Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 24


__ADS_3

Zia tengah membantu Mila, melayani kostumer. Ketika Zia sedang sibuk, Randy muncul dari balik pintu. Rambutnya yang basah menandakan bahwa ia baru selesai mandi, ia menemui istrinya yang sedang sibuk. Karena tidak ingin mengganggu, akhirnya ia pamit.


"Sayang, Mas pulang dulu ya? Sekalian mau cari rumah untuk tempat tinggalmu," pamit Randy pada istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati," jawab Zia.


Sepulangnya dari toko, Randy menyempatkan waktu untuk mencari hunian. Ia mencari rumah lewat internet, mencari lokasi yang pas. Tentunya rumah yang nyaman serta bagus, ia akan berusaha adil semampu mungkin. Dan akhirnya, ia menemukan hunian yang cocok untuk istrinya itu. Tempatnya juga tak jauh dari kantornya.


Langsung saja ia mendatangi lokasi tersebut. Dan kebetulan, di sana ada pemilik propertinya. Randy meminta untuk bertemu setibanya dibagian marketing. Randy nampak terkejut ketika melihat siapa pemiliknya.


"Kau," kata Randy pada orang itu.


"Wah ... Sepertinya aku kedatangan tamu spesial," kata pemilik properti itu yang tak lain adalah Angga. "Ada yang bisa dibantu, Pak Randy?" tanya Angga kemudian.


Kalau bukan karena Zia yang menginginkan rumah dalam waktu dekat, Randy ogah harus berurusan dengan sahabatnya itu. Karena ia rasa laki-laki ini akan tetap mengganggu istrinya, ia tahu betul siapa Angga. Pria yang tidak akan menyerah kala ingin mendapatkan sesuatu, namun ia percaya pada istrinya. Zia tidak mungkin mengkhianatinya.


Saat itu juga Randy dan Angga bertransaksi mengenai rumah itu, sesuai harga, Randy langsung membayar rumah tersebut. Tapi sayang, Angga menolak itu. Ia rasa rumah yang dibeli Randy untuk Zia, sampai ia menggratiskan rumah tersebut untuknya.


"Jangan konyol kamu, Angga. Saya kesini bukan untuk meminta rumah, saya beli."


"Santai, bro. Anggap saja ini hadiah pernikahan kalian, maaf soal kemarin," kata Angga.


"Maaf untuk apa?" tanya Randy.


"Maaf sudah memiliki rasa pada istrimu, aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena seorang perempuan. Aku bisa mendapatkan wanita yang lebih dari istrimu."


Entah harus percaya atau tidak pada sahabatnya itu, tapi selama ini mereka memang tidak pernah bertengkar. Akhirnya, Randy menerima rumah tersebut, dan persahabatan mereka kembali akur. Angga lebih dulu memeluk Randy, sampai Randy pun membalas pelukkan itu.


Masalah Randy dan Angga sudah selesai, meski belum sepenuhnya percaya pada Angga, Randy berteman kembali dengannya. Sampai Angga menyeringai, dan sepertinya ada niat terselubung dari sahabatnya itu.


"Kapan Zia menempati rumah ini?" tanya Angga kemudian.


"Secepatnya," jawab Randy.

__ADS_1


Tak berselang lama, partner Angga datang. Yang tak lain adalah Arya, papanya Zia. Karena memang belum pernah bertemu dengan Randy, Angga pun mengenalkan sahabatnya itu sebagai kostumer.


"Kenalin, Om. Dia pembeli rumah baru, sekaligus sahabat baikku," kenalnya Angga pada papanya Zia.


"Randy, Pak," ucap Randy sendiri.


Arya merasa tidak asing dengan nama itu, ditambah lagi pria ini membeli rumah. Apa jangan-jangan laki-laki ini menantunya? Namun ia hanya terpikir tanpa melontarkan, kalau memang betul, reponse-nya sangat cepat.


Arya dan Randy pun saling menjabat tangan, karena transaksi sudah selesai, Randy pun pamit pada mereka. Ia akan mengabarkan kepindahannya nanti setelah ia memberitahukan pada Zia soal rumah yang ia beli.


Randy harus segera ke rumah sakit, untuk saat ini ia akan menjaga istrinya di sana. Karena ia sudah menemui Zia dan membeli rumah untuk istrinya itu, untuk sementara ia sudah merasa aman karena sudah membagi waktu untuk para istrinya.


Setibanya di rumah sakit, ada kabar mengejutkan untuknya. Keadaan Camelia semakin memburuk, ia benar-benar takut akan kesehatan istrinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Randy pada dokter yang baru saja memeriksa Camelia.


