Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 66


__ADS_3

Amar merasa mamanya ingin bicara berdua dengannya. Sejenak, ia melihat ke arah sang istri. Hingga tatapan keduanya saling bertemu.


"Tunggu sebentar, Mas mau temui Mama." Amar pun mulai meninggalkan Rani.


"Mas," panggil Rani. Ia merasa mama mertuanya tidak menyukai dirinya, barusan saja sang mertua tak menganggap akan keberadaannya.


"Kamu duduk di sana." Amar menunjuk ke arah sofa menggunakan wajah. Ia harap istrinya mengerti akan posisi mamanya. Ibu mana yang suka bila anaknya menikah diam-diam. Apa lagi wanita paruh baya itu tahu dari orang lain.


Ya, Carla-lah yang mengatakan semua ini. Karena gadis itu merasa dibohongi oleh mamanya Amar, yang mengatakan bahwa ia akan dijodohkan dengan anaknya itu. Tentu Carla sangat antusias mendengar kabar tersebut. Tapi sayang, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa lelaki yang selama ini ia puja ternyata sudah menikah.


Perlahan, Amar masuk ke dalam kamar sang mama. Dilihatnya, wanita paruh baya itu sedang berdiri membelakangi arah pintu masuk. Melipat kedua tangan di dada.


"Ma," panggil Amar.


Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap sang anak, tatapan tajam terarah pada Amar. Raut kecewa sangat nampak jelas. Mengapa anaknya menikah diam-diam dengan orang yang tidak sama sekali ia kenal.


"Siapa wanita itu?" tanya Mirna.


"Rani, dia istriku," jawab Amar tanpa beban.


"Istri? Menikah tanpa sepengetahuan keluarga, bahkan Mama kandungmu sendiri!" Mirna tak habis pikir.


"Sudah jodohnya, Ma. Ini takdir, aku harap Mama menerimanya," pinta Amar.


"Setelah gagal tunangan bukan berarti kamu memilih istri seenaknya, Mama belum tahu siapa wanita itu. Bobot bebet harus jelas, Amar! Kemarin, Mama setuju kamu sama Zia. Meski dia seorang janda, tapi dia wanita terhormat. Mama tahu siapa dia," terang Mirna.


"Dia juga wanita terhormat, Ma. Dia wanita baik-baik, dia memang terlahir dari keluarga sederhana. Tapi aku merasa nyaman bersamanya."


"Tapi Mama terlanjur mengizinkan Carla menjadi menantu di keluarga ini. Mama rasa dia lebih cocok denganmu, bukankah Carla teman baikmu?"

__ADS_1


"Aku tidak menyukainya, Ma. Aku hanya menganggap teman, tidak lebih! Aku tahu siapa yang lebih pantas bersanding denganku."


Ucapan Amar seolah bantahan pada Mirna, wanita paruh baya itu semakin geram karena ia merasa perempuan yang menjadi istri dari anaknya sudah berhasil mencuci otak Amar. Apa lagi tadi Amar bilang, bahwa wanita itu terlahir dari keluarga sederhana. Wanita seperti itu hanya akan mengincar harta dari anaknya.


"Kapan kalian menikah? Dan kenapa bisa menikah tanpa izin dari Mama? Dia hamil?" duga Mirna.


"Tidak, Ma! Aku sudah bilang dia wanita baik-baik." Pada akhirnya, Amar menjelaskan apa yang terjadi pada anaknya. Dan kenapa anaknya bisa menikah dengan perempuan itu? Mirna sudah mendapatkan jawabannya.


Tapi, Mirna tak percaya begitu saja. Mungkin saja wanita itu menghalalkan segala cara untuk bisa menikah dengan anaknya.


"Kamu percaya? Wanita jaman sekarang banyak modusnya, Amar! Mama tidak bisa menerimanya begitu saja."


"Beri Rani kesempatan untuk membuktikan kepada keluarga ini bahwa tidak ada niatnya yang jelek. Aku mencitainya, Ma."


"Kamu sudah dibutakan dengan cinta, Amar!"


Percekcokan antara anak dan ibu itu terdengar oleh Rani. Suara Mirna yang ngotot menimbulkan kebisingan.


Setibanya di ruang tamu, ia langsung meraih tangan Rani. Ia harus kenal dengan mertuanya.


