Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 49


__ADS_3

Setelah Arya mengucapkan itu, ia pun menutup ponselnya. Tapi sayang, sang istri mengetahui aksinya. Zifa tak percaya bahwa suaminya berbuat demikian, dendamnya hingga kini masih tertanam pada keluarga Baskara, yang tak lain adalah ayah kandung Randy.


Pernikahan siri yang dilakukan Arya dan Zifa diketahui oleh pria itu, sampai ia terpisah dengan keluarga kecilnya. Bahkan nyaris kehilangan putrinya, untung Zifa wanita cerdik. Ia nekad meninggalkan Arya karena ingin melindungi putrinya dari sang mertua yang tak merestuinya.


Dan Baskara yang mengadukan itu semua pada orang tua Arya. Arya sendiri tak menyangka, anak musuhnya yang menjadi menantunya. Tahu rumah tangga anaknya seperti itu, ia ada alasan untuk memisahkan mereka. Dulu, Arya dan Baskara teman baik. Karena ia yang selalu unggul dalam segala hal, entah bisnis atau percintaan. Hingga Baskara ingin menghancurkan keluarga sahabatnya sendiri.


Sampai Baskara meninggal pun, Arya masih menaruh dendam pada keluarganya. Ia hanya ingin keluarganya tak menjalin hubungan lagi dengan keluarga Baskara. Bukan tak ingin melihat Zia dan Zidan bahagia, ia takut kehilangan keluarganya kembali. Tak ada niat apa pun selain menjaga putri semata wayangnya dan cucu satu-satunya.


Arya meletakan kembali ponselnya ke dalam saku, ia membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan ruang tamu, tapi ia malah melihat keberadaan istrinya. Zifa tengah menatap tajam ke arahnya.


"Masih belum terbalaskan dendammu dengan memisahkan Zia dan Randy? Apa kamu ingin cucu kita menjadi korban? Hentikan semua ini, aku ingin hidup bahagia bersama Zia dan Zidan," kata Zifa.


"Sampai kapan pun aku tidak ingin Zia kembali pada pria itu, tidak boleh ada yang menjalin hubungan dengan keluarga itu lagi!" Ucapan Arya memang tidak bisa dibantah, ia tetap menyuruh anak buahnya menyerang Randy sampai pria itu sendiri yang memutuskan untuk tidak mendekati Zia.


"Jangan pernah membahas masalah ini pada Zia," kata Arya. Sejujurnya, ia ingin melihat anaknya bahagia. Dibenci pun tak apa, asal ia bisa melindungi anaknya. Andai Randy tahu siapa dirinya, mungkin lelaki itu pun pasti menaruh dendam yang sama padanya. Karena ia yang menyebabkan papa Randy meninggal, hingga kecelakaan maut itu harus terjadi beberapa tahun silam karena mereka bertengkar hebat.


"Makanya, hentikan permusuhan ini! Biarkan Zia bahagia bersama Randy, demi Zidan, Pa. Kalau sikap Papa seperti ini, apa bedanya kamu dengan orang tuamu? Tega memisahkan anak dari orang tuanya, seperti yang kamu lakukan pada Zidan," tutur Zifa.


"Zia tidak akan tahu kalau kamu tidak mengatakannya, biarkan Zia bahagia dengan laki-laki lain!" Setelah mengatakan itu, Arya pun pergi meninggalkan istrinya.


***


Amar terus melirik jam yang menempel di pergelangan tangannya, sudah sore begini Zia belum menghubunginya. Apa mereka begitu menikmati pertemuan itu? Pikir Amar. Tak lama dari situ, ponsel miliknya berdering.


Dilihatnya ID pemanggil, ternyata Zia yang menghubunginya.

__ADS_1


"Hallo, Amar. Aku sudah pulang," kata Zia di sebrang sana.


Amar yang mendengar merasa lega, "oh iya, Zi. Syukur kalau sudah pulang, aku sampai cemas."


"Mas Randy mengantarku pulang, aku juga senang kalau Papaku tidak marah."


Amar pun tersenyum miris, Zia mungkin memang bukan tercipta untuknya. Sebisa mungkin ia menerima kenyataan pahit itu. Karena sudah ada kabar dari Zia, ia pun mengakhiri sambungan itu. Ia akan pulang ke rumah, karena sudah terlalu lama ia berada di cafe.


