini?" tanya Randy pada mamanya.


"Mama sih terserah kamau saja, tinggal di mana pun sama. Yang penting anak-anak senang," jawab Eva.


"Baiklah, akan ku pikirkan lagi. Aku juga harus mengurus perusahaanku di Indonesia," ujar Randy.


"Oh iya, Mas. Aku bawakan makanan untukmu." Zia memang sudah menyiapkannya untuk suaminya, berhubung ada dokter Raka jadi ia mengajaknya untuk makan bersama.


Karena memang belum sempat sarapan, dokter Raka pun ikut makan bersama. Ia memang sudah dekat sejak menangani penyakit Zia, jadi ia sudah tidak sungkan-sungkan.


***


Perban yang selama ini menutupi leher Zia hari ini dibuka. Keluarga berharap, Zia dapat mengeluarkan suaranya walau hanya sekedar kata-kata ringan.


Dokter sudah berhasil membuka perban tersebut. Zia pun sudah bisa mendudukkan tubuhnya karena luka di lehernya sudah tidak terlalu sakit. Bahkan ia sudah mulai bisa makan melalui mulut.


"Coba keluarkan sedikit saja suaranya," pinta dokte dengan bahasanya.


Zia ragu untuk itu, tapi Randy membujuknya.


"Ayo, sayang. Papa yakin kamu bisa," kata Randy.


"Pelan-pelan saja," timpal Zia.


"Pa-pa, bilang seperti itu saja dulu," sahut Eva.


Zia melirik orang disekitarnya satu persatu, ia benar-benar takut melakukan itu.

__ADS_1


"Ayok cepat bilang! Bilang Papa," kata Zidan sedikit gereget.


Zia menarik napas dalam-dalam lebih dulu, setelah itu ia mulai membuka mulutnya. Dengan perasaan deg-degan dan ketakutan, sampai ia mengeluarkan keringat di kening. Tahu Zia berkeringat, dokter Raka langsung mengusap cairan itu di kening Zia menggunakan sapu tangan miliknya.


Si kecil Zia tersenyum pada dokter Raka.


"Coba, pelan-pelan saja," kata dokter Raka. Zia mengangguk.


"Pa-pa," kata Zia dengan sangat pelan.


Mendengar suara Zia untuk yang pertama kalinya, mereka langsung tersenyum dan bahagia. Terutama Randy, pria itu langsung memeluk putri dengan erat.


"Papa senang kamu dapat bicara," kata Randy yang masih dalam keadaan memeluk putrinya.


"Hore-hore ... Zia bisa bicara," kata Zidan sambil jingkrak-jingkrak.


"Coba sekali lagi katakan Mama." Kata Randy sambil melepaskan pelukkannya.


"Ma-ma," kata Zia lagi.


"Syukur operasinya berhasil, tapi jangan banyak bicara dulu," pesan dokter.


"Iya, Dok," sahut Randy.


Dokter Raka ikut bahagia karena bocah itu kini sudah dapat bicara. Tapi Zia masih dalam pemulihan, jadi gadis kecil itu masih harus banyak istirahat. Serta menjaga pola makannya, karena tak semua jenis makanan bisa ia makan. Karena makanan yang tersalur melalui tenggerokan dapat mempengaruhi rongga mulutnya yang masih luka.


Karena kondisi Zia sudah membaik, Randy meminta pada pihak rumah sakit untuk membawa anaknya pulang saja. Lagi pula ada dokter Raka yang ikut memeriksa kondisi Zia.


"Dok, mungkin Zia bisa dibawa pulang hari ini," kata Randy pada dokter Raka.


"Kalau memang maunya seperti itu, saya akan bilang masalah ini pada Dokter Sean." Dokter Sean sendiri adalah dokter yang menangani Zia di sini. "Saya permisi dulu kalau begitu, saya akan membicarakan kepulangan Zia pada Dokter Sean."


Randy mengangguk, karena dokter Raka pasti bisa meyakinkan dokter Sean untuk mengizinkan pasiennya untuk pulang.


Beberapa saat, dokter Raka kembali. Ia membawa kabar gembira, dokter Seanengizinkan pasiennya pulang hari ini. Dengan catatan harus kontrol setiap minggu ke rumah sakit tersebut. Memastikan bekas luka operasi benar-benar sembuh.


Karena sudah dapat izin, mereka semua siap-siap untuk pulang. Biaya pun sudah diseleaaikan oleh Randy. Dokter Raka membantu Zia menduduklan tubuhnya di atas kursi roda. Ia senang dapat merawat Zia kembali setelah dokter Sean menyarankannya untuk merawat Zia selama di rumah.


Dengan segera, mereka semua meninggalkan rumah sakit tersebut. Dan pulang ke rumah Randy yang dipilihkan dokter Raka. Randy sudah membeli rumah tersebut, dan ia sudah berniat untuk menetap di negara Amerika. Sementara perusahaan yang ada di Indonesia tetap berlanjut. Anak buahnya yang mengelola, ia hanya mengcek pemasukkan dan pengeluaran saja.


Sedangkan Zia, ia tak lagi mengurus perusahaan papanya. Bahkan ia belum sempat menemui orang tuanya kembali, padahal Arya sudah menghubunginya karena Mila sudah melahirkan. Inginnya Zia menemui Mila, tapi kondisi yang tidak memungkinkan.

__ADS_1


Keluarga Randy serta dokter Raka sampai di mansion Randy. Dokter Raka mulai menjadwal terapi untuk Zia agar bicaranya agar cepat lancar. Dan Randy setuju akan hal itu.


__ADS_2