"Ayok," ajak Amar.


Ingat pesan dari Ayahnya, Rani harus patuh pada suami. Pria ini imam-nya sekarang. Apa pun yang dilakukannya ia harus tetap menghargainya. Rani ikut dengan Amar masuk ke kamar mama mertuanya.


"Ma, kenalkan. Ini Rani, istriku. Dan selamanya akan tetap menjadi istriku!"


Rani mengulurkan tangan hendak menjabat dan mencium punggung tangannya. Beberapa saat, tidak ada tanda-tanda Mirna akan membalas uluran tangan itu. Rani sendiri pun menarik kembali tangannya. Lalu melihat ke arah suaminya.


Rani menahan sesak di dada, ini yang ia takutkan. Ia merasa terhina dengan perlakuan mama mertuanya. Tidak ingin berlama-lama berada di kamar sang mama, Amar pun mengajak istrinya pergi dari sana. Karena itu percuma, hasilnya malah akan menyakiti hati istrinya.

__ADS_1


***


Amar mengajak istrinya istirahat di kamar miliknya.


"Rani, maafkan sikap Mamaku." Amar penuh sesal dengan tingkah ibunya, biasanya wanita itu tidak melihat dari segi apa pun ketika berhadapan dengan orang asing. Tapi ia merasa Carla mengatakan sesuatu hingga mamanya tidak menyukai istrinya.


Cuma Carla yang tahu akan pernikahan ini. Jelas, Amar menduga Carla penyebab semuanya. Ia tak mendapat response dari Rani. Apa gadis itu marah? Lalu, Amar kembali merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri. Memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Aku tahu kamu kecewa, tapi tolong, bantu aku membuktikan padanya bahwa kita tidak terpisahkan. Aku mencintaimu, Rani. Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berniat memisahkan kita, terkecuali kamu sendiri yang tidak menginginkanku," lirih Amar dalam keadaan memeluk istrinya.


Rani melepaskan pelukan itu, ia pun tidak ingin pernikahannya gagal. Pernikahan adalah hal yang sakral, bila tidak ada pengkhianatan ia akan mempertahankannya. Apa lagi, ia pun merasa nyaman akan sikap suaminya yang selalu lembut padanya.


Rani menangkup kedua pipi suaminya, ia menempelkan hidung dan keningnya meski harus berjinjit.


"Buat aku lebih mencintaimu dan percaya bahwa kamu memang layak untuk aku perjuangkan."


"Tentu, aku akan membuktikan semua ucapanku."


Karena merasa sudah mendapat signal dari istrinya, ia rasa ini waktunya menjadikan Rani miliknya seutuhnya. Amar menggendong tubuh Rani ala bridel style. Ia merebahkannya di atas kasung king size miliknya. Mengungkung tubuh mungil itu, tatapan kembali beradu.


Napas terhembus sampai di wajah masing-masing. Lama semakin lama, keduanya kembali menempelkan bibirnya. Kali ini keduanya memburu dengan na*su. Merasa ada balasan yang dari sang istri, ia tak mempedulikan akan pertentangan dari mamanya. Rani istrinya, gadis ini berhak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkannya.


Ia akan menjadikan Rani wanita yang paling bahagia. Karena ia yakin, jika ia bahagia, orang tua pun pasti akan ikut bahagia.


"Mas," lenguh Rani. Pria itu sudah menjalar di bagian buah rawan miliknya.


Entah sejak kapan pakaian mereka terlepas, saking excited-nya hampir tak menyadarinya. Mereka sudah berlindung di bawah selimut, selimut yang membuat Rani begitu nyaman dan hangat. Percintaan keduanya dimulai.


Pria itu terus bermain dengan gunung kembar milik Rani, hingga ujungnya mengeras dan menantang. Lidah bermain lembut di pucuk itu, membuat Rani semakin menggelinjar hingga bagian bawahnya semakin terasa lembab.

__ADS_1


Entah apa lagi yang dilakukan Amar pada Rani, wanita itu semakin dibuat mabuk kepayang. Jari jemari Amar bermain lincah di bawah sana.


"Ah ... Mas." Rani menjambak rambut suaminya, merasak kenikmatan yang hakiki.


__ADS_2