
Karena sudah mendapat restu dari Mirna, Rani mengajak sang suami untuk pulang terlebih dulu. Ia tak sabar ingin memberitahukan acara resepsi pernikahannya yang akan diselengarakan di kota kembang tersebut.
Tapi sayang, Mirna tak mengizinkan pulang hari ini. Karena hari sudah larut, ia tak ingin sesuatu terjadi pada mereka. Meski kecewa, Rani tetap mematuhi mama mertuanya.
Malam ini, mereka sedang makan malam bersama. Mirna dibuat kagum oleh gadis sederhana itu. Hasil masakan Rani cukup enak di lidahnya. Tak menyangka, di balik kesederhanaannya itu tersimpan sebuah kesempuranaan pada diri Rani.
"Kamu pintar cari istri," kata Mirna di sela-sela kunyahannya.
Amar tersenyum sembari meletakan tangannya di atas punggung tangan istrinya. Mereka pun saling beradu pandang. Rani senang mendapatkan pujian dari mertuanya itu.
"Dari dulu aku memang pintar bukan?" sahut Amar.
"Alah ... Pintar kok baru nikah diusia yang sudah tidak muda lagi." Lira meledek kakaknya.
"Yang matang memang lebih manis bukan?" Sebisa mungkin Amar mengelak ledekan dari adiknya itu. Umur Rani dan Amar memang cukup terpaut jauh, tapi itu tak menjadi penghalang untuk mereka bersatu. Kini keduanya saling mencintai melengkapi kekurangan masing-masing.
Lira memutar matanya jengah, bisa saja kakaknya itu mengelak. Akhirnya, mereka makan dengan khidmad. Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Hingga akhirnya, makan malam pun selesai.
Seperti biasa, jika sudah selesai makan, Rani selalu membereskan bekas makanannya. Ia membawa semua piring kotor ke dapur, niatnya ia ingin langsung mencucinya. Tapi, Amar tak mengizinkan itu. Karena besok akan kembali ke Jakarta, Amar mengajak istrinya untuk segera beristirahat.
"Udah yuk? Biarkan saja piring kotornya," kata Amar. "Ingat jatahku 'kan?" Amar mengedip-ngedipkan matanya.
"Matamu kenapa, Mas? Kelilipan?" tanya Lira yang mengetahui aksi kakaknya itu.
"Apa sih, ganggu saja!" kata Amar.
Rani yang tahu akan hal itu hanya bisa menertawakan suaminya. Tapi tawa itu seketika hilang saat Amar memicingkan kedua matanya ke arah istrinya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, takut sang suami marah karena sudah merasa meledeknya. Ia juga takut suaminya akan membalasnya di atas ranjang.
"Ih, kok marah. Gak jelas banget." Ujar Lira sambil meraih gelas untuk diisi air minum.
"Sayang, cepet dong. Altaf haus nih," sahut Aries memanggil Lira.
"Iya, Mas. Sebentar," jawab Lira sedikit berteriak.
"Mbak Rani, sebaiknya istirahat. Bayi besar kayaknya sudah ngantuk tuh." Ujar Lira sembari menunjuk ke arah Amar menggunakan wajahnya.
__ADS_1
"Ngeledek terus! Sudah sana, anakmu kehausan tuh. Mas juga mau bikin anak dulu." Amar langsung menuntun istrinya.
Sedangkan Rani, ia pasrah saja dengan keinginan suaminya. Seperti apa yang diinginkan ayahnya dan mama mertuanya. Jadi istri harus bisa menyenangkan hati suaminya agar pria itu tetap setia dan semakin mencintainya.
Setibanya di kamar, Amar tak memberi jeda pada Rani. Ia langsung meraup buah bibir sang istri, mencumbunya dengan penuh kelembutan. Rani sampai tak bisa menolak, karena ia terbawa suasana.
Hingga ciuman itu semakin panas, Amar melepas tautan itu. Ia langsung menggendong Rani ala bridel style. Menempatkan tubuh Rani dengan senyaman mungkin.
Cumbuan kembali terjadi, Rani sudah mulai terbiasa dengan permainan bibir suaminya. Hingga ia dapat membalas perlakuan sang suami. Ya, seperti inilah yang diinginkan Amar sejak resmi menjadi suami sah istrinya.