Setelah itu, ia memanggil pelayan untuk membayar makanan serta minuman yang mungkin sudah menghabiskan beberapa gelas. Si pelayan pun datang membawa bil, seorang gadis cantik dan masih belia. Mungkin umur gadis itu berkisar 18 tahun.


"Ini bil-nya, Tuan." Si pelayan itu menyodorkan sebuah kertas pada Amar. Dan Amar pun membayarnya.


Tanpa ia sadari, gadis itu terus memperhatikannya saat mengambil uang dari dalam dompet. Ketampanan Amar memang selalu menjadi pusat perhatian para wanita, termasuk si pelayan gadis belia itu.


"Ini, ambil saja kembaliannya." Kata Amar sembari beranjak dari tempatnya. Lalu, ia pun segera meniggalkan cafe tersebut.


***


"Seperti mobil Randy, tapi siapa mereka? Kenapa orang itu menggedor-gedor mobilnya?" Penasaran, Amar pun turun dari mobilnya.


Sementara Randy, pria itu tidak tahu apa salahnya, kenapa orang-orang itu mencegatnya?


"Keluar!" kata salah satu orang yang mengepungnya. Seorang pria botak bertubuh tinggi besar itu manghadang Randy dan menyuruhnya untuk keluar dari mobilnya.


Meski bingung, Randy tetap keluar. Namun tiba-tiba ... Orang itu langsung memukulnya dibagian perut, sampai Randy meringis kesakitan.

__ADS_1


Amar yang melihat begitu terkejut, tidak ingin terjadi sesuatu pada temannya, dengan cepat ia menghampirinya. Ia membantu Randy. Amar yang jago bela diri langsung memukul pria botak itu dari belakang, tapi sayang, itu tidak mempan sama sekali. Pria botak itu membalikkan tubuhnya, ia hendak kembali memukul Amar.


Dengan gesit, Amar bisa menghindari pukulan pria botak itu. Malah ia mendekat ke arah Randy.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Amar pada Randy.


Randy menggelengkan kepala, ia melihat pria botak itu mendekat malah akan memukul Amar dari belakang. Tanpa ampun, Randy sendiri yang menangkis pukulan itu. Ia membalas pukulan pria botak itu.


Bugh ... Bugh ... Bugh ...


Beberapa kali Randy memukul, tapi sayang pria botak itu sangat kuat. Bahkan kedua temannya ikut menyerang Randy dan Amar. Hingga terjadilah baku hantam di antara mereka. Amar mau pun Randy babak belur. Tapi orang-orang itu pun tak kalah babak belur seperti mereka.


Pria botak yang terlihat kuat itu langsung melarikan ketika Amar berpura-pura akan mengambil pistol dari balik tubuhnya. Setelah pria-pria misterius itu kabur, ia menghampiri Randy karena pria itu lebih bonyok darinya.


Namun, Amar melihat satu orang yang tak turun dari mobil para penjahat itu, dan sepertinya ia mengenali orang itu. Tapi untuk saat ini ia mengabaikannya. Yang ia pikirkan sekarang itu Randy.


"Apa kamu mengenal mereka?" tanya Amar.


"Tidak, aku tidak mengenalnya." Jawab Randy sambil menyentuh sudut bibirnya yang teluka, bahkan sampai mengeluarkan darah.


"Perlu ke rumah sakit? Sepertinya lukamu cukup parah." Amar berniat membawa Randy ke rumah sakit.


"Tidak, aku pulang saja. Ini tidak apa-apa." Sejujurnya, luka itu memang cukup sakit, tapi ia merasa gengsi pada Amar. Bagaimana akan menjaga Zia kalau ia sendiri terlihat lemah? Jadi ia putuskan untuk tidak ke rumah sakit, seolah ia tak apa-apa.


"baiklah kalau begitu, kamu hati-hati. Kalau orang itu datang lagi jangan turun dari mobil, bila perlu tabrak saja!" seru Amar sedikit geram.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka pun berpisah menuju rumah masing-masing.


__ADS_2