Berbagi Cinta: Berbagi Suami

Berbagi Cinta: Berbagi Suami
Bab 63


__ADS_3

Rani mengernyitkan keningnya sambil menatap ke arah orang yang memanggil suaminya. Gadis cantik yang terlihat modis itu mendekat ke arahnya. Senyumnya terus tersimpul ke arah Amar, sampai di mana, gadis itu mendudukkan diri dan bergabung dengan pengantin baru itu.


Rani terlihat begitu kesal kala melihat sok dekatnya mereka.


"Sampai gak kenal aku melihatmu," kata Amar. "Kapan balik dari London?" tanya Amar.


"Minggu kemarin," jawab gadis yang bernama Carla.


Keduanya sedikit bercengkrama di sana, Amar sampai anteng berbicang dengan teman lamanya itu. Ia sampai lupa ada Rani di sana. Rani terlihat kesal melihatnya. Ia pun berdehem mengalihkan pembicaraan suaminya dengan gadis itu.


"Ehem, lupa ada aku di sini!" celetuk Rani.


Amar yang mendengar langsung menoleh. Ia meraih tangan istrinya untuk menenangkannya. Siapa yang tak cemburu melihat sang suami berbincang dengan wanita lain? Bahkan di depan mata.


"Oh iya, kenalin. Ini Rani, istriku," kata Amar, "dan ini Ayah mertuaku," sambungnya lagi.


Carla nampak terkejut mendengar penuturan Amar.


"Istri? Sejak kapan Amar menikah? Kenapa Tante Mirna gak bilang?" Wajah Carla terlihat tidak suka, bagaimana tidak, mamanya Amar mengatakan bahwa anaknya belum menikah tapi kenyataannya, teman lamanya itu sudah menikah.


"Sayang, dia ini teman Mas kuliah dulu," jelas Amar.


"Oh ..." jawab Rani datar.


"Iya, kenalin. Aku Carla, teman DEKATnya Amar." Carla menekankan kata 'dekat' diucapannya.


"Bukan pacar 'kan?" tanya Rani.


Carla langsung mati kutu, ia tak bisa mengelak. Karena hubungannya dengan Amar memang hanya sekedar teman tidak lebih, Amar hanya menganggap teman walau ia menyadari bahwa Carla memperlihatkan perhatiannya padanya.


Tidak ingin dipermalukan, Carla pun pamit dengan sejuta sesak di dadanya. Ia sendiri kembali untuk menemui teman lamanya itu, ia mendengar kabar bahwa Amar batal tunangan dengan janda yang bernama Zia. Dan ia dapatkan kabar itu dari mamanya Amar.


"Amar, aku pamit ya? Ada urusan." Kata Carla sambil beranjak. "Lain kali kita bisa bertemu lagi," sambungnya kembali.

__ADS_1


"Bagus deh, pergi sana. Ngilangin selera makan saja," gerutu Rani pelan.


"Apa? Kamu ngomong apa barusan?" tanya Amar.


"Tidak! Lagian ngomong apa?" kesal Rani.


"Sudah-sudah, lanjut makan," timpal Kusno.


"Cemburu ya?" Amar membisikannya di telinga istrinya.


Rani menatap suaminya dengan jengan.


"Siapa yang cemburu? Perasaanmu saja!" Nada Rani terdengar sangat ketus.


Tahu sipat istrinya seperti apa, Amar tak mempermasalahkannya lagi. Meski belum mengenalnya tapi ia tahu bahwa selama ini sikap Rani memang selalu jutek padanya.


Acara makan berlanjut sampai selesai, Tapi Rani masih terlihat kesal. Nampak jelas bibirnya mengerucut. Amar yang melihat sedikit menyimpulkan senyumannya di bibirnya, ia tahu kalau istrinya cemburu. Hanya saja gadis itu malu untuk mengakuinya. Wanita mana pun tak akan melepaskan pria seperti Amar.


Pria itu memperlihatkan kepeduliannya pada istrinya, dan Rani menyadari itu. Ia pun tak ingin menyia-nyiakan lelaki seperti suaminya. Tapi yang jadi masalahnya, ia belum tahu siapa suaminya. Hari ini saja sudah ada gadis yang begitu dekat suaminya, lantas besok akan ada kejutan apa lagi?


"Rani, ayok kita pulang?" ajak Kusno.


