Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 78


__ADS_3

Tangisan Zidan terdengar sampai ke dalam rumah. Arya yang mendengar langsung menghampiri cucunya.


"Kamu apakan cucuku?" tanya Arya dengan nada sedikit berteriak.


"Kamu kenapa, Zidan? Apa yang sudah dilakukan pria ini?" tanya Arya. Mata Arya menyalak marah pada menantunya, baru kali ini ia mendengar Zidan menangis seperti itu.


"Apa maksud Papa bertanya seperti itu? Mana mungkin aku menyakiti anakku sendiri?" Randy tak terima dengan tuduhan mertuanya.


"Zidan membutuhkanmu, kamu jangan ngurusin anakmu terus. Zidan juga anakmu!" kata Arya.


"Memang siapa bilang kalau Zidan bukan anakku? Anakku bukan cuma satu, Zia juga membutuhkanku." Randy keceplosan dengan kata-katanya, ia tak bermaksud tidak sopan. Tapi mertuanya selalu memancing kemarahannya, dan ia tak terima begitu saja.


Zia dan Zifa mendengar keributan di luar, mereka pun akhirnya menghampiri.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Zifa.


Sedangkan Zia, ia melihat ke arah suaminya juga papanya secara bergantian. Ia melihat tatapan suami, tatapan itu beda dari biasanya. Terlihat ada amarah di sana.


"Mas," panggil Zia.


Randy tak mempedulikan panggilan istrinya, ia meraih tubuh Zidan dan langsung masuk ke dalam.


"Lihat, suamimu tidak sopan sama Papa. Dia pergi begitu saja." kata Arya pada Zia.


"Tolong, Pa. Jangan memperkeruh keadaan, Mas Randy pasti sedang cape. Dari tadi menyetir dan itu bukan jarak yang dekat, tolong pengertiannya," kata Zia.


"Kamu bela dia? Gak ingat dia memperlakukanmu tidak adil? Dan sekarang dia tidak adil pada Zidan. Suamimu terlalu mementingkan anak dari istri kesayangannya!" Arya jadi ikut marah pada anaknya itu.


"Sudahlah, kalian meributkan apa sih?" timpal Zifa. "Papa jangan terlalu ikut campur rumah tangga anak kita. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri, lagian ini masalah sepele menurut, Mama," sambung Zifa.


"Sepele kata, Mama? Randy tuh dari dulu berat sebelah. Dan di sini, Papa mau meluruskan. Zidan juga butuh sosok Ayah."


Zia pusing mendengar pertengkaran ini, jadi ia ikut menyusul suaminya masuk ke dalam. Tak ada suaminya di sana, ia yakin kalau suaminya pasti di kamar anaknya. Dan benar saja, ia melihat Randy tengah menenangkan anaknya yang masih menangis karena kecewa.


"Zidan ngertiin Papa ya? Papa janji akan mengajak Zidan pergi jalan-jalan, bila perlu ke luar negri."


"Papa serius?" tanya Zidan sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Kamu pinter sekali membujuk, Mas. Dulu juga kamu seperti ini padaku, janji akan bersikap adil. Tapi kenyataannya, kita berpisahkan. Aku harap, Zidan tak mengalami hal sepertiku. Dan aku harap kamu menepati janjimu." Zia mendengarkan percakapan suami dan anaknya, ia berdiri di ambang pintu.


"Mama," kata Zidan yang melihat sang mama.


Zia pun akhirnya masuk dan menemui mereka, ia duduk di tepi ranjang di sebelah suaminya. Matanya berkaca-kaca.


"Kamu kenapa? Marah juga sama aku seperti Papamu? Kalau mau marah, marahlah. Aku pasrah, mungkin aku tidak bisa membagi waktuku. Tapi aku juga bingung harus berbuat apa, Papamu selalu menyudutkanku." Kata Randy tanpa menoleh pada istrinya.


"Aku selalu salah di mata Papamu, padahal aku sudah berusaha membahagiakan kalian," lirih Randy. "Sekarang aku mau tanya, apa selama kita kembali kamu bahagia denganku? Jawab jujur, aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama."


"Aku bahagia, Mas. Tapi-."