Terjadilah malam yang panas antar keduanya, hingga pada akhirnya, mereka dibuat terkapar dengan aksi yang membuat mereka selalu ketagihan. Rasa sakit di area inti Rani hilang, dan itu berubah menjadi kenikmatan yang membuatnya menjadi candu akan hal itu.
Mereka berdua tidur bersama setelah melepaskan pelepasan secara bersamaan.
***
Pagi hari, Amar dan Rani sudah siap-siap untuk segera berangkat. Ia akan ke kota hari ini. Memberitahukan kepada Kusno akan kabar bahagia ini. Tak lupa, Amar akan mengunjungi Randy dan Zia. Ia pun ingin hari bahagianya disaksikan oleh temannya itu.
Gagalnya pertunangan mereka, tak membuat keduanya saling menjauh. Justru mereka menjalin persahabatan dengan baik.
"Sudah, Ma," jawab Amar.
"Berapa hari kalian di Jakarta? Mama mau kalian cepat kembali ke sini," pinta Mirna.
"Iya, Ma. Kami usahakan secepatnya kembali ke sini," timpal Rani.
Karena memang sudah siap, Amar dan Rani langsung keluar dari kamar menuju ke mobil yang sudah siap dikendarai oleh Amar. Mirna pun mengantar sampai ke depan. Tak lupa, Lira yang menginap pun sudah berada di luar rumah. Ia ikut mengantar keberangkatan sang kakak.
"Mbak, kabari kami kalau sudah sampaj di Jakarta nanti," kata Lira.
Rani mengangguk, lalu ia masuk ke dalam mobil menyusul Amar yang sudah lebih dulu masuk. Rani melambaikan tangannya ke arah sang mertua juga pada adik iparnya.
Pada akhirnya, Amar dan Rani berangkat.
"Mana suamimu?" tanya Mirna pada Lira setelah kepergian Amar.
__ADS_1
"Masih tidur, Ma," jawab Lira.
Dan mereka berdua masuk kembali ke dalam rumah
***
Setelah menempuh hampir 3 jam karena sedikit macet, akhirnya Amar dan Rani sampai di kota Jakarta. Mereka langsung menuju ke rumah Rani.
Siang hari ini, Kusno sedang ngadem di balai yang tersedia di depan rumahnya. Ia tidak tahu kalau putrinya kembali hari ini. Tak berselang lama, matanya menjumpai sebuah mobil yang masuk ke pekalangan rumahnya.
Pria paruh baya itu tersenyum ketika tahu siapa yang datang.
"Ayah," panggil Rani setibanya di sana. Ia langsung turun dari mobil dan menghampiri ayahnya itu.
Belum pernah berpisah dengan Kusno membuat Rani rindu pada ayahnya. Ia langsung memeluk tubuh yang mulai mengeriput itu.
"Cepat kalian kembali, bagaimana? Semuanya lancar 'kan? Kamu diterima dengan baik 'kan?" Kusno sudah tak sabar ingin mendengar cerita putrinya. Tapi jika dilihat dari raut wajah mereka, semuanya nampak baik-baik saja.
Semoga saja semua dugaannya benar.
"Mamanya Mas Amar baik, Yah. Adiknya juga baik. Perlu Ayah tahu, resepsi pernikahan kami akan diselenggarakan." terang Rani dengan antusias
"Syukur kalau begitu, Ayah ikut bahagia."
"Terima kasih, nak Amar. Kamu sudah baik pada Rani," kata Kusno pada menantunya.
"Itu sudah menajdi kewajibanku untuk menyayangi dan membahagiakannya," jawab Amar.
Ketiganya masuk ke dalam rumah.
Para tetangga yang melihat langsung kembali bergosip. Yang iri semakin iri saja akan persiapan pesta mereka.
...----------------...
Salam hangat untuk pembaca setia BC : BERBAGI SUAMI, terima kasih untuk readers yang terus mengikuti cerita ini. Seperti biasa, othor bawa karya teman othor untuk menghibur kalian, selagi nunggu ini up kalian bisa mampir di sini.
__ADS_1