"Kondisinya sangat lemah, kalau pun ia mempertahankan kandungannya, kehamilannya tidak bisa sampai 9 bulan. Paling lama sampai 7 bulan, dan kami terpaksa harus mengambil tindakan," jelas dokter.


Tubuh Randy langsung lemas, kakinya merasa tidak berpijak. Apa yang harus ia lakukan? Membawa istrinya keluar negri untuk berobat pun akan ia jabani jika memang harus dilakukan. Tapi kondisinya tidak memungkin, perjalanan jauh akan menimbulkan resiko besar untuk kondisinya.


2 hari sudah berlalu.


Randy sibuk mengurus Camelia yang sedang terkapar di rumah sakit, sampai ia lupa memberi kabar pada Zia. Sedangkan Zia sangat menanti kabar dari suaminya itu.


"Kamu ke mana, Mas? Sampai kamu tidak ada kabar." Terakhir suaminya memberi kabar padanya, suaminya itu sudah membeli rumah untuknya. Bahkan seharusnya ia pindah hari ini juga, terpaksa ia pindahan rumah itu sendiri.


Untung ada Mila yang membantunya, entah sengaja atau tidak, Angga tiba-tiba datang ke toko. Karena ia tahu kepindahan Zia hari ini, ia memberanikan diri menemui gadis pujaannya itu, beralasan ia mau membeli kue.


Zia nampak terkejut mendapati Angga yang tiba-tiba datang ke toko.


"Mas Angga," panggil Mila. "Kebetulan Mas ada di sini, bantuin dong," pinta Mila.


Dengan senang hati, Angga membantunya karena itu memang tujuan utamanya. Zia sempat menolak bantuan Angga, tapi karena bujukan Mila akhirnya Zia setuju.

__ADS_1


"Berangkat sekarang?" tanya Angga.


"Tunggu sebentar, aku sedang nunggu seseorang," kata Zia.


Hati Angga sudah dag, dig, dug takuran. "Apa Zia sedang mengunggu Randy?"


Tak berselang lama, seseorang muncul. Dan ternyata, Zia sedang menungggu orang tuanya. Karena Zia yang meminta, ia tak bisa menunggu suaminya karena sampai detik ini tidak ada kabar darinya.


"Papa, Mama," ucap Zia.


Angga yang melihat keberadaan Arya dan Zifa nampak terkejut. Begitu pun dengan kedua orang tua Zia yang tak kalah terkejut.


"Om, Tante," kata Angga.


"Loh, kalian saling mengenal?" tanya Zia pada orang tuanya.


Tambah poin bagi Angga, pria itu tidak perlu lagi mencari alasan lain jika ingin bertemu Zia bukan?


"Wah ... Dunia sempit ya?" kata Arya. "Ternyata kalian saling mengenal?" sambungnya lagi.


"Zia, Angga ini partner Papa. Dia pengusaha sukses loh." Dengan sengaja, Arya memuji Angga di depan putrinya. Andai Zia belum menikah, tadinya Arya memang berniat menjodohkan putrinya pada pemuda itu. Tapi sayang, sepertinya sudah terlambat.


Tidak menunggu lama lagi, Zia dan kedua orang tuanya langsung berangkat menuju rumah baru Zia. Angga satu mobil dengan Mila, sedangkan Zia bersama orang tuanya.


Bahkan Angga nampak bahagia dengan kabar ini, terlebih lagi ia tahu bahwa sahabatnya itu memang tidak akan pernah bisa adil. Tak peduli dengan niatnya yang licik, yang jelas ia bersedia membahagiakan Zia, dan menggantikan posisi Randy. Dan memang terbukti, sampai saat ini suami dari Zia tidak menunjukkan batang hidungnya.


Mereka semua sudah sampai di rumah baru Zia. Arya kecewa pada menantunya itu, sepertinya laki-laki itu memang tidak bisa dipercaya. Ia rasa putrinya sudah dipermainkan.


"Zia, Papa kecewa pada suamimu. Sampai saat ini dia masih belum menemui Papa, sampai kamu pindah rumah pun dia tidak datang." Arya menunjukkan kekecewaannya pada putrinya.


Zia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi, itu memang kenyataannya. Suaminya memang tak peduli padanya. Ia sendiri pun kecewa.


Dan tiba-tiba ...

__ADS_1


Tuuuuttttt ..... Ponsel milik Zia berdering, Zia mengacuhkan panggilan itu, sungguh ia sangat kecewa pada suaminya karena sudah mematahkan hati orang tuanya. Zia memilih mematikan ponselnya.


__ADS_2