Karena melamun, gadis itu sampai tak menyadari kalau suaminya sudah membayar semua makanannya bahkan semua tunggakkannya.


"Masih betah di sini?" Pertanyaan dari suaminya, Rani baru tersadar.


Tanpa menjawab, gadis itu langsung beranjak hendak menyusul ayahnya yang lebih dulu ke tempat parkir menuju mobil. Rani terus berjalan sampai Amar sedikit berlari menyusul istrinya.


"Hey, kamu kenapa? Sejak bertemu dengan Carla, kamu berubah. Percaya, dia itu temanku. Tidak ada hubungan spesial di antara kami," jelas Amar.


Rani menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah suaminya. Mereka saling tatap.


"Aku belum bisa percaya, karena kita belum lama saling mengenal." Setelah mengatakan itu, Rani kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Dan Amar, ia tak bisa menjelaskan apa-apa lagi. Karena percaya pada seseorang itu memang butuh waktu, dan ia memaklumi itu.


"Aku akan membuktikannya, Rani. Aku serius dengan pernikahan ini, dan aku perlu mengajakmu menemui keluargaku."


***


Rani terus melamun, padangannya terlihat kosong. Entah apa yang ada dalam pikirannya itu, yang jelas ia merasa takut sendiri dengan pernikahan ini. Ia hanya berharap semoga suaminya itu benar mencintainya dan tak akan menyakitinya.


Amar ingin sekali bicara serius dengan Rani, tapi untuk sekarang tidak memungkinkan karena ada ayah mertuanya bersamanya. Tak ada percakapan di antara mereka, di dalam mobil itu nampak sunyi. Menghilangkan kesunyian, Amar pun menyetel sebuah lagu romantis.


Mendengar lagu itu, Rani pun sedikit menoleh pada suaminya. Lalu ia kembali menatap jalan yang dilaluinya. Hingga sampailah mereka di rumah Rani. Sesampainya di sana, Rani langsung turun, baru saja menginjakkan kakinya, ia sudah mendapati para tetangga yang mulai bergosip akan dirinya.


"Bu, kalau mau punya mantu orang kaya, coba deh anak Ibu kaya si Rani. Dia pinter cari mangsa," celetuk ibu-ibu yang sedikit iri akan pernikahan Rani. Mereka bisa tahu siapa yang menikah dengan Rani. Dari mobilnya saja mereka bisa tahu kalau Amar orang kaya.


Geram mendengar omongan para tetangga, Rani langsung menghampiri.


"Bu, kalau bicara jangan asal. Saya tidak bisa memilih siapa yang menjadi jodoh saya, salah kalau saya menikah dengan orang kaya?" Setelah mengatakan itu, Rani langsung kembali ke rumah dan segera masuk.


Hari ini sudah membuatnya kesal. Ketemu teman lama suaminya, omongan para tetangga semakin menjadi. Lalu, ia sekarang harus apa? Setibanya di dalam, Rani langsung membersihkan diri. Semoga dengan mandi, otaknya bisa lebih fres dan menghilangkan kekesalannya.


Ayah Rani pun sudah tak nampak, entah langsung kemana pria itu. Yang jelas, Amar tak melihat keberadaannya. Yang ia lihat, Rani menenteng sebuah handuk.


"Aku juga gerah, ikut mandi boleh?" Pertanyaan Amar membuat Rani terhenti.


Gadis itu langsung ketakutan, takut suaminya meminta haknya.


"Ya, Tuhan ... Cobaan apa lagi ini?" Kesal tadi saja belum hilang, sekarang malah ditambah lagi dengan suaminya yang ingin ikut mandi bersamanya.


Melihat ekspresi Rani, Amar langsung menciut. Bukan takut, ia hanya tak ingin membuat istrinya marah. Ia pun mengurungkan niatnya.


"Aku hanya becanda," kata Amar.


"Mungkin ini memang belum saatnya, tapi lihat saja nanti. Aku akan membuatmu jatuh ke pelukkanku, dan akan membuatmu ketagihan." Membayangkannya saja Amar jadi senyum-senyum sendiri akan hal itu. Mungkin akan merasa lucu, gadis polos seperti Rani pasti belum punya pengalaman.

__ADS_1


Rani bergidik ngeri melihat suaminya senyum-senyum sendiri. Ia pun langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan suaminya.


__ADS_2