"Tapi kenapa? Kamu gak percaya padaku? Aku hanya mau kamu mengerti, Zia juga butuh aku. Kalau bukan aku yang mengurusnya siapa lagi? Dia hanya punya aku, Zia. Tapi kenapa Papamu selalu bilang aku ini tidak adil?"


"Bukan itu maksudku, Mas. Atas nama Papa aku minta maaf. Mungkin Papa hanya takut kejadian masa lalu terulang lagi."


"Kejadian di mana aku tidak adil? Aku sudah menjelaskannya padamu bukan?"


"Penjelasan? Kapan Mas Randy memberikanku penjelasan?"


"Apa penjelasanku kurang jelas? Perlu aku jelaskan lagi? Camelia sakit parah, dia butuh aku. Dia hanya punya aku, orang tua yang dia miliki itu bukanlah orang tuanya. Aku harus mengurusnya seorang diri di rumah sakit. Kamu tahu bagaimana posisiku waktu itu? Hatiku semakin hancur saat kamu menggugatku untuk bercerai."


"Dan sekarang, masalah ini membuatku kembali teringat atas kesalahanku di masa lalu. Aku berusaha untuk adil dengan kedua anak-anakku."


Sekarang Zia menangis.


"Jangan menangis, aku gak mau Papamu menuduhku yang tidak-tidak. Beri aku waktu untuk berpikir," kata Randy.


"Papa, Mama. Kenapa kalian jadi bertengkar? Apa semua ini karena Zidan yang mau jalan-jalan? Aku gak akan minta jalan-jalan lagi. Tapi kalian jangan bertengkar."


Perkataan Zidan membuat Zia semakin menangis. Kenapa masalah jadi semakin runyam?


"Maaf, aku tak bermaksud berkata kasar." Randy merengkuh tubuh istrinya yang bergetar karena menangis. "Maafkan Papa juga, sayang?" katanya pada Zidan.


"Zidan yang salah, Kakek jadi marah sama Papa karena Zidan."


"Sudah, sudah ... Kalian jangan menangis." Randy memeluk mereka berdua.

__ADS_1


***


Malam pun menjelang.


Si kecil Zia tengah sakit. Eva terus menemani cucunya.


"Oma hubungi Papa ya, sayang?" kata Eva pada cucunya.


Zia menggelengkan kepala, ia tidak ingin papanya tahu. Kalau papanya tahu pria itu pasti menemuinya, dan ia semakin takut. Takut kakek tirinya menyalahkan papanya lagi.


Jangan beri tahu Papa, cukup Oma saja di sini menemaniku.


Zia menulis itu di buku, Eva membacanya. Wanita paruh baya itu mengusap lembut pucuk kepala Zia. Menciumnya dengan kasih sayang.


"Oma bangga padamu." Eva mencium kening Zia.


"Kita tidur ya?" ajak Eva.


Zia mengangguk sambil memejamkan matanya. Tidak dipungkiri memang, tubuhnya merasa tidak enak. Kepalanya juga pusing, tapi gadis kecil itu tidak ingin merepotkan neneknya mau pun papanya. Ia menahan rasa pusing itu sendirian. Dan ia berharap besok sembuh dan sehat sedia kala.


***


Di rumah Zia.


Malam ini Zia tak dapar tidur. Ia memikirkan akan perkataan suaminya tadi. Ia jadi penasaran, apa selama ia sakit dulu sewaktu hamil Zidan suaminya menitipkan sesuatu? Ia tidak tahu apa yang terjadi pas sidang terakhir.


Lama ia melamun, sampai Randy mengetahui bahwa istrinya belum tertidur.


"Tidurlah, ini sudah malam." Bisik Randy sambil memeluknya.


"Iya, Mas." Zia pun membalas pelukkan itu. Tapi hatinya terus gelisah. Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sewaktu sidang terakhir. Zia teringat akan pengacara yang menangani proses perceraiannya dulu. Ya, ia harus menemui pengacara itu.


Merasa ada yang ganjal di sini, suaminya selalu bilang akan penjelasan yang masih kurang. Dan ia harus mencari tahunya sendiri. Semoga saja ini tidak ada keterkaitannya dengan papanya. Lantas, Zia pun memaksakan diri untuk tidur.


...----------------...


Gaes mampir di sini juga yuk. Kisah yang sama-sama harus membagi cinta. Yuk kepoin karya teman othor di sini.

__ADS_1



__ADS_2